"Salah satu problem utama literasi di Indonesia bukan semata ketiadaan minat baca, juga masih rendahnya tingkat ketersediaan dan keterjangkauan akses terhadap bahan bacaan yang bermutu," kata Rerie, sapaan karib Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulis, Jumat, 29 Mei 2026.
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menyatakan kesiapan mereka bersinergi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI mengoptimalkan literasi digital di tanah air. Saat ini, tingkat keterbacaan iPusnas, salah satu layanan Perpusnas, dinilai tinggi meski masih mengalami sejumlah tantangan terkait keamanan digital.
Rerie mengatakan kolaborasi multi-pihak untuk meningkatkan literasi nasional mendesak untuk direalisasikan. Sebab, berdasarkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) yang dirilis Perpusnas pada Maret 2026, skor nasional baru mencapai 40,6, masuk dalam kategori rendah.
Dia menyebut angka itu mengkhawatirkan mengingat target menyongsong Indonesia Emas 2045 mengharuskan adanya peningkatan signifikan di semua unsur pengukuran, seperti sebaran layanan, koleksi, tenaga perpustakaan, dan keterlibatan masyarakat.
Baca Juga :
Fakta Pahit: Kemampuan Literasi Sarjana di Jakarta Ternyata Cuma Setara Siswa SMP di Jepang
Apalagi, data World Population Review bertajuk Average Books Read Per Year by Country 2025 menyebutkan rata-rata masyarakat Indonesia hanya membaca 129 jam per tahun, jauh tertinggal dari India (352 jam) dan Amerika Serikat (357 jam). Ironisnya, penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 77-80 persen, skor indeks literasi digital nasional pada 2025 masih stagnan di angka 44,53.
Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu menilai kondisi ini menunjukkan akses teknologi saja tidak cukup tanpa dibarengi peningkatan kemampuan literasi digital. Dia menekankan program literasi tidak boleh berjalan sendiri-sendiri.
Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pegiat literasi wajib diperkuat melalui aksi konkret. "Saat ini, momentum untuk bergerak. Bangsa ini butuh generasi yang cerdas dan berkarakter, dan itu dimulai dari literasi. Tidak ada kata instan, yang ada adalah kolaborasi yang berkelanjutan," tegas Rerie.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News