Anak-anak di Desa Pasir Buncir membaca buku. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
Anak-anak di Desa Pasir Buncir membaca buku. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id

Despi dan Cahaya Literasi di Lereng Pasir Buncir

Ilham Pratama Putra • 08 Juni 2026 10:36
Ringkasnya gini..
  • Berangkat dari kepedulian terhadap pendidikan, Despi Hermawati membantu anak-anak Desa Pasir Buncir mengakses literasi.
  • Gerakan Literasi Bahasa Pasir Buncir berhasil menghadirkan 250 buku baru bagi sekitar 70 anak usia 4-12 tahun.
  • Literasi diyakini menjadi kunci perubahan, karena mampu membuka wawasan, membangun nalar, dan memperluas cita-cita anak-anak.
Jakarta: 14 tahun lalu, Despi Hermawati tidak pernah membayangkan hidupnya akan bermuara di lereng pegunungan Desa Pasir Buncir, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Ia datang bukan karena panggilan tugas, bukan pula karena program pemerintah.
 
Despi menetap di Pasir Buncir karena cinta mengikuti suaminya. Ia hidup mendampingi seorang petani yang memilih mengolah tanah di sana untuk menghidupi keluarga.
 
Hari-hari di Pasir Buncir ternyata malah membuka matanya. Udara sejuk pegunungan yang menyambut tiap pagi menyimpan realita yang jauh dari nyaman. 

Anak-anak di Kampung Wangun Jaya dan Mekar Jaya-dua kampung kecil dalam wilayah desa itu begitu tertinggal dan jauh dari dunia pendidikan. Bayangkan, untuk SD saja, anak-anak harus berjalan tiga kilometer menyusuri jalan setapak yang sempit dan menukik. 
 
Bagi yang ingin melanjutkan ke SMP, jaraknya berlipat menjadi tujuh kilometer. Kian mustahil jika orang tua mereka tak memiliki sepeda motor. 
 
Dan bagi yang bermimpi menyentuh bangku SMA, mereka harus menempuh empat belas kilometer menembus kecamatan lain. Despi diam, tapi benaknya tidak.
 
"Jalannya jauh sekali. Makanya banyak anak SMP di sini ya sudah lulus terus bekerja, menikah," ujar Despi saat ditemui Senin, 8 Juni 2026.
 
Kilometer terasa mustahil. Dan pemandangan itu pula yang membuatnya tergerak. 
 
Perempuan ini bukan guru. Bukan pejabat desa. Ia hanya seorang istri petani yang kebetulan punya kepedulian yang tidak bisa ia padamkan sendiri. 
 
Perlahan, ia menjadi salah satu motor di antara ibu-ibu di sekitarnya untuk terus membicarakan soal anak-anak. Soal buku-buku, soal masa depan yang masih bisa diperjuangkan meski dari lereng gunung sekalipun. Ia tahu persis, senjata paling mungkin yang bisa ia pegang adalah literasi.
 
"Kalau anak-anak terbiasa membaca, mereka mulai tahu bahwa ada sesuatu di luar kampung ini yang bisa mereka raih," kata Despi.
 
 
Baca juga: 70 Persen Anak RI Kena 'Learning Poverty', Vox Point Sulap Dongeng Jadi Konten TikTok

 
Bukan perkara mudah. Selama bertahun-tahun, ketersediaan buku di PAUD swadaya yang dihibahkan salah seorang warga itu nyaris nol. Buku terakhir yang masuk ke kampung ini adalah sumbangan sebuah bakti sosial kampus pada tahun 2006. Lembaran-lembaran lusuh itu dibaca bergantian, dari satu tangan ke tangan lain, dari satu generasi ke generasi berikutnya.
 
Despi melihat itu dan ia tahu, perubahan tidak akan datang sendiri.
 
Pagi itu, kabut belum sepenuhnya pergi ketika puluhan anak berkumpul di pelataran sederhana Kampung Wangun Jaya. Di antara mereka, Faeyza Kenzie, 8 tahun, membolak-balik buku bergambar dengan jemari mungil yang meraba sampul kaku dan licin-seolah memastikan benda di pangkuannya bukan mimpi. 
 
Tidak jauh darinya, Muhammad Nasir, 11 tahun, mencondongkan badan menatap gambar rasi bintang dan pesawat luar angkasa. Ketika ditanya cita-cita, keduanya menjawab kompak dan lantang.
 
"Mau jadi astronot," ujar dua anak itu. 
 
Hari itu, 250 buku baru tiba di Pasir Buncir. Buku ini hadir hasil gerakan bertajuk "Literasi Bahasa Pasir Buncir" yang diinisiasi Ikatan Penggerak Swadaya Masyarakat Indonesia (IPSMI), berkolaborasi dengan Perpustakaan Nasional dan Pusat Perbukuan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. 
 
Buku-buku bersampul cerah itu menyapa sekitar 70 anak usia 4 hingga 12 tahun di kedua kampung. Bagi Despi, pemandangan itu adalah jawaban atas penantiannya.
 
"Saya tidak minta banyak. Saya hanya mau anak-anak di sini punya kesempatan yang sama untuk bermimpi, punya bacaan," ucap dia.
 
Penggerak literasi desa, Neni Herlina, yang turut mendampingi gerakan ini menegaskan membaca bukan sekadar mengeja kata. Literasi, kata Neni, adalah tentang membangun nalar — dan nalar yang kuat adalah bekal paling nyata untuk mengubah nasib.
 
Kartika Puspitasari, penggerak swadaya masyarakat yang ikut terlibat, meyakini pendekatan ini akan menjadi katalis. Masyarakat yang literat, kata Kartika, adalah masyarakat yang tahu potensinya sendiri-dan dari sana, pembangunan desa yang sesungguhnya bisa dimulai.
 
Universitas Muhammadiyah Bogor Raya (Umbara) turut hadir mendampingi, memastikan gerakan ini tidak padam setelah hari pertama berlalu. Menjelang siang, suara anak-anak mengeja kata masih riuh di sudut kampung. 
 
Faeyza masih memegang bukunya erat. Nasir masih menatap gambar angkasa dengan mata yang menyala.
 
Despi berdiri di pinggir kerumunan, memandangi semua itu dalam diam. 
 
Setelah 14 tahun ia memilih tinggal dan berjuang di lereng ini. Dan hari ini, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia melihat sesuatu yang selama ini ia perjuangkan-hadir nyata, dalam bentuk kertas, tinta, dan mata anak-anak yang berbinar.
 
Dua ratus lima puluh buku itu memang tidak bisa memangkas empat belas kilometer jalan menuju SMA. Tapi ia tahu satu hal yang pasti: jarak antara anak-anak Pasir Buncir dengan mimpi mereka, hari ini, menjadi lebih dekat.
 
Baca juga: 10 Provinsi dengan Minat Baca Tertinggi, Tak Satu Pun dari Pulau Jawa

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA