Jakarta – Diskusi publik INSTRAN (Inisiatif Strategis Transportasi) bersama Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), pada awal tahun 2026 ini dilangsungkan, dan masih mengangkat tema keberlanjutan transportasi publik di Tanah Air.
Berjalan seru dan menarik, diskusi turut dihadiri sedikitnya 61 peserta offline, dan ratusan peserta online. Serta melibatkan lima praktisi di bidang masing-masing sebagai pembicaranya. Mulai dari akademisi, pakar tata kota, hingga perwakilan komunitas pengguna jalan.
Sesi diskusi berjalan mulai pukul 10 pagi hingga makan siang, bertajuk ‘Catatan Transportasi Awal Tahun 2026: Menjaga Keberlanjutan Layanan Angkutan Umum di Tengah Efisiensi Anggaran’. Dihelat di Sekretariat KPBB, Skyline Building, Lt.16, Jl. M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (8/1/2025).
Founder INSTRAN Ki Dharmaningtyas dalam membuka acara diskusi, mencoba memaparkan sekilas, tentang gambaran umum kondisi transportasi nasional.
Baca Juga:
Harga Daihatsu Xenia 2015, MPV Murah Cocok Buat Awal Tahun!
Tyas, sapaan akrabnya, menyampaikan seputar efisiensi anggaran, yang dapat berdampak pada kualitas layanan angkutan umum. Tidak hanya di Jabodetabek, melainkan seluruh Indonesia, terutama di kawasan perkotaan dengan tingkat mobilitas tinggi.
“Bicara transportasi publik, seharusnya yang disubsidi Pemerintah kita bukan mobil dan sepeda motor listrik. Tetapi yang disubsidi itu bus listrik, agar semakin banyak tersedia angkutan umum massal yang aman dan nyaman bagi masyarakat,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pembina INSTRAN, Bambang Susantono, menegaskan, transportasi publik tidak boleh diposisikan sekadar fasilitas pelengkap. Melainkan bagian dari hak dasar masyarakat, yang juga harus dijaga keberlanjutannya.
“Mobilitas bukan sekadar soal berpindah tempat, tetapi merupakan hak dasar yang harus dijamin melalui transportasi publik yang aman, inklusif, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Lebih lanjut dikatakannya, sistem transportasi publik yang andal memiliki peran penting dalam menekan kemacetan, meningkatkan keselamatan jalan, serta mengurangi emisi kendaraan bermotor. Paparan dilanjutkan Pakar Tata Kota, Nirwono Yoga. Dia menyoroti pentingnya perencanaan kota berbasis transportasi publik.
Baca Juga:
Aman Ga Sih Beli Mobil Bekas Banjir?
Yoga lebih menekankan pembangunan infrastruktur harus berorientasi pada manusia, dan bukan semata pada kendaraan. Tujuannya jelas, agar mobilitas perkotaan dapat berjalan lebih efisien dan berkelanjutan.
Selaku narasumber diskusi yang lain, Ketua MTI Wilayah Jakarta, Yusa Cahya Permana memaparkan perspektif kebijakan transportasi. Khususnya terkait integrasi antar moda dan konsistensi regulasi agar layanan angkutan umum tetap kompetitif di tengah dominasi kendaraan pribadi.
Ditinjau dari sudut pandang pengguna jalan, Koordinator Program KBB sekaligus perwakilan Koalisi Pejalan Kaki, Alfred Sitorus mengingatkan, transportasi publik yang baik harus didukung infrastruktur ramah pejalan kaki.
“Keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan non-motorized merupakan bagian tak terpisahkan dari sistem transportasi yang inklusif. Hal itu juga perlu menjadi perhatian semua pihak,” tuntasnya.
Melalui diskusi ini, INSTRAN dan KPBB berharap pengembangan transportasi publik yang lebih baik di Indonesia tidak hanya berhenti sebatas konsep dan wacana. Melainkan dapat direalisasikan menjadi kebijakan nyata. Mendukung mobilitas masyarakat secara aman, efisien, dan berkelanjutan. (Autogear.id/Alun Segoro)
Jakarta – Diskusi publik
INSTRAN (Inisiatif Strategis Transportasi) bersama Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), pada awal tahun 2026 ini dilangsungkan, dan masih mengangkat tema keberlanjutan
transportasi publik di Tanah Air.
Berjalan seru dan menarik, diskusi turut dihadiri sedikitnya 61 peserta offline, dan ratusan peserta online. Serta melibatkan lima praktisi di bidang masing-masing sebagai pembicaranya. Mulai dari akademisi, pakar tata kota, hingga perwakilan komunitas pengguna jalan.
Sesi diskusi berjalan mulai pukul 10 pagi hingga makan siang, bertajuk ‘Catatan Transportasi Awal Tahun 2026: Menjaga Keberlanjutan Layanan Angkutan Umum di Tengah Efisiensi Anggaran’. Dihelat di Sekretariat KPBB, Skyline Building, Lt.16, Jl. M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (8/1/2025).
Founder INSTRAN Ki Dharmaningtyas dalam membuka acara diskusi, mencoba memaparkan sekilas, tentang gambaran umum kondisi transportasi nasional.
Tyas, sapaan akrabnya, menyampaikan seputar efisiensi anggaran, yang dapat berdampak pada kualitas layanan angkutan umum. Tidak hanya di Jabodetabek, melainkan seluruh Indonesia, terutama di kawasan perkotaan dengan tingkat mobilitas tinggi.
“Bicara transportasi publik, seharusnya yang disubsidi Pemerintah kita bukan mobil dan sepeda motor listrik. Tetapi yang disubsidi itu bus listrik, agar semakin banyak tersedia angkutan umum massal yang aman dan nyaman bagi masyarakat,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Dewan Pembina INSTRAN, Bambang Susantono, menegaskan, transportasi publik tidak boleh diposisikan sekadar fasilitas pelengkap. Melainkan bagian dari hak dasar masyarakat, yang juga harus dijaga keberlanjutannya.
“Mobilitas bukan sekadar soal berpindah tempat, tetapi merupakan hak dasar yang harus dijamin melalui transportasi publik yang aman, inklusif, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Lebih lanjut dikatakannya, sistem transportasi publik yang andal memiliki peran penting dalam menekan kemacetan, meningkatkan keselamatan jalan, serta mengurangi emisi kendaraan bermotor. Paparan dilanjutkan Pakar Tata Kota, Nirwono Yoga. Dia menyoroti pentingnya perencanaan kota berbasis transportasi publik.
Yoga lebih menekankan pembangunan infrastruktur harus berorientasi pada manusia, dan bukan semata pada kendaraan. Tujuannya jelas, agar mobilitas perkotaan dapat berjalan lebih efisien dan berkelanjutan.
Selaku narasumber diskusi yang lain, Ketua MTI Wilayah Jakarta, Yusa Cahya Permana memaparkan perspektif kebijakan transportasi. Khususnya terkait integrasi antar moda dan konsistensi regulasi agar layanan angkutan umum tetap kompetitif di tengah dominasi kendaraan pribadi.
Ditinjau dari sudut pandang pengguna jalan, Koordinator Program KBB sekaligus perwakilan Koalisi Pejalan Kaki, Alfred Sitorus mengingatkan, transportasi publik yang baik harus didukung infrastruktur ramah pejalan kaki.
“Keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan non-motorized merupakan bagian tak terpisahkan dari sistem transportasi yang inklusif. Hal itu juga perlu menjadi perhatian semua pihak,” tuntasnya.
Melalui diskusi ini, INSTRAN dan KPBB berharap pengembangan transportasi publik yang lebih baik di Indonesia tidak hanya berhenti sebatas konsep dan wacana. Melainkan dapat direalisasikan menjadi kebijakan nyata. Mendukung mobilitas masyarakat secara aman, efisien, dan berkelanjutan. (Autogear.id/Alun Segoro)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(UDA)