Alih-alih menyuruh anak sekadar membaca buku teks yang membosankan, mereka menyulap dongeng menjadi konten digital storytelling yang engaging di TikTok, Instagram, dan YouTube!
Tepat pada peringatan HUT ke-10 pada Jumat, 5 Juni 2026, ormas Katolik ini meluncurkan gebrakan nyata di Auditorium RRI, Jakarta. Ada dua senjata utama yang mereka rilis ke ruang digital yakni Kisah Santo bersama Ki Petrus (fokus pada teladan tokoh kudus Katolik) dan Cerita Rakyat Nyi Dayat (mengangkat kekayaan folklor nusantara).
Hadirnya konten-konten ini di platform kekinian seperti TikTok dan Reels bertujuan agar pendidikan karakter bisa lebih mulus masuk ke For You Page (FYP) anak-anak, Gen Z, hingga millennial parents.
Life Hack Cerdas dari Einstein
Inisiatif brilian ini digagas langsung oleh Wakil Ketua Umum Vox Point Indonesia sekaligus praktisi pendidikan nasional, Indra Charismiadji. Menariknya, ide ini bermula dari filosofi sederhana seorang jenius dunia. Indra menyitir kutipan legendaris Albert Einstein:“Jika Anda ingin anak-anak Anda cerdas, bacakan mereka dongeng. Jika Anda ingin mereka lebih cerdas, bacakan mereka lebih banyak dongeng,"
Bagi Indra, petuah tersebut justru makin valid di era gempuran AI dan algoritma media sosial. “Einstein sudah mengingatkan bahwa dongeng bukan sekadar hiburan. Dongeng adalah pintu masuk bagi imajinasi, rasa ingin tahu, kemampuan berbahasa, daya nalar, dan pembentukan karakter anak. Pertanyaannya, bagaimana pesan itu kita terjemahkan di era digital? Anak-anak hari ini hidup di ruang digital. Karena itu, kita perlu menghadirkan dongeng, kisah keteladanan, dan cerita rakyat ke dalam format yang dekat dengan kehidupan mereka,” urai Indra di Jakarta, Jumat, 5 Juni 2026.
Langkah digitalisasi ini juga jadi solusi logis di tengah mahalnya ongkos akses bahan bacaan fisik.
“Buku cetak tetap sangat berharga. Namun, kita juga harus realistis. Mencetak buku membutuhkan biaya besar, distribusinya tidak selalu mudah, dan tidak semua keluarga memiliki akses yang sama," terangnya.
Melalui platform digital, kata Indra, satu karya dapat menjangkau lebih banyak anak, lebih cepat, lebih murah, dan dapat diakses dari mana saja. Inilah ikhtiar kami: membawa semangat dongeng ke ruang digital tanpa kehilangan nilai pendidikan, budaya, dan spiritualitasnya.
70% Anak RI Kena Learning Poverty
Peluncuran program ini bukan sekadar flexing karya, melainkan respons atas rapor merah literasi anak bangsa di standar global (seperti PISA). Bank Dunia mencatat learning poverty anak Indonesia menyentuh angka 70 persen. Artinya, 7 dari 10 bocah usia 10 tahun belum sanggup memahami teks sederhana.“Selama ini kita terlalu sering membicarakan krisis literasi dalam bentuk angka dan peringkat. Padahal di balik angka itu ada anak-anak yang kehilangan kesempatan untuk memahami dunia melalui bacaan. Karena itu, kita harus menghadirkan solusi yang konkret, menarik, dan sesuai dengan bahasa zaman,” kata Indra.
Indra juga menyoroti bahaya "buta aksara fungsional", kondisi di mana anak seolah-olah bisa mengeja tulisan, tapi blank soal maknanya.
Buta aksara fungsional ini sangat berbahaya karena sering tidak terlihat. Anak tampak bisa membaca, tetapi sesungguhnya tidak memahami.
"Ia bisa melafalkan kata, tetapi gagal menangkap makna," terangnya.
Padahal, kata Indra, masa depan bangsa membutuhkan generasi yang bukan hanya bisa membaca teks, tetapi mampu memahami, menafsirkan, mengkritisi, dan menggunakan informasi secara bijaksana.
Lewat medium dongeng inilah anak-anak dilatih untuk terbiasa dengan struktur logika, sebab-akibat, problem solving, hingga empati sosial.
Ketua Umum DPN Vox Point Indonesia, Y. Handojo Budhisedjati memastikan inisiatif ini murni komitmen mereka untuk bangsa. Ruang digital harus "disusupi" dengan hal yang bermakna.
“Vox Point Indonesia adalah ormas kebangsaan yang lahir dari keprihatinan dan komitmen untuk ikut ambil bagian dalam membangun Indonesia. Pada usia yang ke-10 tahun ini, Vox Point ingin mempersembahkan sesuatu yang konkret, bermanfaat, dan dapat dimanfaatkan oleh siapa saja, di mana saja. Pendidikan adalah urusan seluruh bangsa, dan literasi adalah fondasi peradaban,” ungkapnya.
Dukungan penuh pun mengalir dari Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C.
“Kami mengapresiasi karya nyata Vox Point Indonesia yang tidak berhenti pada wacana, tetapi menghadirkan sesuatu yang dapat digunakan oleh masyarakat luas. Inisiatif seperti ini penting karena pendidikan, literasi, dan pembentukan karakter adalah bagian dari tanggung jawab bersama demi kebaikan masyarakat banyak,” pungkas Antonius.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News