Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo usai mencoblos di TPS. Foto: Medcom.id/Dheri Agriesta.
Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo usai mencoblos di TPS. Foto: Medcom.id/Dheri Agriesta.

Jokowi-Ma'ruf Sukses Gerus Suara Prabowo

Pemilu pilpres 2019
Achmad Zulfikar Fazli • 18 April 2019 17:03
Jakarta: Calon presiden (capres) Joko Widodo dinilai mampu merebut suara lawannya, Prabowo Subianto, pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Hal itu membuat ada pelebaran jarak perolehan suara antara Jokowi dan Prabowo.
 
"Memang gapnya tidak terlalu besar ya, tapi ada kenaikan yang dilakukan Jokowi," kata peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Rully Akbar, di Kantor LSI Denny JA, Rawamangun, Jakarta, Kamis, 18 April 2019.
 
Pada Pilpres 2014, Jokowi berpasangan dengan Jusuf Kalla memperoleh 53,15 suara. Sementara itu, Prabowo dengan Hatta Rajasa mendapatkan 46,85 persen. Selisih keduanya hanya 6,3 persen.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kini, selisih itu bertambah menjadi sekitar 10 persen. Berdasarkan hasil hitung cepat dari LSI Denny, suara Jokowi yang berpasangan dengan Ma'ruf Amin pada Pilpres 2019 mencapai 55,79 persen dan Prabowo-Sandiaga 44,21 persen.
 
Rully menilai kenaikan suara yang tipis dari Jokowi itu disebabkan adanya segmentasi dan polarisasi pemilih yang sudah terbentuk sejak 2014. Terlebih, Pilpres 2019 ini merupakan tarung ulang antara Jokowi dan Prabowo.
 
Hanya, Jokowi diuntungkan dengan status petahana. Dengan begitu, banyak migrasi pemilih termasuk para pemilih Prabowo, karena sudah melihat prestasi Jokowi selama memimpin 4,5 tahun ini.
 
Tak hanya itu, sosok Ma'ruf Amin dan partai politik pendukung juga berpengaruh terhadap peningkatan suara Jokowi. Meskipun tak signifikan, tetapi ada selisih suara yang bertambah antara Jokowi dan Prabowo.
 
"Ya sebenarnya perolehannya cukup baik, Jokowi dapat menambah perolehan suara itu. Ya karena itu tadi segmentasi, distribusi suaranya sudah terbentuk sejak 2014," kata dia.
 
Baca: Pengamat: Prabowo Tidak Gentle
 
Sebelumnya, Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Irma Suryani, menyebut situasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017 memengaruhi perolehan suara Pilpres 2019. Itu sebabnya elektabilitas Jokowi terkesan mengalami stagnasi sejak 2014.
 
"Sebenarnya kalau tidak ada kasus-kasus parah yang dimulai dari pilkada DKI, kami yakin kami bisa di atas 60 persen," kata Irma kepada Medcom.id, Kamis, 18 April 2019.
 
Namun, Irma tak sepakat bila suara Jokowi disebut stagnan. Bagi Irma, perolehan suara Jokowi justru meningkat pesat ketimbang Pilpres 2014.
 
"Tapi karena kemarin itu dimulai dari pilkada DKI yang kemudian disangkutpautkan dengan SARA (suku, agama, ras, antargolongan) dan sebagainya terlihat seperti stagnan. Bagi kami ini tidak stagnan," jelas dia.

 

(OGI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif