Petugas KPU menyiapkan peralatan untuk acara Validasi dan Persetujuan Surat Suara Anggota DPR, Presiden dan Wakil Presiden di kantor Pusat KPU, Jakarta. (Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja)
Petugas KPU menyiapkan peralatan untuk acara Validasi dan Persetujuan Surat Suara Anggota DPR, Presiden dan Wakil Presiden di kantor Pusat KPU, Jakarta. (Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja)

Filosofi 'Putih-putih' Jokowi-Ma'ruf

Pemilu pilpres 2019 Jokowi-Ma`ruf
05 Januari 2019 09:53
Jakarta: Calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf Amin memilih busana serba putih berpadu dengan songkok hitam untuk dipasang di surat suara Pilpres 2019. Bukan tanpa alasan 'putih-putih' yang dikenakan Jokowi-Ma'ruf bentuk dari orisinalitas kepribadian keduanya.
 
"Kalau Ma'ruf kan memang sehari-hari (pakaiannya) seperti itu. Beliau kan ulama tidak mungkin kita pakaikan celana jeans misalnya dan Jokowi juga hanya menyesuaikan dengan Kyai Ma'ruf karena itu lebih baik," ujar Direktir Komunikasi Politik Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Usman Kansong dalam Metro Pagi Primetime, Sabtu, 5 Januari 2019.
 
Usman mengatakan pakaian serba putih mulai dikenakan Jokowi sejak mengumumkan kabinet kerja lepas Pilpres 2014. Sejak saat itu pakaian putih identik dengan Jokowi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hal inilah yang diteruskan dalam Pilpres 2019, di samping pemilihan warna putih melambangkan bersih dan suci. "Artinya kita ingin menang tapi menang (secara) bersih bukan menang (hasil) curang," kata dia.
 
Menurut Usman pemilihan pakaian serba putih juga representasi bahwa pemilu harus dilaksanakan secara bersih. Tidak boleh ada hoaks atau kampanye hitam. Juga, kubu petahana ingin menunjukkan bahwa Jokowi berasal dari rakyat, karenanya pakaian yang dikenakan pun sama dengan yang dipakai oleh rakyat kebanyakan.
 
"Katakanlah orisinalitas kan kalau jas bukan orisinal Indonesia. Jadi siapa bilang kalau pakai jas lebih berwibawa, tidak juga. Kewibawaan bukan dari tampilan pakaian tapi kepribadian, itu juga simbol yang ingin disampaikan ke masyarakat; kedekatan dan orisinalitas tanpa menghilangkan wibawa," terang Usman.
 
Ia menambahkan pemilihan songkok hitam pun menyesuaikan dengan nilai-nilai ke-Indonesiaan.Songkok merupakan simbol nasional kendati mayoritas masyarakat Indonesia mengidentikkan songkok sebagai simbol umat Islam.
 
"Padahal tidak seperti itu karena kalau kita ke Sumatera Utara misalnya, orang nonmuslim terbiasa memakai peci bahkan di NTT suvenirnya juga peci. Ini simbol nasional banget dan saya kira ini menampilkan ke-Indonesiaan kita," pungkasnya.
 

 

(MEL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi