Industri otomotif nasional dan pendukungnya mulai teriak soal aturan yang tak adil bagi mereka di masa PPKM. BMW
Industri otomotif nasional dan pendukungnya mulai teriak soal aturan yang tak adil bagi mereka di masa PPKM. BMW

PPKM Diperpanjang, Industri Otomotif dan Aftermarket Megap-Megap

Otomotif industri otomotif audio mobil
Ahmad Garuda • 25 Juli 2021 21:15
Lincah mengutak-atik audio kendaraan, sudah jadi keahlian tersendiri bagi CEO PT Audioworkshop dan Founder Car Aftermarket Network (CAN), Wahyu Tanuwidjaja. Namun sejak pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat atau PPKM, jaringan tokonya ditutup karena unit usahanya tak termasuk dalam sektor esensial/kritikal yang diatur dalam surat edaran Kementerian soal PPKM itu.
 
Ia pun lantas berbicara soal bagaimana pemerintah membagi soal sektor yang esensial/kritikal dan sektor yang tidak. Mengingat pembatasan ini dikatakannya tidak diatur dengan baik dan adil. Misalnya pemberian kewenangan ke pengusaha restoran untuk bisa buka, namun hanya boleh menerima pesanan 'take away' atau 'delivery'. Sedangkan usaha selain itu harus tutup, padahal para pengusaha ini harus tetap membayar gaji karyawan.
 
"Lalu dari mana kami pengusaha ini akan membayar gaji karyawan jika usaha kami ditutup? Kita jangan asal mengatakan hanya untuk usaha di sektor penjualan kebutuhan pokok yang esensial dan kritikal. Lantaran orang yang bekerja di semua sektor usaha otomotif pun, akan esensial dan kritikal bagi mereka. Bisa dibayangkan, jika pengusaha ini tak bisa membayar gaji karyawan karena penghasilan sudah minus, lalu siapa yang disalahkan?" ujar Wahyu dalam sesi obrolan virtual bersama jurnalis beberapa waktu lalu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sependapat dengan Wahyu, Inisiator Event dan Asia Pasific Car Tuning Association (APACT) Indonesia, Boy Prabowo, dalam momentum yang sama mengatakan bahwa mereka sudah lama tak menggelar event besar. Lantaran kondisi sejak beberapa tahun sebelum pandemi, memang tren car tuning agak bergeser. Sehingga Ia mengakalinya dengan beberapa cara, termasuk kompetisi digital modification.
 
"Kami tidak tahu, ini mau dibawa ke mana? Aturan yang diberlakukan sangat tidak adil. Kita bisa lihatlah, orang-orang berbelanja mobil atau motor, rasanya tidak akan seramai orang ke pasar untuk membeli kebutuhan umum. Memangnya orang di pasar pada patuh prokes? Bandingkan dengan showroom bahkan event seperti yang kami gelar, aturan protokol kesehatannya sangat ketat. Lalu kalau ditutup, bagaimana pengusaha bisa membayar kru dan karyawannya?" ujar Boy.
 
Keduanya pun sepakat agar pemerintah melakukan perbaikan dari sisi regulasi pembatasan. Bukan hanya melakukan pembatasan ini dan itu tanpa ada regulasi yang lengkap, termasuk sanksi pelanggaran. Wahyu melanjutkan bahwa solusi yang paling masuk akal bagi mereka adalah menyediakan obat-obatan hingga keperluan mendasar jika karyawannya ada yang terkena gejala Covid-19.
 
 
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif