Asep Saefuddin Asep Saefuddin Rektor Universitas Al Azhar Indonesia (UAI)

OSC Metrotvnews.com, Mimpi yang Terwujud

Asep Saefuddin 21 Desember 2017 00:03 WIB
beasiswa osc
OSC Metrotvnews.com, Mimpi yang Terwujud
Peserta mengikuti tes OSC Metrotvnews.com/Medcom/Findo Gading
Asep Saefuddin
Rektor Universitas Al Azhar Indonesia (UAI)

SAYA patut acungkan jempol bagi kepedulian medcom.id terhadap dunia pendidikan. Salah satu program yang mereka lakukan adalah OSC (On-line Scholarship Competition) bagi calon mahasiswa baru universitas. Melalui kekuatan IoT (Internet of Things) maka OSC bisa menjangkau berbagai pelosok nusantara. Sehingga para peserta OSC ini datang dari berbagai daerah untuk menuntut ilmu ke Pulau Jawa.


medcom.id mengawali OSC ini tahun 2015 melalui kerjasama dengan lima PTS, yakni Universitas Al Azhar Indonesia, Universitas Mercu Buana, Universitas Multimedia Nusantara, Universitas Trisakti, dan Universitas Pelita Harapan. Pada saat itu peserta OSC hanya sekitar 5.000 orang. Lalu, tahun 2016 PTS yang turut serta menjadi 10 dan peserta OSC sekitar 28.000 orang.

Tahun 2017 ini semakin ramai lagi dengan bertambahnya kampus di Pulau Jawa yang berpartisipasi. Mereka adalah, 1. Universitas Al Azhar Indonesia, 2. Universitas Mercu Buana, 3. Universitas Multimedia Nusantara, 4. Universitas Trisakti, 5. Institut Teknologi Nasional, 6. Universitas Maranatha, 7. Universitas Telkom, 8. Universitas Kristen Duta Wacana, 9. Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, 10. Universitas 17 Agustus 1945, 11. Universitas Gajayana Malang,  dan 12. Universitas Islam Malang. Adapun peserta OSC ada sekitar 42.000 orang. Artinya peningkatan dari tahun ke tahun cukup signifikan.

Ketika saya ditanya wartawan tentang kegiatan OSC ini, saya katakan ini program ini sangat baik dengan animo peserta yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan tidak tertutup OSC melibatkan kampus-kampus di luar Jawa yang sudah siap. Secara konsep memang kerjasama di dalam dunia pendidikan tinggi ini sudah bukan model triple-helix lagi, yakni universitas, pemerintah, dan sektor bisnis swasta. Tetapi harus sudah menjadi quadruple-helix atau 4-helix, dimana helix ke empat adalah media. Empat helix ini bisa mendorong percepatan pembentukan knowledge based society.

Celah yang diambil oleh medcom.id pada quadruple helix lewat OSC saya anggap sangat penting untuk membentuk critical mass intelektual dan profesional di Indonesia. Dewasa ini tenaga kerja kita masih didominasi oleh para lulusan SD (sekitar 60%). Adapun tenaga kerja terdidik setingkat diploma dan sarjana masih di bawah 10%. Artinya masih jauh di bawah jumlah minimum yang seharusnya dipenuhi. Apalagi kalau dikaitkan dengan sarjana entrepreneur, itu masih jauh panggang dari api.

Saringan yang dilakukan dalam OSC ini terbilang sangat ketat. Untuk kasus tahun 2017 ini, dari 42.000 peserta OSC yang masuk ke tahap off-line test (ujian lisan dan tulisan di darat) hanya ada 840 peserta. Kemudian, ujungnya hanya ada sebanyak 240 penerima beasiswa (scholarship) atau 20 orang per PT.

Model kerjasama OSC antara PT dengan medcom.id ini layak untuk dilanjutkan. Untuk tahap ini memang basisnya masih di sekitar kemampuan akademik calon mahasiswa. Hal ini bisa dipertahankan untuk menjaring para calon ilmuwan. Akan tetapi ke depan harus dipikirkan juga untuk menjaring entrepreneur atau lebih tepatnya socio-technopreneur. Mereka itulah yang kelak diharapkan mengisi kekosongan entrepreneur berbasis teknologi yang peduli terhadap kesejahteraan masyarakat.

Dewasa ini dunia semakin terbuka. Hal ini berarti persaingan antara negara akan semakin ketat. Bila penduduk kita tidak diberdayakan untuk menjadi produsen, tentu akan menyenangkan negara lain. Karena di Indonesia akan ada sekitar 260 juta mulut yang menganga memerlukan asupan konsumsi makanan. Belum lagi kalau dihitung banyak tangan yang memerlukan mainan, kaki yang memerlukan sepatu, sandal, dan turunannya. Semua itu menjadi konsumen, bila kita tidak membangun sikap kreatif dan entrepreneur.  Siapa lagi yang mau menolong kita bila bukan kita sendiri.

OSC medcom.id adalah langkah awal yang sulit tetapi sudah dilalui. Seperti halnya kebiasaan menulis, yang sulit itu adalah membuat kalimat pertama. Nah, medcom.id sudah memecahkan tahap yang tidak mudah ini. Selanjutnya tinggal mengembangkan dan menyempurnakan. Saya, sebagai Rektor Universitas Al Azhar Indonesia akan terus turut serta dalam kerjasama OSC ini, termasuk untuk menjaring calon sarjana entrepreneur. Selamat dan semoga terus sukses, medcom.id.[]





(SBH)