Ketua KPU RI Arief Budiman. Foto: Medcom.id/Achmad Zulfikar Fazli
Ketua KPU RI Arief Budiman. Foto: Medcom.id/Achmad Zulfikar Fazli

KPU Antisipasi Serangan Siber

Pemilu pemilu serentak 2019
Damar Iradat • 14 Maret 2019 21:48
Jakarta: KPU mengantisipasi adanya serangan siber yang menyasar situs KPU dengan menggandeng sejumlah pihak untuk mengamankan situs tersebut.
 
Ketua KPU Arief Budiman mengatakan, pihaknya sudah menangani permasalahan itu. "Kami berkoordinasi dengan BIN, cyber crime Mabes Polri, Kominfo, BPPT, semua lembaga maupun individu yang bisa menyelesaikan ini kami ajak kerja sama," kata Arief usai mengikuti rapat koordinasi penyelenggaraan Pemilu di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Kemenkopolhukam) Jakarta, Kamis, 14 Maret 2019.
 
Soal serangan siber yang sempat menyasar situs KPU, menurut Arief sudah dapat ditangani. Serangan siber kemarin, kata dia, memang sampai yang mencoba masuk sistem induk KPU, namun semua bisa diatasi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Arief meminta masyarakat tak khawatir, yang terpenting adalah masyarakat harus tahu jika hasil resmi Pemilu itu ditetapkan berdasarkan berita acara manual yang dilakukan secara berjenjang mulai dari tingkat TPS (tempat pemungutan suara), kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, sampai direkap di tingkat nasional.
 
"Jadi, andaikan sistem kita enggak digunakan pun, atau sistem kita down sekali pun, pemilunya enggak terganggu," jelasnya.
 
Arief mengungkapkan, KPU tetap membutuhkan penggunaan teknologi informasi dalam Pemilu untuk menyediakan proses dan hasil pemilu secara cepat kepada masyarakat.
 
"Transparan, biar orang tahu semua. Jadi, orang bisa ikut mengontrol," ujar Arief.
 
Ia menyampaikan, serangan siber kepada KPU sudah lama terjadi. Dalam Pemilu ini, KPU sudah mendeteksi adanya serangan siber sejak tahapan pertama dimulai.
 
"Sejak pilkada sistem informasi kita sudah diserang. Bahkan seingat saya ketika Pemilu 2004 sudah ada yang diserang, Pemilu 2009 juga. 2014 kemarin ketika saya di sini juga sudah ada," ungkap Arief.
 
Kendati demikian, Arief memastikan KPU terus memperbaiki sistem keamanan situsnya. Baik dari segi perangkat keras maupun lunak.
 
"Insyaallah lebih baik, kita terus memperbaiki diri. Dan kemudian sistem kita diperbaiki bukan hanya dari hardwarenya, softwarenya juga kita perbaiki," tegasnya.
 
Baca: Situs Penyelenggara Pemilu Potensial Diretas
 
Soal serangan siber yang disebut dilancarkan dari China dan Rusia, menurut Arief hal itu salah kaprah. Menurutnya, peretas tersebut menggunakan Internet Protocol (IP) adress dari berbagai negara, bukan hanya China dan Rusia.
 
"Jadi, yang masuk ke kita itu setelah kita lihat IP address-nya itu bisa dari mana-mana. Dari domestik maupun dari internasional. Tetapi meskipun IP address itu ketahuan dari dalam negeri maupun dari luar negeri, kita kan enggak tahu siapa dia," ujar Arief.
 
Menurut dia, bisa saja IP adress tersebut memang dari luar negeri, tetapi pelakunya juga orang Indonesia. Pun sebaliknya, bisa jadi pelaku orang luar, tapi menggunakan IP adress Indonesia.
 
"Kalau kemarin ada yang nulis ini hacker dari China dan Rusia, enggak begitu. Yang melakukan itu dari banyak negara. Jadi, jangan kemudian seolah-olah dari mereka. Tapi, itu IP address-nya bukan hanya dari China dan Rusia, dari banyak tempat," ujar Arief.
 

(FZN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif