KawalPemilu-Jaga Suara (KPJS) 2019 bersama Network for Democracy and Electoral Integrity (Netgrit) dalam sebuah diskusi di KPU, Rabu, 29 Mei 2019. Foto: Medcom.id/Ilham Pratama Putra
KawalPemilu-Jaga Suara (KPJS) 2019 bersama Network for Democracy and Electoral Integrity (Netgrit) dalam sebuah diskusi di KPU, Rabu, 29 Mei 2019. Foto: Medcom.id/Ilham Pratama Putra

KPU Diminta Menyederhanakan Administrasi Penghitungan Suara

Pemilu pilpres 2019 pemilu serentak 2019
Ilham Pratama Putra • 29 Mei 2019 23:10
Jakarta: Lembaga independen KawalPemilu-Jaga Suara (KPJS) 2019 bersama Network for Democracy and Electoral Integrity (Netgrit) menyarankan Komisi Pemilihan Umum (KPU) memperbaiki sistem pada pelaksanaan pemilu berikutnya. KPJS dan Negrit ingin pemilu berikutnya berjalan dengan lancar.
 
Founder Netgrit Ferry Rizky mengatakan, salah satu yang harus diperbaiki yakni terkait penyederhanaan administrasi penghitungan suara dan peningkatan pemahaman dan keterampilan KPPS. Selain itu dia juga meminta KPU mengubah Situng karena sulit diakses dan dipahami.
 
"Situng harus diperbaiki menjadi lebih user friendly, menjamin akurasi data, mampu menunjukkan perkembangan input data secara realtime. Dan terdapat SOP yang dapat diverifikasi dan menerima masukkan publik," ujar Ferry Rizki, di Gedung KPU, Jakarta Pusat, Rabu 29 Mei 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain itu, agar penghitungan lebih cepat, KPU diminta untuk menggunakan foto C1 plano sebagai sumber data Situng. Menurut Ferry, salinan C1 plano yang diinput berpotensi keliru.
 
"Rekapitulasi berbasis foto C1 plano yang di tabulasikan secara nasional dapat jadi alternatif rekapitulasi manual berjenjang yang selama ini ada. Dengan demikian hasil pemilu akan dapat diperoleh dengan cepat, tepat dan terpercaya," ungkap Ferry.
 
Pihaknya mengaku, metode pemantauan hasil pemilu yang dipakai oleh KPJS 2019 dan Netgrit, bisa menjadi contoh. Menurutnya sistem yang disediakan dalam website jagasuara2019@netgrit.org sangat mudah untuk diadopsi oleh masyarakat sipil secara lebih luas.
 
Diketahui, dalam pemilu 2019 ini KPJS dan Netgrit memantau 777.332 TPSdengan banyak suara sah 145.462.914. Mereka mendapatkan hasil penghitungan 55.19% suara untuk Jokowi-Ma'ruf Amin dan 44.81% suara untuk Prabowo- Sandi.
 
Jika dibandingkan dengan penetapan KPU, hasilnyapun tak jauh berbeda. Jokowi-Ma'ruf Amin memperoleh 55,50% atau 85.607.362 suara. Sementara 44,50% atau 68.650.239 suara untuk Prabowo-Sandi, dengan suara sah 154.257.601.
 
Untuk itu, Peneliti Senior Netgrit, Hadar Nafis Gumay memastikan jika ada kekeliruan dalam input data pada KPU, itu sudah diperbaiki. Dan kekeliruan yang terjadi pun dinilai tak akan mempengaruhi pemenang pemilu.
 
"Terlepas dari adanya kekeliruan tersebut, hasilnya, dimana persentase suaranya tak begitu jauh berbeda. Terjadi 24.479 kekeliruan, dan jika itu tidak diubah, kira-kira ada 6 juta suara. Kalau kita berikan 6 juta pada salah satu paslon, itu belum pengaruhi selisih yang hampir 16 juta suara," kata Hadar.
 
Dengan hasil pemantauan yang pihaknya lakukan, Hadar memastikan jika perolehan suara di Situng dan hasil resmi pemilu dapat dipercaya. Dia menyebut tak ada yang diperlukan dari suara rakyat.
 
"Jadi sistem kami pun bekerja, Kami punya kelebihan, mampu melihat C1 plano dan salinan. KPU belum bisa melakukan itu. Jadi kami bisa melaporkan dan lembaga penyelenggara untuk dikoreksi," ujarnya.
 
Sebelumnya, KPJS dan Netgrit menemukan sebanyak 24.479 kesalahan input suara terjadi dalam pemilu 2019. Meski telah direvisi, KPU tetap diminta untuk mengevaluasi hal tersebut.
 

(DMR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif