Allegra Jade Dreanda Isdar mahasiswi asal Indonesia dalam wisuda Harvard Graduate School of Education (HGSE). DOK YouTube HGSE
Allegra Jade Dreanda Isdar mahasiswi asal Indonesia dalam wisuda Harvard Graduate School of Education (HGSE). DOK YouTube HGSE

Mahasiswi Indonesia Berusia 20 Tahun Jadi Pembicara Wisuda Harvard, Angkat Masalah Guru di Papua

Bramcov Stivens Situmeang • 08 Juni 2026 14:51
Ringkasnya gini..
  • Allegra Jade Dreanda Isdar, terpilih sebagai pembicara mahasiswa dalam wisuda Harvard Graduate School of Education (HGSE).
  • Dia menyampaikan pidato yang mengangkat pengalaman riset pendidikan di Papua.
  • Allegra menyampaikan pesan bahwa solusi terbaik sering kali lahir dari kesediaan memahami manusia sebelum mencoba memperbaiki masalahnya.
Jakarta: Sebuah momen membanggakan terjadi di panggung wisuda Harvard Graduate School of Education (HGSE), Amerika Serikat. Mahasiswi asal Indonesia, Allegra Jade Dreanda Isdar, terpilih sebagai pembicara mahasiswa dan menyampaikan pidato yang mengangkat pengalaman riset pendidikan di Papua.
 
Perempuan berusia 20 tahun itu tampil bukan hanya sebagai lulusan program Master of Education (MEd), tetapi juga membawa refleksi mendalam tentang pendidikan yang lahir dari risetnya di Papua. Melalui pidatonya, Allegra mengajak para lulusan melihat persoalan pendidikan dari sudut pandang manusia yang mengalaminya secara langsung.
 
Membuka pidatonya dengan hangat, Allegra mengaku merasa terhormat dapat berdiri bersama para lulusan dari berbagai belahan dunia. Ia sempat melontarkan candaan tentang cuaca cerah yang membuat para wisudawan tampak semakin cemerlang di hari kelulusan.

Di balik suasana yang hangat tersebut, Allegra menyampaikan suatu pelajaran penting yang didapatnya selama menempuh pendidikan di HGSE. Pelajaran itu berawal dari sebuah sepeda di ruang kerja Prof. Fernando Reimers di Gutman Library.
 
"Kita takkan pernah berhenti menjelajah. Pada akhirnya, setelah semua penjelajahan kita, kita akan tiba di tempat kita memulai dan mengenal tempat itu untuk pertama kalinya. Sebelum kita memecahkan suatu masalah, kita harus terlebih dahulu bertanya: siapa yang mendefinisikannya?" ujar Allegra dalam pidato wisudanya dikutip dari tayangan YouTube Harvard Graduate School of Education, Sabtu, 6 Juni 2026.
 
Ia menuturkan sejak pertama kali masuk HGSE, dirinya memang memiliki keinginan besar membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Keinginan itu lahir dari pengalamannya menyaksikan ketimpangan pendidikan yang masih terjadi di Tanah Air.
 
Dalam statement of purpose-nya, ia ingin membantu mengubah realitas pendidikan bagi para pelajar di Indonesia. Ambisi tersebut kemudian membawanya mengambil mata kuliah yang diajar oleh Prof. Fernando Reimers.
 
Melalui mata kuliah tersebut, para mahasiswa berperan sebagai analis kebijakan dan konsultan riset yang bekerja bersama klien nyata untuk menyelesaikan persoalan nyata. Bagi Allegra, pengalaman itu menjadi kesempatan menerapkan idealisme yang selama ini ia miliki.
 
Dalam salah satu proyek perkuliahan, tim Allegra mendapat kasus yang berlokasi di Papua, Indonesia. Klien mereka menghadapi persoalan guru yang tidak datang ke sekolah sehingga banyak anak tidak memperoleh pembelajaran sebagaimana mestinya.
 
Menurut dia, masalah di dunia nyata tidak pernah hadir dalam bentuk yang sederhana dan pasti. Sebaliknya, persoalan tersebut sering kali berlapis, kompleks, dan penuh ketidakpastian.
 
Kondisi itu tidak hanya berlaku dalam dunia kebijakan publik. Pengalaman yang sama juga kerap ditemui dalam kehidupan sehari-hari ketika seseorang berusaha memahami sebuah masalah.
 
Allegra mengatakan manusia cenderung ingin menyelesaikan persoalan dengan cepat, sederhana, dan terlihat elegan. Cara berpikir itu yang sempat mendominasi pendekatan timnya selama mengerjakan proyek di Papua.
 
"Namun, bagi tim saya dan proyek ini, semakin banyak penelitian yang kami lakukan, semakin rumit pula masalahnya. Dan kami mulai meyakini bahwa masalah sistemik yang besar membutuhkan solusi sistemik yang kompleks," ujar dia.
 
Menurut Allegra, semakin banyak penelitian dilakukan, maka semakin kompleks juga akar persoalan yang mereka temukan. Karena itu, timnya mulai percaya bahwa masalah sistemik yang besar membutuhkan solusi sistemik yang sama besarnya.
 
Berbekal keyakinan tersebut, Allegra datang ke sesi konsultasi bersama Reimers dengan penuh optimisme. Ia merasa telah menemukan solusi terbaik yang mampu menjawab persoalan yang mereka hadapi.
  "Kita akan memantau para guru dengan aplikasi ini, lalu mereka akan mengunggah foto, dan mereka akan menggunakan foto-foto itu, dan kita akan mengikat mereka dengan insentif, dan begitulah cara kita akan membuat semua guru datang," kata dia.
 
Namun, respons yang diterimanya justru sangat berbeda dari yang dibayangkan. Setelah terdiam sejenak, Prof. Reimers mengajukan sebuah pertanyaan sederhana yang mengubah seluruh cara pandangnya.
 
"Dia berkata, 'Allegra, apakah kamu pernah berpikir untuk memberi para guru sebuah sepeda, mungkin?'," tanya Reimers saat itu kepada Allegra.
 
Bukan mendapatkan jawaban, pertanyaan itu justru membuat Allegra terkejut dan kebingungan. Karena dia tidak memahami mengapa solusi sesederhana itu muncul di tengah pembahasan yang selama ini dipenuhi data, riset, dan analisis.
 
Tak lama kemudian, Reimers menjelaskan alasan di balik pertanyaannya tersebut. Penjelasan itu yang akhirnya membuat Allegra melihat persoalan dari sudut pandang yang sama sekali berbeda.
 
"'Rasakan apa yang dirasakan para guru. Pahami akar masalahnya. Mereka bahkan tidak bisa sampai ke sekolah', dan itulah yang kusadari: para guru sebenarnya tidak menolak untuk datang. Mereka hanya tidak bisa sampai ke sana, dan siapa aku ini sampai menyarankan semua kamera dan insentif itu?'," ujar dia.
 
Berangkat dari masalah itu, Allegra menyadari para guru sebenarnya bukan menolak untuk datang mengajar. Mereka justru menghadapi hambatan yang membuat mereka kesulitan mencapai sekolah.
 
Melalui kesadaran itu membuatnya mempertanyakan kembali seluruh rekomendasi yang telah disusun timnya. Ia merasa terlalu cepat menawarkan kamera, aplikasi, dan insentif tanpa benar-benar memahami kondisi yang dihadapi para guru di lapangan.
 
Allegra mengaku saat itu dirinya menyadari bahwa ia tidak sedang menyelesaikan masalah. Sebaliknya, ia justru mendefinisikan masalah tersebut dari kejauhan.
 
Ia juga memahami bahwa teori dan hasil penelitian tidak selalu mampu menggambarkan realitas secara utuh. Sebab, terkadang ada pengalaman manusia yang tidak dapat sepenuhnya ditangkap oleh data dan asumsi.
 
"Saya mengira penelitian dan teori telah memberikan gambaran lengkap yang dibutuhkan, tapi ternyata tidak demikian. Kegagalan dalam situasi ini disebabkan oleh kondisi, bukan oleh orang-orangnya," kata dia.
 
Menurut dia, kegagalan dalam kasus tersebut berasal dari kondisi yang dihadapi para guru, bukan dari karakter atau kemauan mereka. Pemahaman itu menjadi titik balik yang mengubah pendekatannya terhadap pendidikan.
 
Allegra mengatakan pengalaman tersebut mengajarkannya mengenai pentingnya melihat kembali sebuah persoalan dari sudut pandang yang berbeda. Langkah terpenting bukan selalu menelaah masalah dari kejauhan, melainkan memahami manusia yang hidup di dalamnya.
 
"Situasi ini mengajarkan saya bahwa terkadang hal terpenting yang bisa kita lakukan adalah melihat kembali, tetapi bukan dengan memandang masalah dan segala aspeknya dari kejauhan, melainkan dengan memperhatikan inti permasalahan, yaitu orang-orangnya, karena pada akhirnya pendidikan itu ditujukan untuk mereka, bukan?" ujar dia.
 
Baginya, pendidikan pada akhirnya selalu berbicara tentang manusia. Karena itu, proses memahami kebutuhan dan pengalaman mereka harus menjadi titik awal dalam mencari solusi.
 
Allegra menjelaskan solusi akhir timnya bukan sekadar menyediakan sepeda bagi para guru. Namun, sepeda menjadi metafora yang membantu mereka berpikir dengan cara yang berbeda.
 
Melalui perspektif baru tersebut, timnya kembali kepada masyarakat untuk mengajukan pertanyaan yang lebih baik. Mereka juga belajar mendengarkan dengan lebih saksama sebelum menawarkan rekomendasi.
  Pengalaman itu membuat Allegra memahami pentingnya pendekatan yang berpusat pada manusia atau human-centered solution. Ia meyakini solusi terbaik harus lahir dari kebutuhan orang-orang yang mengalaminya secara langsung.
 
Menjelang akhir pidato, ia mengingatkan para lulusan bahwa ilmu pengetahuan dan pendidikan sering kali mendorong seseorang menciptakan solusi yang terlihat canggih dan elegan. Namun, pendekatan tersebut tidak selalu menjadi jawaban yang paling tepat.
 
Allegra mengajak para lulusan untuk tidak terburu-buru menawarkan jawaban atas sebuah persoalan. Sebaliknya, ia mendorong mereka untuk terlebih dahulu memahami hal-hal yang belum terlihat dan sudut pandang orang yang terdampak oleh masalah tersebut.
 
"Baik itu di ruang kelas, di tempat kerja, dalam pekerjaan kebijakan, atau bahkan dalam situasi sehari-hari ketika ada seseorang di hadapan kalian, pikirkanlah terlebih dahulu: 'Apa yang tidak saya lihat?' Dan 'Bagaimana hal ini terlihat bagi orang yang ada di hadapan saya?'" pesan Allegra.
 
Ia juga mengingatkan pentingnya memahami bagaimana sebuah persoalan dirasakan oleh orang lain sebelum menentukan definisi masalah yang sebenarnya. Menurutnya, pelajaran itu menjadi salah satu hal paling berharga yang ia peroleh selama menempuh pendidikan di HGSE.
 
Allegra menilai kegagalan melihat persoalan dari sudut pandang orang lain berisiko membuat manusia diperlakukan sekadar sebagai objek yang harus dikelola. Padahal, pendidikan seharusnya berangkat dari upaya memahami dan mendengarkan manusia yang berada di balik setiap persoalan.
 
"Pertimbangkan bagaimana masalah tersebut dirasakan oleh orang lain sebelum memutuskan apa sebenarnya masalahnya. Itulah yang diajarkan HGSE kepada saya. Jika tidak, kita berisiko memperlakukan orang lain sebagai objek yang harus dikelola, bukan sebagai manusia yang perlu dipahami," kata Allegra.
 
Menutup pidatonya, Allegra mengajak seluruh wisudawan untuk selalu mengambil second look atau melihat kembali persoalan secara lebih mendalam. Dia percaya perubahan besar dapat dimulai ketika seseorang berani melihat sesuatu dengan lebih jernih daripada sebelumnya.
 
"Jadi, para lulusan, mulailah melangkah maju mulai hari ini dan ingatlah untuk selalu melihat lebih dalam, karena kita takkan pernah berhenti menjelajah. Pada akhirnya, semua penjelajahan kita akan membawa kita kembali ke tempat kita memulai, dan kita akan mengenal tempat itu untuk pertama kalinya. Dan ketika kalian sampai di sana, semoga kita memiliki keberanian untuk selalu melihat dengan jelas bahwa itulah cara kita mengubah dunia. Terima kasih," kata Allegra. 

Profil Allegra Isdar

Melansir laman LinkedIn, Allegra Jade Dreanda Isdar saat ini menempuh program Master of Education bidang Human Development and Education di Harvard University. Pendidikan tersebut dijalaninya sejak Juni 2025 hingga Mei 2026.
 
Sebelum berkuliah di Harvard, Allegra meraih gelar Bachelor of Arts bidang Psikologi dari University of Michigan pada Mei 2025. Dia diketahui telah menyelesaikan pendidikan Associate of Arts bidang Psikologi di Green River College pada Juni 2023.
 
Selain aktif di bidang akademik, Allegra dikenal sebagai musisi muda yang merilis mini album Allegra: The EP pada usia 17 tahun. Seluruh lagu dalam album tersebut ditulis dan dikomposisikan sendiri sebagai bentuk eksplorasi terhadap emosi dan pengalamannya.
 
Selama menempuh pendidikan di University of Michigan, ia aktif dalam organisasi mahasiswa dan berbagai kegiatan kepemimpinan. Ia juga terlibat dalam PERMIAS Michigan serta kelompok a cappella Amazin' Blue.
 
Di bidang profesional, Allegra pernah menjalani magang di Bank Jago sebagai People and Culture (HR) Branding and Engagement Specialist. Ia turut berkontribusi dalam kampanye Jago Digital Academy yang ditujukan untuk pengembangan talenta muda.
 
Melalui pidato wisudanya di Harvard, Allegra tidak hanya membawa nama Indonesia ke panggung dunia. Ia juga menyampaikan pesan bahwa solusi terbaik sering kali lahir dari kesediaan untuk memahami manusia sebelum mencoba memperbaiki masalahnya. 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA