Kennysha dibesarkan dalam keluarga religius dan menjunjung tinggi pendidikan. Keluarganya meyakini bahwa orang berpendidikan akan memiliki karakter serta budi pekerti yang baik.
Awalnya semua baik-baik saja. Ayahnya memiliki toko sepatu di sekitar Pasar Baru, Bandung, yang sudah ditekuni selama 13 tahun. Pada awal tahun 2021, Pemerintah Kota Bandung melakukan renovasi Pasar Baru.
Hal itu membuat toko-toko di sekitar, termasuk toko ayahnya dibongkar dan digusur. Akibatnya, kedua orang tua Kennysha kehilangan sumber mata pencaharian.
"Setelah itu, kedua orang tua saya harus bekerja lebih keras untuk menghidupi saya dan keempat adik perempuan saya. Penghasilan yang mereka peroleh sering kali hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok," cerita Kennysha dikutip dari laman Puslapdik Kemendikdasmen, Selasa, 29 September 2026.
Biaya pendidikan yang sebelumnya dapat dipenuhi dengan baik, berubah menjadi salah satu tantangan terbesar. Kennysha yang saat itu duduk di bangku SMP kelas 8 mesti berjualan di lingkungan sekolah untuk membantu memenuhi kebutuhan adik-adik serta membeli perlengkapan sekolah.
Sejak saat itu, roda kehidupan membawa keluarganya berada pada titik terendah untuk tetap bertahan hidup. Tak sampai di situ, Kennysha juga kerap diremehkan oleh teman-teman, bahkan beberapa guru meragukan kemampuan akademiknya.
"Sebagian dari mereka menganggap saya melakukan kecurangan dan tidak akan mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi," tutur dia.
Ucapan-ucapan itu sempat membuatnya kehilangan rasa percaya diri dan motivasi untuk belajar. Tak jarang, ia kerap bertanya kepada diri sendiri 'Apakah orang seperti saya tidak pantas bermimpi setinggi langit hanya karena keterbatasan ekonomi yang seolah mengekang saya?'
Terbantu PIP
Pihak sekolah yang memahami kondisi ekonomi keluarga Kennysha mengupayakan jalan keluar agar pendidikannya terus berlanjut. Saat di kelas 9, Kennysha dikabari memperoleh bantuan pendidikan berupa Program Indonesia Pintar (PIP).Bantuan itu membawa secercah harapan baru bagi Kennysha dan keluarga. Dana yang diberikan digunakan untuk membeli kebutuhan sekolah serta keperluan pendidikan lainnya.
"Program ini mendorong saya untuk terus melangkah dan mengatasi keterbatasan ekonomi yang selama ini menjadi penghalang dalam perjuangan saya," beber dia.
Bantuan PIP serta dukungan dan doa kedua orang tua membawanya kembali semangat belajar hingga akhirnya setelah lulus SMP diterima di SMAN 1 Banjaran. Saat di kelas 10 dan 11, Kennysha kembali memperoleh PIP.
Siswi kelas XII SMAN 1 Banjaran, Kennysha Aneira Ramadhani. DOK Puslapdik Kemdikdasmen
Banyak hal baru yang ditemukan di SMA. Kennysha belajar menjadi diri sendiri tanpa harus merasa rendah diri terhadap kondisi ekonomi keluarga.
Dia juga bertemu dengan teman-teman dan guru-guru yang tidak pernah lelah memberikan motivasi agar terus berjuang. Rasa kecewa yang dahulu membebani hati kini berubah menjadi pelajaran hidup yang tidak pernah dia lupakan.
"Saya ingin membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi tidak mampu meruntuhkan semangat saya untuk menggapai cita-cita," tegas dia.
Hari demi hari dijalani dengan penuh semangat. Kennysha tidak lagi memikirkan ucapan orang-orang yang dahulu meremehkannya.
Sebaliknya, dia menjadikannya sebagai batu pijakan untuk terus berkembang menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.
Pertukaran pelajar ke Jepang
Selama dua tahun bersekolah di SMA, Kennysha mengikuti berbagai perlombaan, baik yang diselenggarakan oleh sekolah maupun di luar sekolah, sembari terus meningkatkan prestasi akademik.Guru Bahasa Inggris saat di kelas 10 mengetahui ketertarikannya pada bahasa Jepang. Karena itu, dia menyarankan mengikuti lomba Rodoku (Membaca teks dalam bahasa Jepang), Shuuji (Membuat kaligrafi Jepang) serta Kana (Menulis huruf Jepang) Tingkat N5.
Kennysha tertarik dengan bahasa Jepang sejak kelas 4 SD. Saat itu, ayahnya pernah belajar Bahasa Jepang dan dia suka ikut mempelajarinya. Saat duduk di kelas 9, Kennysha punya keinginan mendalami bahasa Jepang ke tingkat lebih tinggi.
Dari lomba-lomba saat di kelas 10 itulah, Kennysha meraih penghargaan dalam lomba Rodoku. Hingga akhirnya, sebuah kabar yang tidak pernah ia bayangkan datang menghampiri, bagaikan sinar mentari yang muncul di tengah gelapnya hujan badai.
"Berkat kerja keras, ketekunan, doa kedua orang tua, serta bantuan PIP, saya terpilih sebagai satu dari sepuluh siswa yang mewakili sekolah dalam program pertukaran pelajar internasional bersama Shinjou Kita High School, di Kota Yamagata," tutur dia.
Pada pertukaran pelajar yang berlangsung selama seminggu di akhir tahun 2024 itu, Kennysha dan teman-temannya mempelajari budaya Jepang, belajar tari-tari Jepang, dan sebagainya.
Kebahagiaannya tidak selesai sampai di situ. Pada Juni 2026, saat menginjak kelas 11 semester 2, Kennysha juga ditawari beasiswa sebesar Rp2 juta dari dari salah satu lembaga pertanian di Jepang.
Kennysha mengaku semua prestasi dan pengalaman itu, membuatnya menitikan air mata. Seluruh perjuangan yang telah dilalui, doa orang tua yang tiada henti dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta ucapan orang-orang yang dahulu merendahkan kemampuannya kini menjadi bagian dari perjalanan yang mengantarkannya menuju keberhasilan.
Dia mengingat Kembali pesan guru Bahasa Inggrisnya saat menceritakan terpuruknya kondisi ekonomi keluarga saat menempuh Pendidikan. Sang guru mengutip ucapan atlet hoki es asal Kanada, Wayne Gretzk:
“You miss 100% of the shots you don’t take.” Yang artinya kira-kira “kamu tidak akan pernah berhasil jika tidak berani mencoba”.
Kutipan itu terus terngiang dalam benak Kennysha. Kalimat itu menjadi pengingat bahwa dalam setiap perjalanan hidup akan selalu ada rintangan yang harus dilalui.
"Yang perlu saya lakukan hanyalah mencari sekecil apa pun kesempatan untuk dapat melewatinya," ujar Kennysha.