Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Jalan Chairil Anwar Mengenal Dunia Sastra

Ilham Pratama Putra • 01 Januari 2022 09:02
Jakarta: Chairil Anwar telah dianggap sebagai pelopor sastrawan angkatan 45 karena telah berjasa terhadap pembaruan puisi-puisi di Indonesia. Bahkan hari kematiannya pada 28 April 1949 diperingati setiap tahunnya sebagai hari puisi nasional.
 
Chairil Anwar merupakan anak tunggal dari pasangan Teoloes bin Haji Manan dan Saleha atau biasa dipanggil Mak Leha. Kedua orang tuanya berasal dari Payakumbuh, Sumatera Barat. Ayahnya adalah seorang mantan bupati Kabupaten Indragiri Riau.
 
Chairil Anwar juga memiliki pertalian keluarga dengan Sutan Sjahrir. Chairil Anwar adalah keponakan dari Sutan Sjahrir.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sjahrir menjadi gerbang bagi Chairil untuk mengenal sastra dunia. Chairil banyak mengenal sastra dunia ketika tinggal di rumah Sjahrir.
 
Baca: Sastrawan Indonesia Akan Jadi Kandidat di Ajang Nobel Sastra
 
Di perpustakaan pribadi Sjahrir, ia membaca koleksi buku sastra Belanda dan penyair Eropa, seperti Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slauerhoff, dan Edgar du Perron.
 
Menurut Sjahrir, sastrawan harus mempelajari kehidupan rakyat dan mengenalnya lebih dekat. Chairil terpengaruh dengan hal itu, lalu hidup di antara kaum intelektual dan rakyat jelata.
 
Chairil bergaul dengan tokoh-tokoh besar bangsa, hingga pegiat seni ternama. Chairil sering juga bergaul dengan rakyat jelata dan mengikuti kegiatannya secara langsung. Hal ini dilakukan untuk mengambil bahan, bahasa, dan inspirasi dalam menulis sajak-sajaknya.
 
Chairil sendiri ternyata sudah mulai menulis sajak sejak usianya 20 tahun pada tahun 1942. Chairil Anwar memulai kariernya dengan menciptakan sajak berjudul “Nisan” karena kematian neneknya.
 
Ia terus menulis hingga akhir hayat (1949). Pada tahun 1949, Chairil menulis enam buah sajak, yaitu “Mirat Muda”, “Chairil Muda”, “Buat Nyonya N”, “Aku Berkisar Antara Mereka”, “Yang Terhempas dan Yang Luput”, “Derai-Derai Cemara”, dan “Aku Berada Kembali”.
 
 

Selama rentang waktu enam setengah tahun dari 1942 sampai 1949. Chairil Anwar tercatat telah menghasilkan karya yang jumlahnya sekitar 90-an.
 
Soal pendidikan Chairil yang hidup pada masa penjajahan Belanda, bersekolah di tempat yang menggunakan bahasa asing. Pendidikan sekolah dasar Chairil Anwar ditempuh di Hollands-Inlandsche School (HIS), Medan.
 
Untuk tingkat SMP  Chairil Anwar bersekolah di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Pendidikannya di MULO Medan tidak tamat, Chairil hanya sampai kelas satu.
 
Saat Chairil pindah ke Jakarta, ia melanjutkan sekolahnya di MULO Jakarta. Di Jakarta, ia hanya melanjutkan pendidikannya sampai kelas dua. Setelah itu, Chairil belajar secara mandiri atau autodidak.
 
Chairil sudah membaca buku-buku HBS (Hogere Burger-School) atau setara SMA, walaupun ia masih mengenyam pendidikan di MULO. Chairil gemar mempelajari berbagai bahasa, ia belajar bahasa Belanda, bahasa Inggris, dan bahasa Jerman.
 
Dari hasil mempelajari bahasa-bahasa itu, ia dapat membaca dan mempelajari karya sastra dunia yang ditulis dalam bahasa asing maupun menerjemahkan beberapa sajak dari luar negeri. Diantaranya  menerjemahkan sajak R.M. Rilke (Jerman), H. Marsman (Belanda), E. du Perron (Belanda), dan J. Slauerhoff (Belanda), Nietzsche (Jerman), John Cornford (Inggris), Hsu Chih Mo (Cina), Conrad Aiken (Amerika), dan W.H. Auden (Amerika).
 
(AGA)
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif