Demonstran menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung Bawaslu, Jakarta. Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Demonstran menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung Bawaslu, Jakarta. Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso

Waspadai Penyusup di Aksi 22 Mei

Pemilu Demo Massa Penolak Pemilu
22 Mei 2019 13:14
Jakarta: Masyarakat dan polisi diminta mewaspadai adanya penyusup dalam aksi unjuk rasa di depan Gedung Bawaslu. Mereka diduga sengaja dikerahkan untuk memprovokasi dan membuat rusuh agar Indonesia tidak kondusif.
 
"Sepertinya ada penyusup yang ingin membuat negeri ini kacau dengan mengadu domba aparat keamanan dengan masyarakat," kata Pengamat Hukum, Politik dan Keamanan, Dewinta Pringgodani, Rabu 22 mei 2019.
 
Dewinta mengungkapkan, sebelum terjadi unjuk rasa di Bawaslu pada Selasa 21 Mei 2019, aparat gabungan menangkap seorang purnawirawan jenderal yang diduga hendak menyelundupkan senjata yang diduga untuk keperluan aksi 22 Mei di Jakarta.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Itu yang harus kita pahami. Bahwa aksi unjuk rasa soal Pilpres ini telah ditunggangi kelompok tertentu yang ingin situasi politik dan keamanan di dalam negeri tidak kondusif," kata Dewinta.
 
Dewinta percaya pendukung Capres 02 Prabowo Subinato murni memperjuangkan tuntutannya dan semua ditunjukkan dengan aksi damai serta mematuhi imbauan polisi. Namun, ada dugaan terdapat kelompok tertentu yang ingin membuat situasi kacau. "Saya kira Polri dan BIN sudah tahu siapa penumpang gelap demokrasi tersebut," ujar Dewinta.
 
Baca: Polisi Buru Aktor Intelektual di Balik Rusuh Petamburan
 
Dewinta juga mendukung sikap aparat keamanan yang menindak para perusuh. "Saya pikir mereka ini bukan unjuk rasa yang berjuang demi demokrasi ya, tapi perusuh. Kalau perusuh ya harus ditindak tegas," cetusnya.
 
Dewinta memgimbau aksi unjuk rasa dihentikan lantaran sudah ditunggangi pihak ketiga yang ingin membuat kerusuhan. Dewinta juga mengapresiasi Prabowo Subianto yang membawa sengketa Pilres ke Mahkamah Konstitusi.
 
"Memang itu salurannya dan kita dukung itu," kata Dewinta.
 
Karopenmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo memastikan pihaknya akan mendalami penyuntik dana yang membayar para pedemo. Dugaan sementara, elite politik bermain di belakang pedemo.
 
"Tentunya (didalami), nanti para saksi yang mengetahui itu akan dimintai keterangan. Kalau ada keterlibatan partai politik akan didalami terus, siapa aktor intelektual di balik itu semua," kata Dedi di Mabes Polri.
 
Mabes Polri mengungkap ditemukan bukti satu unit ambulans berlogo partai politik yang di dalamnya terdapat batu dan alat-alat tajam. Kendaraan tersebut juga dipenuhi amplop serta uang. Massa yang melakukan tindakan anarkistis juga disebut bukan massa spontan melainkan diduga telah direkayasa sedemikian rupa.
 

(FZN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif