Cawapres nomor urut 01 Ma'ruf Amin/Medcom.id. M Sholahadhin Azhar
Cawapres nomor urut 01 Ma'ruf Amin/Medcom.id. M Sholahadhin Azhar

4 Bingkai Kerukunan ala Ma'ruf

Pemilu pilpres 2019 Jokowi-Ma`ruf
M Sholahadhin Azhar • 21 Maret 2019 00:04
Bengkulu: Calon wakil presiden nomor urut 01 Ma'ruf Amin menyebut ada empat hal yang bisa mempertahankan kerukunan di Tanah Air. Pertama, yakni bingkai politis yang berfungsi menyatukan seluruh elemen bangsa.
 
"Kerukunan modal bernegara dan unsur utama itu kerukunan antarumat beragama," kata Ma'ruf dalam acara Dialog Antarumat Beragama Bersama Ulama di Bengkulu, Rabu, 20 Maret 2019.
 
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini menyebut bingkai politis memang berperan menjaga kerukunan. Sebab, suatu saat bingkai tersebut pernah 'retak' seperti saat konflik berkecamuk di Ambon dan Poso.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ma'ruf minta hal ini menjadi pembelajaran bagi semua pihak. Jangan sampai hal serupa terjadi di daerah lain. "Maka itu, kita harus mencegah potensi ini jangan sampai muncul," ujarnya.
 
Kedua, yakni bingkai yuridis yang menggawangi kesepakatan mengenai ideologi. Hal ini yang terus menjaga agar ideologi Pancasila tak digantikan paham lain. Namun belakangan, ada gangguan terhadap komponen penjaga kerukunan.
 
Misalnya, terkait ideologi khilafah yang dikemukakan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Menurut dia, hal itu justru melahirkan kelompok intoleran yang bertentangan dengan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945.
 
"Soal khilafah enggak usah petenteng-petenteng, proporsional saja yang tidak menyalahi kesepakatan. Kalau orang menyalahi kesepakatan bubar NKRI," tegas Ma'ruf.
 
Bingkai ketiga yakni kearifan lokal, kebudayaan dari tiap ras dan suku yang otentik di Indonesia. Ma'ruf meminta agar hal ini tetap dipelihara, sebab nyatanya semua pihak di Indonesia ini butuh perbedaan.
 
"Kearifan lokal nilainya bisa kita konversi, perilaku individual perorangan atau perilaku kolektif sebagai bangsa dia akan melahirkan nilai positif," jelasnya.
 
Bingkai terakhir menyangkut teologi atau keyakinan beragama. Lakum dinukum waliyadin, bagaimana seseorang menganut agamanya tanpa mengusik keyakinan orang lain. Dari bingkai terakhir ini, semua pihak harus paham batasan untuk tak melukai saudara sebangsa dengan keyakinan berbeda.
 
"Umat beragama harus membangun teologi kerukunan. Jangan teologi konflik," ucap mantan Rais Aam PBNU itu.
 

(AGA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif