Hasil ini membuat pelatih Liverpool, Andoni Iraola, kecewa berat. Ia menilai timnya melakukan kesalahan fatal karena membiarkan Fenerbahce mencetak tiga gol melalui situasi yang sebenarnya sudah diantisipasi sebelum pertandingan.
Menurut Iraola, kelemahan Liverpool dalam menghadapi bola mati menjadi faktor utama di balik kekalahan tersebut. Padahal, ia merasa anak asuhnya selama ini memiliki catatan cukup baik dalam mengantisipasi situasi serupa.
"Alasan utama saya melihat kami kalah dalam pertandingan ini adalah karena kami kebobolan tiga gol dari situasi bola mati. Padahal, selama ini kami tampil sangat baik di liga dalam mengantisipasi situasi tersebut," ujar Iraola seperti dikutip dari laman resmi klub.
Tiga Gol Fenerbahce Jadi Mimpi Buruk Liverpool
Iraola secara khusus menyoroti cara Liverpool kebobolan. Ia menyebut gol pertama Fenerbahce tercipta melalui tendangan bebas dari jarak cukup jauh, sedangkan gol terakhir lahir dari skema lemparan ke dalam jarak jauh. Baginya, kedua gol tersebut seharusnya bisa diantisipasi dengan lebih baik oleh barisan pertahanan Liverpool."Itu adalah gol yang terlalu mudah kebobolan. Gol dari tendangan bebas yang cukup jauh pula dan kesalahan ini bisa menghukum kami. Gol terakhir mereka berasal dari lemparan jauh," paparnya.
Sementara itu, gol kedua Fenerbahce terjadi setelah Cody Gakpo melakukan sentuhan di depan Ali. Iraola memahami bahwa situasi pertandingan di stadion Fenerbahce sangat menyulitkan para pemain untuk berkomunikasi. Atmosfer stadion yang begitu riuh membuat instruksi dari pinggir lapangan maupun komunikasi antarpemain sulit terdengar.
"Di stadion ini hampir mustahil untuk berkomunikasi karena sangat berisik. Bahkan sangat sulit bagi saya untuk memberi instruksi, jadi sulit bagi Ali dan Cody untuk berkomunikasi," ungkapnya.
Iraola Sudah Peringatkan Liverpool soal Bola Mati
Kekecewaan Iraola semakin besar karena dirinya sudah mengingatkan para pemain Liverpool untuk mewaspadai kekuatan Fenerbahce dalam memanfaatkan situasi bola mati. Pelatih tersebut mengetahui bahwa skema bola mati merupakan salah satu senjata andalan lawannya musim ini. Namun, peringatan tersebut ternyata tidak cukup untuk mencegah Liverpool kebobolan melalui berbagai situasi tersebut. "Kami tahu bahwa bola mati merupakan salah satu kekuatan Fenerbahce. Namun, kami kebobolan melalui tendangan bebas, tendangan sudut, bahkan lemparan ke dalam jarak jauh di akhir pertandingan," jelasnya.Iraola juga menyesalkan hasil akhir pertandingan karena Liverpool sebenarnya sempat dua kali berada dalam posisi unggul. The Reds mampu menciptakan sejumlah peluang dan mengendalikan jalannya permainan dalam beberapa momen penting. Sayangnya, keunggulan tersebut tidak mampu dipertahankan akibat kesalahan dalam mengantisipasi bola mati.
"Gol-gol tersebut sangat menyakitkan bagi kami karena dua kali kami berhasil unggul setelah melalui momen-momen yang bagus, mengendalikan permainan, dan menciptakan peluang. Kami berhasil mencetak gol, tetapi setelah itu justru kebobolan melalui situasi yang seharusnya bisa kami antisipasi dengan lebih baik," tuturnya.
Liverpool Harus Segera Bangkit dari Kekalahan
Bagi Iraola, kekalahan dari Fenerbahce terasa semakin menyakitkan karena Liverpool sebenarnya memiliki peluang besar untuk membawa pulang kemenangan. Ia mengakui bahwa bermain di kandang Fenerbahce bukan perkara mudah.Dukungan suporter tuan rumah yang luar biasa menciptakan tekanan tersendiri bagi tim tamu. Namun, Iraola tetap merasa Liverpool seharusnya mampu mengamankan hasil lebih baik jika tidak melakukan kesalahan mendasar dalam bertahan.
"Sepanjang sebagian besar pertandingan, kami merasa, 'Oke, kami bisa memenangkan pertandingan ini.' Namun, pada akhirnya hal itu tidak terjadi," ujarnya.
Ia kembali menegaskan bahwa buruknya koordinasi pertahanan menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi Liverpool. Menurutnya, gol pertama seharusnya bisa dicegah jika para pemain menyusun pagar betis dengan benar. Sementara gol terakhir memperlihatkan lemahnya antisipasi duel udara di kotak penalti.
"Untuk gol pertama, saya rasa kami tidak menyusun pagar betis dengan benar. Sementara pada gol terakhir, Muriqi berhasil melompat dan memenangkan duel udara meskipun ada tiga pemain bertahan kami di sekitarnya," jelas Iraola.
Pelatih Liverpool itu berharap kekalahan menyakitkan ini menjadi pelajaran penting bagi seluruh pemain. Ia ingin anak asuhnya benar-benar merasakan dampak dari hasil buruk tersebut agar tidak mengulangi kesalahan serupa pada pertandingan berikutnya.
"Hal-hal seperti ini jelas merupakan sesuatu yang harus kami perbaiki dan pertahankan dengan lebih baik ke depannya," pungkasnya.