Tim Kajian Lintas Disiplin Ilmu, Universitas Gadjah Mada (UGM) - Medcom.id/Faisal Abdalla.
Tim Kajian Lintas Disiplin Ilmu, Universitas Gadjah Mada (UGM) - Medcom.id/Faisal Abdalla.

Peneliti UGM: Petugas KPPS Meninggal Karena Faktor Alami

Pemilu pemilu serentak 2019
Faisal Abdalla • 25 Juni 2019 16:47
Jakarta: Tim Kajian Lintas Disiplin Ilmu, Universitas Gadjah Mada (UGM) menyebut petugas penyelenggara pemungutan suara (KPPS) yang meninggal dunia disebabkan faktor alami. Tim Kajian tak menemukan adanya 'sabotase' dalam kasus tersebut.
 
"Data kami menunjukkan semua yang meninggal itu disebabkan oleh faktor natural. Kami sama sekali tak menemukan indikasi misalnya diracun, atau sebab-sebab lain yang lebih ekstrem," kata Peneliti UGM, Abdul Gaffar Karim dalam konferensi pers di Gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jakarta, Selasa, 25 Juni 2019.
 
Gaffar mengatakan sebagian besar petugas KPPS yang meninggal disebabkan karena permasalaham kardiovaskular. Selain itu, mayoritas petugas KPPS meninggal juga merupakan seseorang yang pernah memiliki riwayat multiple morbidity atau mengalami penyakit yang berulang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Petugas dengan multiple morbidity itu lebih rentan untuk mengalami kesakitan dan meninggal pascapemilu," ujarnya.
 
Kajian ini dilakukan tim peneliti UGM dari tiga fakultas, yaitu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol), Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK), serta Fakultas Psikologi UGM. Kajian dilakukan dengan melakukan autopsi verbal kepada lingkungan tempat ditemukanya kasus petugas KPPS meninggal.
 
(Baca juga:Kemenkes Beberkan 13 Penyakit Penyebab Kematian Petugas KPPS)
 
Adapun populasi survei terbagi dua, yaitu perwakilan tempat pemungutan suara (TPS) dan petugas pemilu yang terdiri dari KPPS, PPS, dan PPK. Sebanyak 400 TPS di DI Yogyakarta dipilih sebagai sampel.
 
"Kajian ini akan kami kembangkan ke level nasional. Saat ini kami mematangkan yang DIY dulu agar kami bisa menguatkan instrumen sebelum ke seluruh daerah di indonesia," ujarnya.
 
Isu petugas KPPS meninggal karena diracun sebelumnya kembali diungkit oleh penceramah Rahmat Baequni. Dia telah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan penyebaran hoaks oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jawa Barat.
 
"Kemarin hari Kamis, 20 Juni 2019, tim penyelidik langsung untuk mengamankan saudara RB, kemudian tadi malam langsung proses pemeriksaan, saat ini proses itu sudah dilanjutkan untuk menjadi proses penyidikan," kata Kabidhumas Polda Jawa Barat, Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko di Mapolda Jawa Barat, Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Jumat, 21 Juni 2019.
 
Truno memaparkan, penyidik Ditreskrimsus Polda Jabar sedang mendalami dugaan video hoaks oleh Rahmat Baequni. Dia menyayangkan, pernyataan dugaan hoaks penceramah itu dilakukan di tempat ibadah.

 

(REN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif