Webinar spesial dengan tema “Perempuan Bicara Diplomasi Pertanian. Foto: Dok. IPB
Webinar spesial dengan tema “Perempuan Bicara Diplomasi Pertanian. Foto: Dok. IPB

Dewan Guru Besar IPB Undang Para Perempuan Bicara Diplomasi Pertanian

Pendidikan Hari Kartini Perempuan Guru Besar IPB
Citra Larasati • 22 April 2022 14:11
Jakarta:  Dalam rangka memperingati Hari Kartini, Dewan Guru Besar (DGB) IPB University menyelenggarakan webinar spesial dengan tema “Perempuan Bicara Diplomasi Pertanian", Kamis, 21 April 2022. Ketua DGB IPB University, Evy Damayanti dalam sambutannya mengatakan Hari Kartini menjadi pengingat pentingnya kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di Indonesia.
 
Menurutnya, Indonesia masih menempati posisi ke-103 dari 162 negara untuk kesetaraan gender. Bahkan posisi Indonesia di ASEAN juga tidak terlalu menggembirakan, yaitu terendah ketiga. 
 
“Oleh karena itu, kami merasa perlu untuk melakukan upaya yang positif, seperti webinar ini untuk menunjukan kiprah perempuan khususnya dalam diplomasi pertanian,” katanya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menambahkan, parameter yang menunjukkan kiprah perempuan di berbagai sektor penting masih perlu didorong. Tujuannya agar terjadi peningkatan yang signifikan atas keterwakilan perempuan dalam berbagai posisi penting di pemerintahan, akademisi maupun swasta.
 
Ina Hagniningtyas Krisnamurthi, Duta Besar RI untuk India dan Bhutan mengatakan diplomasi pertanian setidaknya menghadapi tiga isu penting, yakni ekonomi-politik, lingkungan dan tekanan domestik internasional serta hubungan aktor negara dan non negara.  “Webinar ini bisa menjadi contoh diplomasi ekonomi tersebut. Dan bahwa fokus pada perempuan sebagai salah satu elemen dalam bidang pertanian dan diplomasi pertanian memiliki nilai yang sangat penting dalam dinamika hubungan internasional,” terangnya.
 
Menurutnya, sektor pertanian khususnya komoditas pertanian tidak hanya dilihat dari isu ekonomi namun juga isu politik. Pandemi Covid-19 diperkuat dengan konflik Ukraina-Rusia membuat dinamika ekonomi global, terlebih di sektor pertanian, menjadi tidak pasti.
 
Diplomasi di sektor pertanian tidak bisa lagi hanya dilihat dari sisi persaingan ekonomi. Tetapi juga kekuatan politik negara-negara yang ujungnya adalah melindungi kepentingan negara masing-masing.
 
Ia mengatakan, bahwa di tengah dinamika global saat ini, diplomasi pertanian berbasis kegiatan ekonomi tradisional seperti ekspor, impor, dan investasi, ini masih belum cukup.  “Di tengah ketidakpastian global saat ini, diplomasi pertanian dan diplomasi secara umum adalah suatu upaya mendorong kerjasama yang harus bersifat out of the box bahkan kalau perlu without a box,” tegasnya.
 
Ia mengatakan, jutaan petani kecil bergantung pada upaya Indonesia berkolaborasi dengan negara lain agar tidak kehilangan pendapatan. Ketahanan pangan ratusan juta penduduk Indonesia juga bergantung pada kegiatan pertanian yang berkelanjutan. Perempuan memiliki keterampilan dan perspektif unik agar bisa sebagai pembangun kepercayaan antarpihak dalam penguatan hubungan bilateral ini.
 
“Perempuan memiliki kelebihan dalam soft power diplomacy yang mengedepankan pendekatan dialog dan negosiasi untuk menyelesaikan masalah. Saya yakin bila semakin banyak perempuan berkiprah di pertanian termasuk diplomasi pertanian maka Indonesia akan lebih maju dan lebih sejahtera,” tutupnya.
 
Prof Dodik Ridho Nurrochmat, Wakil Rektor Bidang Internasionalisasi, Kerjasama dan Hubungan Alumni IPB University juga berpendapat bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam menguatkan diplomasi pertanian di Indonesia. Perempuan memiliki kekuatan alami dan kelebihan dalam hal soft diplomacy dibanding laki-laki. 
 
“Saya percaya dengan kapasitas perempuan Indonesia yang mumpuni dalam melakukan diplomasi yang baik,” ujarnya.
 
Dalam kesempatan tersebut, turut hadir perempuan-perempuan perkasa yang telah menyumbangkan ilmu dan kepakarannya bagi Indonesia. Yakni Prof Aida Vitayala Sjafri Hubeis, Guru Besar Fakultas Ekologi Manusia IPB University.
 
Ia berbagi pengalamannya terkait diplomasi dalam konteks komunikasi sosial. Ia menyebutkan kemampuan komunikasi verbal dan non verbal sangat penting dalam suatu negosiasi proyek.
 
Baca juga:  Kartini Masa Kini: Dosen Undip yang Gencar Teliti Kambing
 
Hal ini telah ia lakukan di depan tujuh menteri ketika menjabat sebagai Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan kepada Masyarakat di IPB University 20 tahun lalu.  “Kemampuan komunikasi yang efektif dan asertif dapat ‘menggolkan’ program aksi pemberdayaan tani di tengah krisis ekonomi pada waktu itu,” ujarnya.
 
(CEU)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif