Alfian Edgar Tjandra (tengah), siswa Kharisma Bangsa yang berhasil menembus Harvard University, diapit oleh Kepala Sekolah Kharisma Bangsa (kanan) Imam Husnan Nugroho, dan Okan Celiker (GM Kharisma Bangsa), Medcom.id/Citra Larasati.
Alfian Edgar Tjandra (tengah), siswa Kharisma Bangsa yang berhasil menembus Harvard University, diapit oleh Kepala Sekolah Kharisma Bangsa (kanan) Imam Husnan Nugroho, dan Okan Celiker (GM Kharisma Bangsa), Medcom.id/Citra Larasati.

Tembus Harvard Padahal Belajar Sambil Main Games

Pendidikan Pendidikan Tinggi
Citra Larasati • 09 April 2019 07:07
Jakarta:Jika artis muda berbakat, Maudy Ayunda sempat bingung karena harus memilih antara Harvard University dan Standford University, hal serupa juga dialami Alfian Edgar Tjandra, siswa kelas XII SMA Kharisma Bangsa.Tak tanggung-tanggung, ia berada di antara lima pilihan perguruan tinggi kelas dunia yang menerimanya secara bersamaan.
 
Kelima perguruan tinggi tersebut adalah Harvard University (Amerika), National University of Singapore, Nanyang Technological University (Singapura), Carnegie Mellon University (Australia), dan Waterloo University (Kanada).
 
Sejak masih duduk di kelas XII, Edgar telah mendaftarkan diri ke sejumlah universitas terbaik dunia, yang kebetulan pendaftarannya telah dibuka lebih dulu ketimbang pendaftaran mahasiswa baru di Indonesia. Ia sengaja membidik tidak hanya satu universitas.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Beberapa kampus sengaja ia lamar, untuk berjaga-jaga mengingat ketatnya persaingan menembus perguruan tinggi yang namanya sudah merajai papan atas lembaga pemeringkat perguruan tinggi kelas dunia.
 
Terlebih untuk calon mahasiswa internasional seperti dirinya, di sejumlah perguruan tinggi terutama di Amerika Serikat, kuota penerimaannya terhitung kecil. "Di Amerika itu calon mahasiswa internasional (luar Amerika) kuotanya hanya 10 persen, di Harvard itu kalau dihitung sekitar 150 mahasiswa internasional saja yang bisa diterima setiap angkatan," ungkapnya.
 
Usaha untuk mendapatkan kursi di perguruan tinggi kelas dunia itu pun harus melewati sejumlah tahapan yang tidak mudah. Sistem penerimaan mahasiswa baru di universitas luar negeri memang berbeda dengan Indonesia. Di mana saat ini, sebagian besar seleksi di Tanah Air hanya menggunakan ujian tulis.
 
Lain padang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya, menembus Harvard, kampus idaman yang akhirnya ia pilih misalnya, selain nilaiSAT (Scholastic Aptitude Test) dan TOEFL (Test of English as a Foreign Language),Edgar juga harus menyertakan sejumlah esai untuk diseleksi. SATadalah ujian standarisasi yang diciptakan oleh College Board.
 
Baca:Indonesia Tuan Rumah Olimpiade Komputer Internasional di 2022
 
"Beda-beda syaratnya tiap kampus. Kalau di Singapura relatif lebih simpel, kita tinggal mengantongi nilai tes SAT di atasscoreyang mereka mau, biasanya langsung diterima. Kalau di Amerika, nilai SAT tinggi bukan jaminan diterima, karena ada syarat esai itu tadi," kata Edgar.
 
Di Harvard, tema esai yang ditentukan pihak universitas biasanya tema-tema yang memiliki kemampuan untuk mengetahui personality calon pelamar. "Misalnya diuji dengan tema Apa Kegagalan Terbesarmu? atau apa persoalan terbesar di dunia menurut pandanganmu," sebut Kelahiran 3 April 2001 ini.
 
Harvard menantang Edgar untuk membuat tiga esai, salah satunya esai bertema tentang pengalaman kegagalan yang mampu membuat Edgar tidak menyerah, bahkan jutsru semakin termotivasi dan maju dalam hidup. Untuk tema ini, Edgar menjawab dengan sebuah esai yang terinspirasi dari kisah pendakiannya di Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).
 
Pada pendakian pertamanya, Edgar menceritakan, dirinya gagal mencapai puncak Rinjani. Baru pada pendakian di tahun berikutnya ia berhasil menaklukkan gunung tertinggi kedua di Indonesia itu. "Rinjani mengajarkan saya untuk pantang menyerah," terang bungsu empat bersaudara ini.
 
Rinjani turut mengantarkan Edgar menembus persaingan menuju universitas tertua di Amerika Serikat itu, tentunya selain mengantongi skor 1.510 (skala 1.600) untuk SAT dan skor TOEFL 110 sebagai "bekal" lainnya. "Esai cukup berperan, karena meski nilai SAT-nya sudah memenuhi syarat, tapi nilai saya (SAT) kan enggak tinggi-tinggi amat," terang Edgar yang ingin menekuni prodi Riset Komputer Sains di Harvard ini.
 
Portofolio Prestasi
 
Selain SAT, TOEFL dan esai, Edgar menambahkan portofolio prestasi akademik dan nonakademik juga menjadi bekal penting bagi siswa yang ingin mendaftar ke Harvard University. Untuk hal yang satu ini, Edgar cukup terbantu dengan segudang kejuaraan yang sudah ia menangkan sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).
 
Edgar memang bukan nama baru di dunia kompetisi sains, utamanya Matematika Tanah Air. Sejak SD ia sudah terbang ke India, untuk mengikuti International Mathematics and Science Olympiad. Di India, Edgar juga berhasil membawa pulang medali perak.
 
Prestasi kelas dunia tak berhenti sampai di situ, pada 2013 Edgar berhasil mengharumkan nama bangsa di Bulgaria, dan kembali membawa medali perak untuk olimpiade di bidang matematika. Kemudian di tahun berikutnya, medali perunggu ia bawa pulang dari Olimpiade Sains Nasional (OSN) matematika jenjang SMP. Berturut-turut di tahun berikutnya, mendapat perunggu di Asia Pasific Mathemartics Olympiad (APMO) Rumania, dan emas di OSN SMA bidang matematika.
 
Baca:13.525 Siswa Berebut Tiket OSN
 
Bidang matematika memang menjadi kegemarannya sejak kecil. Sejak kecil orangtua Edgar memperkenalkan Matematika dengan cara yang unik, yakni melalui beragamgames.
 
"Saya pernah belajar di Kumon, hanya bertahan enam bulan, lalu saya keluar. Saya tidak suka belajar matematika dengan cara terus-terusan berlatih soal, tapi dengan cara menyenangkan seperti games. Dalam games nalar kita diasah, distimulasi untuk bernalar dan menyelesaikan masalah melalui matematika," papar siswa kelahiran Jakarta ini.
 
Tidak hanya dukungan orangtua, Edgar menyebut pihak sekolah Kharisma Bangsa turut berperan besar dalam capaian-capaian prestasi akademik dan nonakademik yang ia raih selama ini. Menurut Edgar, ia bahkan sengaja pindah ke Kharisma Bangsa karena direkomendasikan seorang teman yang juga memiliki rekam jejak prestasi segudang.
 
"Kharisma Bangsa adalah sekolah yang sangat mendukung dan memfasilitasi siswanya untuk berprestasi. Sekolah kami bahkan memiliki Olympiad Camp, wadah untuk mempersiapkan siswa-siswa yang akan mengikuti olimpiade.
 
Kepala Sekolah Kharisma Bangsa, Imam Husnan Nugroho menyampaikan, salah satu kelebihan sekolahnya adalah memiliki standar proses pembelajaran yang mampu melahirkan lulusan yang siap menembus persaingan global. "Jadi siswa kita siapkan untuk terbuka wawasannya, termasuk potensi untuk belajar di luar negeri," terang Imam.
 
Tidak hanya secara wawasan, Kharisma Bangsa juga mewajibkan setiap siswa untuk mengikuti tes SAT saat mereka duduk di kelas 1 atau X SMA. "Jadi mereka selalu siap jika ingin melamar ke universitas di luar negeri, utamanya US (United States)," ujar dia.
 
Sertifikat kemampuan bahasa Inggris pun disiapkan dalam dua versi, yakni sertifikat Cambridge dan TOEFL. "Dengan dua sertifikat itu membantu mereka untuk semakin mudah menembus perguruan tinggi di dalam maupun luar negeri," sebut Imam.
 
Begitu juga memfasilitasi siswa untuk mengikuti berbagai kompetisi akademik maupun nonakademik. Sebab bagi Imam, portofolio prestasi akademik maupun nonakademik tidak bisa dibangun secara instan.
 
"Kami merekomendasikan, portofolio sudah dibangun sejak kelas VIII SMP, SAT sudah bisa diberikan di kelas X atau XI. Dengan semua upaya itu, 18 persen lulusan Kharisma Bangsa berhasil menembus universitas-universitas di luar negeri, salah satunya Edgar," seru Imam.
 
Melalui Edgar, Imam akan memetik banyak pelajaran tentang apa-apa saja yang harus dipersiapkan sekolah agar semakin banyak lagi lulusan Kharisma Bangsa yang mengikuti jejak Edgar. "Meski 18 persen lulusan kami di terima di perguruan luar negeri, tapi di Harvard, Edgar adalah yang pertama," tutup Imam.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif