Peneliti LSI Denny JA, Ikrama Masloman. Medcom.id/ Kautsar W P
Peneliti LSI Denny JA, Ikrama Masloman. Medcom.id/ Kautsar W P

Jokowi-Ma'ruf Dirugikan dengan Sikap Golput

Pemilu pilpres 2019
Kautsar Widya Prabowo • 20 Maret 2019 02:15
Jakarta: Lingkaran Survey (LSI) Denny JA menjelaskan tren masyarakat untuk menjadi golongan putih (golput) dalam Pemilu 2019 berpotensi meningkat. Jika hal tersebut terjadi maka pasangan capres cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin yang paling dirugikan.
 
Peneliti LSI Denny JA, Ikrama Masloman menjelaskan pada dasarnya pasangan calon 01 tersebut unggul di lima kantong suara yang ada. Lima kantong tersebut meliputi minoritas, milenial, wong cilik, emak-emak dan muslim moderat. Lima kantong tersebut dianggap paling berpangruh dalam pemilu.
 
Pada pemilih minoritas, Jokowi-Maruf unggul dengan rata-rata 80 persen dan Prabowo-Sandi 11,6 persen, jika dalam segmen tersebut golput, tentunya paslon 01 akan dirugikan. Pasalnya hari libur nasional pada 19 April 2019 menjadi salah satu penyebab kalangan minoritas tidak berpartisipasi dalam pemilu 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Hari libur panjang memungkinkan pemilih untuk merencanakan liburan keluaga, dan alasan kedua pemilih minoritas yang menilai bahwa jika Pilpres tidak kondusif bisa memutuskan ke luar negeri," ujar Ikrama, di Gedung LSI Denny JA, Jakarta Timur, Selasa, 19 Maret 2019.
 
Pada segmen wong cilik jika terjadi sikap golput akan sangat disayangkan sebab Jokowi-Ma'ruf juga unggul dengan suara 63,7 persen dan Prabowo-Sandi 27,4 persen. Rata-rata dari mereka beralasan bahwa tidak mendapatkan informasi secara detail terkait pelaksanaan pemilu dan mereka lebih mementingkan untuk mencari pundi-pundi rupiah pada hari pencoblosan.
 
"Mereka lebih mementingkan pekerjaan karena tidak mau rugi kehilangan upah harian, karena tidak ada dampak besar bagi kehidupannya jika mereka memilih," tutur dia.
 
Lalu pada segmen pemilih milenal juga menjadi kantong suara yang potensial bagi Jokowi-Ma'ruf dengan dukungan sebesar 56,5 persen dan Prabowo-Sandi 34,5 persen. Pada segmen ini, sikap apatisme terhadap politik masih melekat, lantaran capres dan cawapres tidak dapat mempresentasikan suara mereka.
 
Alasan tersebut menjadi latar belakang mereka untuk tidak memilih alias golput. Terlebih dikuatkan dengan fenomena maraknya meme apatis dan hadirnya gimick Nurhadi-Alado.
 
"Bahwa hal itu menunjukan kekhawatitan mereka terhadap politik," imbuh dia.
 
Selain itu, pada kantong pemilih emak-emak yang turut berkontribusi menyumbang suara sebanyak 61 persen untuk Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandi 30 persen. Sikap golput tidak dapat dihindarkan dari kalangan ini lantaran merasa juga tidak mendapatkan informasi yang pasti waktu pencoblosan.
 
Lebih lanjut, untuk segmen pemilih muslim juga menjadi andil besar pada Pemilu 2019, dengan populasi 87,8 persen. Pasangan Jokowi-Maruf mendapatkan suara 55,7 persen dan Prabowo-Sandi 33,6 persen.
 
Kendati demikian, segmen tersebut terbilang cukup unik karena terbagi menjadi dua kalangan. Pasalnya bagi umat muslim merasa dekat dengan NU dan akan golput, Jokowi-Ma'ruf yang akan dirugikan.
 
"Jika Golput terjadi di Pemilih muslim dengan dengan PA 212, FPI, dan lain - lain Prabowo-Sandi yang akan dirugikan," tuturnyaulas dia.
 
Meski demikian ada satu segmen yang tidak merugikan pasangan Jokowi-Ma'ruf jika memilih golput yakni di segmen kalangan pelajar. Sebab dalam segmen ini Prabowo-Sandi unggul 9,3 persen.
 
"Pasangan Prabowo-Sandi lebih unggul 45,4 persen dari pasangan Jokowi-Ma'ruf yang hanya 36,1 persen," pungkas dia.
 
Survei LSI Denny JA dilakukan pada 18-25 Januari 2019. Pengumpulan data dilakukan terhadap 1.200 responden dengan metode multi stage random sampling dan wawancara tatap muka. Adapun, margin of error survei 2,9 persen.
 

(SCI)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif