Ilustrasi/Medcom.id
Ilustrasi/Medcom.id

Sastrawan Indonesia Akan Jadi Kandidat di Ajang Nobel Sastra

Achmad Zulfikar Fazli • 21 Desember 2021 00:25
Jakarta: Komunitas puisi esai diundang panitia nobel, Swedish Academy. Mereka diminta mencalonkan kandidat untuk nobel sastra.
 
"Bulan desember 2021, komunitas puisi esai secara resmi diundang panitia nobel, Swedish Academy, Nobel Committee, untuk mencalonkan sastrawan Indonesia," kata koordinator pelaksana komunitas puisi esai Indonesia, Irsyad Mohamad, dalam keterangan tertulis, Senin, 20 Desember 2021.
 
Menurut Irsyad, menjadi kandidat ajang nobel sastra tidak bisa sembarangan. Publik tidak bisa mencalonkan sendiri.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pencalonan publik atau siapa pun secara otomatis didiskualifikasi. Hanya undangan panitia nobel yang sah mencalonkan. Panitia nobel memiliki kriteria siapa yang diundang untuk mencalonkan kandidat nobel sastra.
 
"Karena itulah komunitas puisi esai kini merasa bersyukur  (bisa diundang)," ucap dia.
 
Baca: Putu Fajar Arcana: Kritik Sastra Sempat Meredup Sejak Tahun 90-an
 
Irsyad menduga empat hal yang membuat panitia nobel Swedia mengundang komunitas puisi esai. Pertama, mereka menyadari Indonesia dan Asia Tenggara adalah wilayah yang kaya dengan dunia seni. Selama ini mungkin ada keterbatasan bahasa, sehingga wilayah ini belum pernah mendapatkan hadiah nobel sastra.
 
Kedua, komunitas puisi esai termasuk beruntung. Komunitas memiliki web yang lebih dari seratus karya puisi esai dalam bentuk buku dan video yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Setidaknya, ada subtitle Inggris pada video atau film puisi esai.
 
"Swedish Academy, the Nobel Committee tanpa rintangan bahasa dapat membaca atau menonton puluhan karya puisi esai dalam bahasa Inggris," ujar dia.
 
Ketiga, puisi esai makin diakui dunia sebagai genre baru puisi. Sangat jarang sekali tercipta genre baru dalam puisi. Bahkan, puisi esai yang diciptakan Denny JA kini masuk kamus resmi bahasa Indonesia.
 
Sudah terbentuk pula komunitas puisi esai ASEAN yang berpusat di Malaysia. Datuk Jasni Matlani menjadi presiden komunitas puisi esai ASEAN.
 
Keempat, puisi esai, terutama karya Denny JA, sudah menyuarakan isu hak asasi manusia di Indonesia. Puisi esai tak hanya seksi dari sisi genre baru, tapi juga pesan hak asasi manusia.
 
"Komunitas puisi esai segera bersidang memutuskan siapa yang dicalonkan. Sejauh ini Denny JA calon yang paling kuat," ucap Irsyad.
 
Jika dicalonkan, Denny JA akan menjadi sastrawan Indonesia kedua yang pernah secara resmi menjadi kandidat ajang nobel sastra, setelah Pramudya Ananta Toer. Denny JA mengatakan pencalonan nobel sastra bagus untuk diplomasi budaya Indonesia.
 
"Namun, saya berkarya karena saya mencintai gagasan, tidak berorientasi penghargaan," kata Denny.
 
(AZF)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif