Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir/MI/Ramdani
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir/MI/Ramdani

Warga Muhammadiyah Diminta Dewasa Menyikapi Hasil Pemilu

Pemilu pilpres 2019 pemilu serentak 2019 Demo Massa Penolak Pemilu
Arga sumantri • 23 Mei 2019 11:44
Jakarta: Warga Muhammadiyah diminta dewasa menyikapi hasil Pemilu 2019. Mereka diimbau tak tepengaruh informasi dan pesan-pesan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
 
"Mengedepankan sikap kritis, damai, bijak, dan dewasa disertai ikhtiar menjalin ta’awun atau kerja sama dengan berbagai pihak untuk kerukunan, kemajuan, dan persatuan bangsa," kata Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir di Jakarta, Kamis, 23 Mei 2019.
 
Muhammadiyah juga menyerukan semua pihak menahan diri dan menghentikan tindakan anarkis yang berpotensi memecah belah persatuan. Menurut dia, terlalu mahal bila Indonesia mengalami eskalasi kerusuhan dan anarki karena sengketa pemilu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Masih banyak permasalahan dan agenda nasional untuk diselesaikan bersama menuju Indonesia yang bersatu, adil, makmur, bermartabat, berdaulat, dan berkemajuan," ungkapnya.
 
Baca:Elite Politik Diminta Munculkan Sikap Negarawan
 
Muhammadiyah mengajak tokoh agama, elite politik, pejabat publik, media massa, warganet, dan seluruh elemen bangsa untuk menciptakan suasana yang sejuk dan damai demi kerukunan serta persatuan nasional.
 
Pernyataan-pernyataan dan tindakan yang dapat memperkeruh keadaan serta merugikan kehidupan berbangsa dan bernegara harus dihindari.
 
"Media sosial hendaknya dijadikan saluran yang menciptakan suasana tenang, damai, bersatu, dan berkeadaban mulia serta dihentikan dari memproduksi hoaks, keresahan, kebencian, perseteruan, dan permusuhan sesama keluarga bangsa Indonesia," jelasnya.
 
Muhammadiyah juga mengapresiasi penyelenggara pemilu yang berusaha maksimal menjalankan agenda demokrasi lima tahunan itu. Meski ada beberapa catatan dan evaluasi yang harus menjadi perhatian bersama. Misalnya, banyak petugas kelompok penyelenggara pemungutan suara (KPPS) yang jatuh sakit dan meninggal setelah bertugas.
 
"Serta sejumlah kelemahan dan masalah, maka penting dan niscaya dilakukan pengkajian ulang yang komprehensif agar penyelenggaraan pemilu ke depan menjadi lebih baik," pungkasnya.
 

(AZF)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif