Jakarta: Direktur Program Saiful Mudjani Research and Consulting (SMRC), Sirojudin Abbas mengatakan ada tren penurunan minat politik di kalangan generasi milenial. Salah satu penyebabnya karena kegaduhan politik.
"Harus diakui memang ada penurunan minat politik di kalangan generasi milenial, angkanya berkisar 40 persen," kata Sirojudin dalam diskusi bertajuk 'Politik Kekinian Ala Milenial', di Studio Grand MetroTV, Jakarta Barat, Kamis, 22 November 2018
Sirojudin menjelaskan penurunan yang dimaksud mencakup pembicaraan politik di kalangan milenial, minat datang ke tempat pemungutan suara (TPS), hingga keengganan untuk mengkritisi politisi.
Dia menduga penyebab minat politik milenial menurun disebabkan, salah satunya, oleh situasi politik belakangan ini, "situasi politik secara umum semakin berisik. Banyak noise yang mereka tangkap," tutur dia.
(Baca juga:
Milenial Determinan di Pemilu 2019)
Politikus sekaligus anggota DPR dari Partai NasDem, Prananda Paloh menambahkan penurunan minat politik di kalangan generasi milenial bisa juga disebabkan karena penggunaan isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) dalam kontestasi politik.
Selain itu penggunaan hoaks dan ujaran kebencian juga bisa menyebabkan menurunya minat politik milenial.
"Oleh karena itu saya terus mengajak milenial agar cermat dan teliti dalam memfilter terlebih dahulu segala informasi yang didegar," tutur dia.
<iframe class="embedv" width="560" height="315" src="https://www.medcom.id/embed/GKdWM0Ak" allowfullscreen></iframe>
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id((REN))