Pengamat Politik Djayadi Hanan. (Foto: MI/Mohamad Irfan)
Pengamat Politik Djayadi Hanan. (Foto: MI/Mohamad Irfan)

Debat Kandidat Perlu Menyentuh Emosi Pemilih

Pemilu debat capres cawapres pilpres 2019
16 Januari 2019 12:00
Jakarta: Pengamat politik Djayadi Hanan menilai, selainmenyampaikan visi misi, debat kandidat calon presiden dancalon wakil presiden Pilpres 2019 juga harus mampu menyentuhaspek emosional pemilih. Masyarakat yang emosinya tersentuh akan lebih mudah menentukan pilihan.
 
"Data itu template umum dalam debat tapi menggerakkan oranguntuk memilih itu harus disentuh emosinya," ujarnya dalamMetro Pagi Primetime, Rabu, 16 Januari 2019.
 
Djayadi mengatakan data memang kerap direpresentasikan sebagai fakta. Namun fakta yang langsung dipersonalisasikan dengan keadaan di lapangan jauh lebih efektif menarik simpati masyarakat ketimbang yang bersifat teknis.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Data soal kemiskinan misalnya. Saat data tersebut dipersonalisasi dengan penerima Program Keluarga Harapan (PKH) akan mudah ditangkap dan mampu menggerakkan sentimen masyarakat ketimbang menyajikannya dalam angka. Pendebat yang baik, kata dia, tahu siapa target audiensinya dan dia akan menggunakan data serta ilustrasi yang cocok dengan targetnya.
 
"Data tidak bisa menyentuh semuanya tapi dengan emosional semua kalangan cenderung bisa diraih. Debatkali ini ada dua target besar audiensinya; rakyat Indonesia dan pemilih yang masih belum menentukan pilihan," ungkapnya.
 
Sementara itu Direktur Komunikasi Politik Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Usman Kansong mengatakan pihaknya sudah memiliki target audiensi yang ingin disasar. Dalam hal ini kubu petahana mengandalkan data yang sudah disepakati bersama yakni yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS).
 
Ia juga sepakat bahwa menyentuh sisi emosional pemilih harus sesuai dengan fakta di lapangan. Misalnya keberhasilan pemerintah dalam hal mengurangi angka kemiskinan dengan PKH.
 
"Itu perlu kita sampaikan misalnya ada seorang ibu penerima PKH, JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) kemudian taraf hidupnya meningkat. Contoh-contoh kasus semacam itu pasti kita sampaikan," jelas Usman.
 

 

(MEL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif