Peserta Tes Offline OSC Medcom.id 2019, Yudha Adi Putra. Foto: Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo
Peserta Tes Offline OSC Medcom.id 2019, Yudha Adi Putra. Foto: Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo

Perjuangan Peserta OSC dari Desa Tak Berinternet

Pendidikan beasiswa osc Pendidikan Tinggi
Kautsar Widya Prabowo • 19 Desember 2019 15:50
Jakarta:Berburu beasiswa menjadi langkah yang banyak ditempuh pelajar yang terkendala biaya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Salah satunya perjuangan yang ditunjukkan oleh pelajar bernamaYudha Adi Putra.
 
Ia rela menempuh puluhan kilometer dari desanya yang belum terakses internet, untuk mengikuti rangkaian seleksi beasiswa Online Scholarship Competition (OSC) Medcom.id 2019. Jarak dan waktu tidak lagi menjadi penghalang bagi putra minang itu untuk mewujudkan masa depan gemilang. Siswa Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Suliki, Sumatra Barat, ini antusias untuk berangkat ke Jakarta, mengikuti tes offline beasiswa OSC Medcom.id.
 
Yudha menjadi satu dari 1.470 peserta yang lolos hingga ke tahap akhir seleksi OSC 2019. Upaya panjang dan tekad yang bulatmembuatnya berhasil mengalahkan tiga dari lima teman sekolahnya hingga menembus tahap tes offline yang digelar di Velodrome, Rawamangun, Jakarta Timur ini.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Saat ditemui Medcom.id, Yudha bercerita bahwa jalan terjal harus dilalui untuk bisa mengikuti tes offline ini. Penuh aral melintang, terlebih lagi di kampung halamannya, Tanjuang Bungo, Suliki, Sumbar. Akses internet belum mampir ke sana.
 
Yudha harus menempuh perjalanan tujuh kilometer untuk tiba di pusat Kecamatan Suliki. Sebab, hanya di kecamatanlah ia baru bisa mendapat sinyal internet yang menjadi salah satu syarat untuk dapat mengikuti proses seleksi awal beasiswa OSC.
 
OSC Medcom.id merupakan ajang beasiswa online pertama dan terbesar di Indonesia. Sistem daring memang diterapkan sejak awal pendaftaran hingga tes online pertama di OSC.
 
Dengan sistem daring, OSC menawarkan kemudahan bagi anak Indonesia di seluruh Indonesia untuk mengikuti kompetisi beasiswa tanpa harus hadir secara fisik datang di kampus idaman yang diincarnya.
 
Tidak hanya pendaftaran dan tes tahap awal, dalam tahap pemberkasan juga peserta OSC dipermudah. Cukup dengan mengirimkan syarat-syarat administrasi yang dibutuhkan melalui surat elektronik. Namun, sistem daring ini memang mewajibkan peserta untuk terhubung dengan jaringan internet.
 
Sayangnya, kata Yudha, di sekitar tempat tinggalnya itu pun jarang ditemukan penjual paket data. Alhasil, ia harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli paket data di pusat kota.
 
"Kalau dari rumah ke pusat kota 20 kilometer. Saya beli kuota untuk (tes) OSC, persiapan dan tes cukup Rp25 ribu. Ongkos sekitar Rp30 ribu. Di rumah saya belum ada tower internet," ujar Yudha kepada di Velodrome, Rawamangun Jakarta Timur, Jumat, 19 Desember 2019.
 
Perjuangan itu pula yang sempat membuat kedua orang tuanya ragu melepas putranya ke Jakarta untuk mengikuti seleksi tahap akhir ini. Namun, dengan segala bujuk rayunya, Yudha akhirnya dapat meyakinkan kedua orang tuanya dengan dalih pria Minang harus berani merantu.
 
Akhirnya kedua orang tuanya mau membiayai segala akomodasi dari kampung halamannya menuju ke Jakarta.Angkutan bus antarprovinsi menjadi pilihan Yudha untuk menghemat biaya menuju Jakarta. Tarif bus umum terbilang ramah dibandingkan jika ia memilih pesawat terbang.
 
"Perjalanan Sumbar (Sumatera Barat) kalau naik pesawat satu jam setengah harganya Rp1,3 juta. Kalau naik bus meski harus menempuh waktu dua hari tiga malam, tapi harganya Rp400 ribu. Saya pilih untuk naik bus," terangnya.
 
Di OSC, Yudha memutuskan memilih Universitas Multimedia Nusantara (UMN) untuk mewujudkan cita-citanya. Ia juga membawa misi tersendiri, tak hanya gelar yang akan memperpanjang namanya.
 
"Yang saya suka dari UMN, kampus ini sangat maju dalam mempraktikkan energi terbarukan, saya harapkan kalau saya lulus dari sana bisa membantu di desa saya," tutur peserta OSC yang memilih jurusan Teknik Fisika UMN ini.
 
Lebih lanjut, Yudha saat ini tengah berharap-harap cemas atas perjuangannya. Apakah harus kembali berhenti di titik ini (tes offline) atau menjadi bagian 420 penerima Beasiswa OSC 2019.
 
Namun, apapun hasilnya, Yudha mengaku siap kalaupun harus menelan pil pahit dari OSC. sebab kegagalan bukan hal baru baginya, Juni lalu ia juga sempat gagal lolos Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2019.
 
Kendati demikian, kegagalan di SBMPTN itu justru yang membuatnya dapat melaju sejauh ini, hingga seleksi tahap akhir di OSC. Ke depan ia akan selalu menjadikan setiap proses kegagalan menjadi bagian dari batu pijakan menuju kesuksesan hidup di masa depan.
 
"Pengalaman adalah guru yang terbaik, di sini cari pengalaman, kalau nanti di sini enggak lolos ya hitung-hitung tambah pengalaman, perluas pergaulan," tegasnya.
 
Sebanyak 1.470 pelajar dari berbagai daerah di Indonesia memadati Velodrome, Rawamangun, Jakarta Timur, lokasi digelarnya tes offline Online Scholarship Competition (OSC) Medcom.id 2019 sejak 06.30 WIB. Ribuan siswa yang hadir mengenakan seragam sekolahnya masing-masing itu merupakan siswa yang lolos ke tahap akhir seleksi beasiswa yang juga disponsori Fajar Paper ini.
 
Sejak pagi ribuan siswa tersebut berangsur masuk ke dalam Velodrome dan langsung memecah saat memasuki bangunan seluas 9,5 hektare itu, untuk melakukan registrasi di masing-masing stan kampus pilihan mereka. Setelah melaksanakan tes offline, 420 nama siswa peraih beasiswa OSC akan langsung diumumkan pada Awarding Night yang digelar malam ini di lokasi yang sama.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif