"Sudah sangat penting screening depresi pada setiap anak saat ini," kata Komisioner KPAI, Sitti Hikmawatty di Kantor KPAI, Jakarta Pusat, Kamis, 30 Januari 2020.
Lebih lanjut Hikmah mengungkapkan, ada beberapa depresi yang ditimbulkan berdasarkan masalah klinis, sehingga orang tidak sadar bahwa dirinya memiliki permasalahan. Salah satunya depresi karena bipolar.
"Ini yang beberapa kita lihat, misalnya belum berani menyimpulkan ketika seseorang mengatakan bunuh diri sambil tertawa tentu itu sebuah keanehan, posisi sedang ketakutan, kegundahan, kegalauan bukan tertawa-tawa. Tapi ini dimungkinkan pada mereka yang mengalami kasus bipolar," jelasnya.
Memang depresi klinis sulit untuk dideteksi. Karena itulah perlu ada deteksi dini secara komprehensif dan dilakukan pihak yang kompeten.
"Perlu ada pertolongan tidak hanya orang awam, melibatkan medis untuk pembenahan. Karena itu kami sepakat screening seberapa jauh potensi bunuh diri," jelasnya.
Sementara itu Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti menjelaskan sebagai awal, deteksi dini dilaksanakan saat siswa baru diterima masuk sekolah. Mulai dari SD sampai SMA.
"Ada data keluarga melihat per kelas, anak yatim misalnya, atau piatu, atau ayah ibu cerai tinggal dengan tantenya, neneknya atau salah satu orang tua artinya ada ketidakutuhan, itu menjadi target," jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News