Ilustrasi-Suasana diskusi publik 'Hoax dan Penegakan Hukum' di Hotel Pullman, Thamrin, Jakarta, Selasa, 15 Januari 2019--Medcom.id/Damar Iradat.
Ilustrasi-Suasana diskusi publik 'Hoax dan Penegakan Hukum' di Hotel Pullman, Thamrin, Jakarta, Selasa, 15 Januari 2019--Medcom.id/Damar Iradat.

Pemilu Serentak 2019 Bakal Banyak Tantangan

Pemilu pilpres 2019
Damar Iradat • 15 Januari 2019 11:58
Jakarta: Pemilihan Umum 2019 yang dilakukan secara serentak dengan memilih calon anggota legislatif dan calon presiden dan calon wakil presiden memiliki banyak tantangan. Salah satu tantangan yang perlu dihadapi yakni maraknya penyebaran hoaks jelang Pemilu 2019.
 
Kepala Staf Kepresidenan Jendral (Purn) Moeldoko dalam keynote speech-nya yang dibacakan oleh Deputi V Kantor Staf Presiden Jaleswari Pramodhawardani menyatakan, meski Indonesia sudah menyelenggarakan Pemilu sejak 1955, namun pemilu kali ini merupakan yang perdana dilakukan secara serentak. Oleh karena itu, menurut Moeldoko, tantangan dalam pemilu tahun ini harus bisa dilewati.
 
"Penyelenggaraan pemilu kini justru memiliki tantangannya sendiri. Penataan sistem Pemilu serentak yang masih terus disempurnakan. Pejabat, kelembagaan parpol, politik transaksional, dan rendahnya kepercayaan publik terharap integritas calon-calon politik masih menjadi tantangan yang harus diselesaikan," kata Jaleswari saat membacakan sambutan Moeldoko dalam diskusi publik 'Hoax dan Penegakan Hukum' di Hotel Pullman, Thamrin, Jakarta, Selasa, 15 Januari 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di sisi lain, perkembangan teknologi informasi juga menjadi tantangan tersendiri. Meski berdampak positif, teknologi informasi juga berpengaruh dalam penyelenggaraan pemilu.
 
Terutama, kata dia, dalam konteks banyaknya disinformasi, ujaran kebencian, dan konten-konten yang mengandung berita bohong yang bertebaran dan meresahkan. Serta mengadu domba dan memecah belah. Oleh karena itu, kemunculan hoaks, berita bohong, dan ujaran kebencian penting untuk diantisipasi.
 
"Hal ini agar masyarakat tidak terjebak dalam berita-berita politik yang tidak benar, yang juga berpotensi menjatuhkan kandidat-kandidat Pemilu, baik legislatif maupun eksekutif. Sehingga bisa mencederai kehidupan demokrasi di Tanah Air," tegasnya.

Dalam kesempatan itu, Moeldoko juga memberi contoh bagaimana hoaks berpengaruh signifikan dalam Pemilu Amerika Serikat beberapa tahun lalu. Menurut dia, dalam pemilu saat itu, banyak situs yang dikelola relawan Donald Trump.
 
Mantan Panglima TNI itu menegaskan berita bohong dan hoaks sebetulnya bukan hal baru. Namun, yang menjadi hal baru adalah kombinasi unik antara algoritma medsos, sistem periklanan, serta orang-orang yang siap mengarang cerita dengan motif uang, "Dan pemilu yang sedang berlangsung di suatu negara," terangnya.
 

(YDH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi