Ma'ruf Amin (kedua kiri), Sandiaga Uno (kedua kanan), Alvitto Deannova Ginting (kiri), dan Putri Ayuningtyas (kanan) saat debat pilpres ketiga di Hotel Sultan, Jakarta. Foto: MI/Rommy Pujianto
Ma'ruf Amin (kedua kiri), Sandiaga Uno (kedua kanan), Alvitto Deannova Ginting (kiri), dan Putri Ayuningtyas (kanan) saat debat pilpres ketiga di Hotel Sultan, Jakarta. Foto: MI/Rommy Pujianto

Pakar: Sandiaga Pakai Gerak Manipulatif Saat Debat

Pemilu debat capres cawapres pilpres 2019
Muhammad Syahrul Ramadhan • 18 Maret 2019 12:46
Jakarta: Pakar bahasa tubuh berbasis sains, Monica Kumalasari, mengupas bahasa tubuh dua calon wakil presiden Ma'ruf Amin dan Sandiaga Uno saat Debat Ketiga Pilpres, tadi malam. Monica mencatat ada gerak manipulatif yang dilakukan Sandiaga.
 
Gesture manipulatif yang ditunjukan Sandiaga Uno, yakni saat ia membuka kancing ketika duduk dan mengancingkan kembali saat berdiri.
 
"Hipotesisnya mungkin begah atau gerah, atau mungkin jasnya sempit. Tapi, tidak terlalu penting," kata Monica kepada Medcom.id, Minggu, 17 Maret 2019 malam.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Monica menjelaskan gestur terbagi atas tiga tingkat. Tingkatan pertama adalah gestur emblem, menyusul gestur ilustratif, dan yang terendah gestur manipulatif.
 
Untuk gestur ilustratif, Monica mencatat kedua cawapres melakukannya. Sandiaga melakukan gerak ilustratif dengan menggerakkan tangan kiri saat berbicara dan tangan kanan menggenggam mik.
 
"Sementara Kiai Ma'ruf awalnya membetulkan jasnya, kemudian lebih cair. Di sini dia mengeluarkan gaya ilustratif," lanjutnya.
 
Keduanya juga mengeluarkan gestur emblem. Sandi tercatat melakukan gerak ikonik OK OC yang pernah dia perkenalkan saat menjadi calon maupun saat menjadi wakil gubernur DKI Jakarta.
 
Monica mengatakan gaya emblem sangat sepisifik. Harus ada dasar argumentasi dari gerakan tersebut. Gestur emblem yang coba dilakukan Sandiaga saat menjelaskan '22 menit setiap hari bergerak', menurutnya gagal.
 
"Dasarnya apa 22 menit bergerak? Harusnya ada argumentasi," ujar Monica.
 
Gaya verbal
 
Ma'ruf Amin justru lebih banyak mengeluarkan gaya verbal. Monica mencatat gaya itu dikeluarkan Ma'ruf saat mengucap kata syukur. Sebaliknya, Sandiaga banyak menggunakan metafor.
 
Gaya verbal, kata Monica, berkorelasi dengan gaya kepemimpinan seseorang. Sandiaga lebih banyak menggunakan kata 'saya'.
 
"Ini disebut dengan 'me theory', teori karena saya. Contohnya 22 menit bergerak tadi," jelasnya.
 
Ma'ruf Amin juga tercatat banyak mengeluarkan diksi yang mudah diingat dan sempat menjadi tren. Yakni, '10 years challange'. Menurut Monica, cara itu tepat membidik milenial.
 
"Kiai Amin juga mengeluarkan kata-kata startup, seperti unicorn dan decacorn," sebutnya.
 
Sementara Sandiaga, kata dia, justru menggunakan kata-kata yang seharusnya dihindari saat debat, yakni kata 'pelit'. "Hindari kata-kata yang energinya rendah," tuturnya.
 
Secara keseluruhan, Monica melihat gestur makro yang ditunjukkan kandidat cenderung aman. "Namun, ada yang sedikit bocor di gaya verbal," ujarnya.

 

(UWA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif