Tim E-FALS, Medcom.id/Daviq Umar Al Faruq.
Tim E-FALS, Medcom.id/Daviq Umar Al Faruq.

Mahasiswa UB Buat Alat Bantu Komunikasi Penderita ALS

Pendidikan Pendidikan Tinggi Riset dan Penelitian
Daviq Umar Al Faruq • 25 Maret 2019 16:30
Malang:Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB), Malang, Jawa Timur menciptakan sebuah alat yang dapat digunakan sebagai alat bantu komunikasi bagi penderita Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS). Teknologi tersebut dinamakan Electrooculography for Amyotrophic Lateral Sclerosis (E-FALS).
 
Alat ini dibuat oleh tiga mahasiswa angkatan 2016 Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) UB. Mereka adalah Axel Elcana Duncan (Teknik Komputer), Muhajir Ikhsanushabri (Teknik Komputer) dan Rachmalia Dewi (Teknik Informatika).
 
Salah satu anggota tim E-FALS, Axel Elcana Duncan menjelaskan ALS merupakan penyakit saraf degeneratif yang mengakibatkan semua gerakan refleks atau spontan pada otot mengalami kelumpuhan progresif.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"ALS umumnya ditandai dengan adanya degenerasi atau kemunduran secara bertahap yang menghasilkan kematian sel-sel saraf di otak dan sumsum tulang belakang," katanya.
 
Axel menjelaskan, kemunduran pada penderita ALS ini dapat menyebabkan kehilangan kendali pada otot dan mengalami kelumpuhan. Sehingga otot penderita tidak mampu untuk menggerakkan bibir dalam melakukan komunikasi secara langsung.
 
Baca:Terbitkan Jurnal Ilmiah Dosen UB Diganjar Rp25-100 Juta
 
Salah satu penderita ALS yakni ilmuwan kenamaan asal Inggris, Stephen Hawking. Dia meninggal dunia pada Rabu, 14 Maret 2018 lalu dan menjadi satu-satunya orang yang mengidap penyakit ALS serta berhasil bertahan hidup hingga usia 76 tahun. Penyakit ALS sendiri diidap Stephen Hawking sejak berusia 21 tahun.
 
Berdasar dari latar belakang tersebut, Axel dan teman-temannya menciptakan E-FALS untuk membantu komunikasi penderita ALS. E-FALS dibuat menyerupai kacamata dan memanfaatkan sistem Electrooculography (EOG) agar dapat membaca pergerakan bola mata dan mengenali karakter yang ditulis dari pergerakan tersebut.
 
"Hasil dari sistem ini dapat berupa tulisan yang ingin disampaikan oleh penderita ALS untuk kemudian dikirimkan ke aplikasi E-FALS di android pengguna lain," bebernya.
 
Selain itu, E-FALS juga memiliki dua fitur unggulan lainnya. Pertama fitur tambahan untuk memudahkan penderita ALS dalam mengirimkan pesan darurat ke rumah sakit tertentu dalam jaringan E-FALS.
 
Baca:Mahasiswi UB Jadi Finalis Puteri Indonesia 2019
 
Kedua adalah fitur untuk mengetahui perkembangan dari otot mata penderita ALS secara berkala melalui grafik yang menunjukkan peningkatan atau penurunan kerja otot pada mata penderita ALS.
 
“Sebetulnya alat serupa sudah ada tapi harganya sangat mahal. Dengan E-FALS ini bisa lebih terjangkau harganya sehingga harapannya bisa dimanfaatkan oleh penderita ALS secara lebih meluas,” jelas Axel.
 
Di sisi lain, E-FALS telah membawa Axel beserta timnya meraih juara III dalam kompetisi Technology Imagine (Technogine) 2019 yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Fisika, Universitas Telkom pada akhir Februari 2019 lalu.
 
Namun, tak ingin hanya berpuas diri sampai disitu saja, Axel kemudian mengembangkan fungsi E-FALS. Hasilnya, alat ini tidak sekedar mampu untuk berkomunikasi saja tetapi juga untuk menggerakkan kursi roda.
 
Dalam pengembangannya, Axel menggandeng dua rekan yang berbeda yaitu Titus Christian (Teknik Informatika) dan Kezia Amelia Putri (Teknik Komputer) dengan dibimbing oleh dosen Dahnial Syauqy ST MT MSc.
 
Pengembangan fungsi ini kemudian juga membuat E-FALS meraih predikat karya terbaik ketiga dalam kompetisi Technocorner 2019, 9-10 Maret 2019 lalu. "Kami akan terus mengembangkan karya ini hingga kemudian benar-benar dapat digunakan oleh para penderita ALS," pungkasnya.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif