Ketua KPU Arief Budiman (paling kanan) dalam diskusi bertajuk 'Silent Killer Pemilu Serentak' di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Foto: Faisal Abdalla/Medcom.id
Ketua KPU Arief Budiman (paling kanan) dalam diskusi bertajuk 'Silent Killer Pemilu Serentak' di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Foto: Faisal Abdalla/Medcom.id

KPU: Terlalu Dini Menyimpulkan Pemilu Gagal

Pemilu pemilu serentak 2019
Faisal Abdalla • 27 April 2019 13:22
Jakarta: Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyebut terlalu dini menyimpulkan Pemilu Serentak 2019 gagal. Evaluasi pemilu baru bisa dilakukan setelah seluruh tahapan selesai.
 
"Menyimpulkan Pemilu 2019 gagal, Pemilu 2019 curang, menurut saya terlalu dini," kata Ketua KPU Arief Budiman dalam diskusi bertajuk 'Silent Killer Pemilu Serentak' di Jalan KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Sabtu, 27 April 2019.
 
Arief menegaskan Pemilu Serentak 2019 sangat transparan. Semua pihak bisa mengawasi mulai dari tahapan pemungutan hingga rekapitulasi hasil penghitungan suara.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Rekapitulasi penghitungan suara saat ini baru sampai di tingkat Kabupaten/Kota. Setelah selesai di tingkat Kabupaten/Kota, rekap dilanjutkan ke tingkat Provinsi dan Nasional.
 
"Yang jelas saya sampaikan, Pemilu 2019 adalah Pemilu yang sangat transparan. Itulah yang kemudian memunculkan partisipasi banyak pihak di banyak tempat," kata Arief.
 
Arief meminta semua pihak tak menyimpulkan penyelenggaraan pemilu gagal. Semua pihak diminta menunggu semua proses pemilu rampung.
 
"Jadi silakan menyimpulkan apakah ini gagal atau apakah ini curang, nanti setelah seluruh proses selesai mari kita evaluasi sama-sama," ujar mantan Koordinator University Network For Free And Fair Election Jawa Timur itu.
 
Pencoblosan Pemilu 2019 sudah berlangsung pada Rabu, 17 April 2019. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia, publik memilih secara bersamaan presiden serta wakilnya di DPR, DPRD, dan DPD.
 
Namun, Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Titi Anggraini mengkritik pemilu serentak ini. Pelaksanaan pesta demokrasi dengan model ini dianggap tidak efektif.
 
Sementara itu, pengamat politik dari LSI Denny JA Adji Alfaraby menilai Pemilu Serentak 2019 terlalu memaksakan. Akibatnya, Pemilihan Legistatif (Pileg) 'tenggelam' dari Pemilihan Presiden (Pilpres).
 
Bukti dari 'tenggelamnya' Pileg terdapat dari percakapan publik di media sosial maupun media yang kredibel. Sebanyak 70 persen masyarakat hanya membahas jagoannya sebagai presiden dan wakil presiden.
 

(AZF)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:26
  • SUBUH04:36
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif