Rendra Panca Anugraha, 24 tahun doktor termuda di Indonesia yang baru saja diwisuda di ITS, ITS/Humas.
Rendra Panca Anugraha, 24 tahun doktor termuda di Indonesia yang baru saja diwisuda di ITS, ITS/Humas.

ITS Wisuda Doktor Termuda Usia 24 Tahun

Pendidikan Pendidikan Tinggi Publikasi Ilmiah
Intan Yunelia • 19 Maret 2019 10:53
Jakarta: Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mewisuda doktor termuda di Indonesia di usia 24 tahun empat bulan pada 17 Maret 2019 kemarin. Pemuda tersebut bernama Rendra Panca Anugraha dari Departemen Teknik Kimia ITS.
 
Lewat program beasiswa yang digulirkan oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) yakni Pendidikan Magister menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU). Program yang sudah berjalan dari 2015 lalu ini menantang para sarjana unggulan untuk menyambung studi hingga tingkat doktoral dalam kurun waktu empat tahun.
 
Rendra merampungkan studinya dalam kurun waktu 3,5 tahun saja. Tak hanya itu ia berhasil melakukan publikasi penelitian di tiga jurnal ilmiah internasional yang bereputasi serta dua seminar nasional.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca:1.100 Beasiswa Pascasarjana untuk Dosen Siap Diperebutkan
 
Rendra menceritakan dalam menjalani program PMDSU ada beberapa tantangan yang dihadapinya. Salah satunya adalah dalam hal penyediaan bahan eksperimen.
 
Kadang, Rendra sampai harus mencari sendiri bahan eksperimen yang dibutuhkan tersebut di luar negeri, sehingga perlu mengurus surat ekspor-impor barang.
 
"Sangat sulit untuk menemukan bahan baku penelitian saya di Indonesia," ujar Rendra, dalam keterangan resmi ITS yang diterima di Jakarta, Selasa 19 Maret 2019.
 
Meski sulit ia tetap berpegang teguh kepada komitmennya untuk menyelesaikan studi doktoral sebaik mungkin. Menurutnya doktor adalah orang yang berdiri di ujung horison perkembangan ilmu pengetahuan di bidangnya. Dia berada di tip of the edge, sehingga tugas seorang doktor setelah menyelesaikan studi doktoralnya adalah melanjutkan pengembangan ilmu di bidang tersebut.
 
"Cara saya menikmati masa muda adalah dengan menemukan solusi atas masalah yang ada di masyarakat dengan ilmu dan kemampuan yang saya miliki," tuturnya.
 
Baca:Indonesia Krisis Dosen Milenial
 
Dalam disertasinya, Rendra terfokus pada pemanfaatan Dimethyl Carbonate (DMC) dan Diethyl Carbonate (DEC) sebagai zat aditif pada bahan bakar bensin. Alasannya, Indonesia memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap bahan bakar fosil (terutama bensin atau gasoline), padahal sumber daya tersebut sangat terbatas.
 
Oleh karenanya, ia menawarkan gagasan untuk mengurangi ketergantungan ini dengan menambahkan DMC dan DEC yang dapat diproduksi dari sumber biomassa.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif