Koordinator Komite Pemilih Indonesia (TePI) Jerry Sumampouw. (Foto: Medcom.id/Fachri Audia Hafiez)
Koordinator Komite Pemilih Indonesia (TePI) Jerry Sumampouw. (Foto: Medcom.id/Fachri Audia Hafiez)

NasDem Disebut Bawa Budaya Baru ke Parlemen

Pemilu partai nasdem pileg
Fachri Audhia Hafiez • 26 April 2019 08:11
Jakarta: Koordinator Komite Pemilih Indonesia (TePI) Jerry Sumampouw menilai Partai NasDem mengawali budaya baru di parlemen lima tahun lalu. Sebagai partai baru, Pemilu 2014 lalu NasDem berhasil mendapat jatah kursi di DPR.
 
"Lima tahun lalu NasDem masuk ke parlemen itu ada dinamika lain. Meskipun sempat terlibat soal klasik di DPR, korupsi dan lain-lain, tapi culture-nya sedikit berbeda. Meski ada orang kuat di partai, ketika terlibat kasus mereka langsung pecat," kata Jerry dalam diskusi di Kantor Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi), Matraman, Jakarta Timur, Kamis, 25 April 2019.
 
Jerry mengatakan, NasDem tak seperti partai lain yang masih memakai asas praduga tak bersalah kepada kadernya yang terlibat kasus. Bagi partai besutan Surya Paloh itu, langkah 'tunggu dulu' hanya omong kosong.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Artinya ini kan cara partai untuk mengatakan bahwa dia tidak mau menghukum anggotanya sendiri meski anggotanya ini penjahat," tegas Jerry.
 
Baca juga:Pengalaman Berkesan Farhan saat Kampanye Caleg
 
Jerry menyayangkan tidak adanya partai baru yang lolos ke DPR pada Pemilu Serentak 2019. Sebab, lanjut dia, partai baru akan mendorong terbentuknya budaya baru di DPR.
 
"Masuknya partai baru itu sebetulnya bisa jadi alat terapi bagi DPR untuk mengubah culture-nya," ucap Jerry.
 
Peneliti Formappi M Djadijono memprediksi, kinerja anggota DPR RI terpilih hasil Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 akan sama dengan periode sebelumnya. Ini lantaran banyak anggota dewan yang kembali menduduki kursi parlemen.
 
Djadijono mengatakan, dalam mengesahkan sejumlah target rancangan undang-undang (RUU) para legislator terbilang tak memuaskan. DPR juga dinilai buruk performanya dari sisi anggaran. Para anggota dewan dinilai kerap menyetujui tambahan anggaran, sedangkan kinerjanya masih dipertanyakan.
 
Djadijono juga mengkritisi fungsi pengawasan DPR yang hanya melindungi kepentingannya sendiri. Hal ini dipandang dari jarang menggunakan hak interpelasi, angket, atau pun hak menyatakan pendapat.
 
"Periode DPR yang saat ini berjalan ini sangat buruk. Kinerja baik dari sisi legislatif, sisi anggaran maupun pengawasan," ujar Djadijono.
 

(MEL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif