JC Pramudia Natal JC Pramudia Natal JC Pramudia Natal

Musik, Soko Guru Pendidikan yang Terlewatkan?

JC Pramudia Natal 03 Desember 2018 14:31 WIB
musikpendidikan
Musik, Soko Guru Pendidikan yang Terlewatkan?
ILUSTRASI: Drama Musikal 'Khatulistiwa' di Teater Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (19/11)/ANTARA FOTO/Angga Pratama.
MUSIK adalah kodrat hidup manusia. Penggubah John Cage membingkainya dengan berkata bahwa kita semua hidup di lautan abadi bunyi. Pandangan ini digemakan dan dibingkai ulang oleh penggubah cum budayawan alm. Suka Hardjana dengan frasa “musik adalah gerak” (Hardjana, Suka. 2018: 160 – 163). 

Sementara itu, penggiat paduan suara dan pengajar psikologi Angela Astri Sumantri merumuskan bagaimana kita mampu mengondisikan dan membudayakan janin melalui rutinitas simak musik. Penelitian ini dapat ditelusuri kepada penemuan terdahulu oleh Sloboda dan rekannya tentang fungsi pembiasaan bermusik sejak usia dini (Lehmann, Andreas C. Sloboda, John A. Woody, Robert H. 2007: 40). 


Mengutip Petualangan Sherina, tulisan ini berupaya mengundang kita untuk sejenak melihat lebih dekat betapa musik dan aspek-aspeknya berkelindan dan menjadi nyawa dalam hidup manusia secara umum, dan menjelma soko guru pendidikan nasional secara khusus. 

Sebagai titik awal, musik menjadi krusial dalam hidup manusia karena aspek-aspeknya dapat kita temukan dalam keseharian. Irama detak jantung sang janin menjadi penanda awal apakah ada kehidupan yang sehat atau tidak. Bunyi dengan segala pembentuknya; titi nada atau intonasi, kelantangan atau volume, artikulasi suara, merupakan aspek pembangun komunikasi keseharian kita. 

Sejak sang janin mengenal ibunya melalui nina-bobo harian, atau ketika mendengar lafal ayahnya dalam doa saat ia baru lahir, hingga berkomunikasi secara professional dalam sehari-hari hidup, kita tidak lepas dari bunyi. Bahkan dalam peristiwa kekinian di jejaring sosial, musik menjadi wahana favorit penyebaran pesan sosial budaya. Dengan demikian seyogianya musik menjadi soko guru pendidikan nasional, sebagaimana pernah dirumuskan KHD dengan prinsip gendhing dan wirama-nya (Dewantara, Ki Hadjar. 1961: 301 – 355) 
 
Kesangkilmangkusan musik dalam pendidikan

Mengejewantahkan gaya generasi milenial, Kemendikbud juga memiliki akun Youtube sendiri. Tercatat 335 rekaman audio-visual (per akses terkini pada 23 November 2018) yang telah diunggah dalam akun tersebut dengan ragam tema isi, mulai pembahasan mata pelajaran hingga sosialisasi program-program Kemendikbud. 

Dari 335 video tersebut ada 1 video yang langsung menarik perhatian mata, yaitu Ojo Bolos Pelajaran (OBP). Dari segi isi, video ini tidak terlalu jauh beda dengan 293 video yang lain, sebagaimana judulnya hanya sekadar imbauan untuk tidak membolos pelajaran sekolah. Namun dua aspek lain membuat video OBP menyeruak di antara yang lain, jumlah pemirsa dan media penyampaian.

Dari segi jumlah pemirsa, jumlah paling banyak untuk sebuah video dari 335 video setelah OBP hanya mencapai 135 ribu pemirsa. Jumlah ini dicapai oleh video Lagu Kebangsaan Indonesia Raya (LKIR), dan bahkan tidak mencapai 10% persen pemirsa video OBP yang mencapai 7 digit, tepatnya 2 juta pemirsa. 

Semakin menohok ketika membaca durasi tayang. OBP mencapai jumlah pemirsa demikian hanya dalam tempo 8 bulan, sementara video LKIR membutuhkan 2 tahun untuk mencapai kurang dari 10%-nya. 

Aspek lain yang membuat video OBP semakin menyolok mata dibandingkan ratusan video Kemendikbud lainnya adalah cara penyampaiannya, yaitu berbentuk video klip musik kelompok band Yowis Ben (dari layar lebar berjudul sama besutan Bayu "Skak" Eko Moektito dan Fajar Nugros). 
 

Apakah fenomena lakunya musik sebagai wahana pendidikan adalah sesuatu yang perlu diherankan? Seharusnya tidak, jika kita sungguh-sungguh menghidupi nilai orang yang kita gadang-gadang sebagai bapak pendidikan, Ki Hadjar Dewantara.


Secara gamblang beliau memaparkan bahwa tujuan pendidikan adalah “memperhalus budi dan rasa” yang dicapai melalui “latihan gending”, karena hal tersebut merupakan “imbangan latihan bahasa, kedua-duanya tak dapat dipisahkan satu sama lain, untuk menuju kesempurnaan tindak kesarjanaan dan kesujanaan” (Dewantara, Ki Hadjar. 1961: 303). Tidak hanya dalam falsafah yang terbukukan, Ki Hadjar Dewantara sendiri telah menghidupi musik pendidikannya melalui salah satu gubahannya, Kinanthie Sandoong.
  
Musik dan Taman Siswa: sejarah yang dikesampingkan

Apabila kasus Youtube Kemendiknas terjadi di dalam situasi kondisi saat ini, maka yang lebih terasa memilukan adalah sedikit usaha didedikasikan untuk merayakan peran dan pencapaian musikal bapak pendidikan nasional. Ketika pendidikan saat ini terus digadang-gadang menghasilkan manusia modern melalui pendekatan abad 21, sementara nun dahulu kala di awal langkahnya pendidik nasional Indonesia telah menunjukkan modernitasnya, melalui karya musik dan musikalitas mereka.

Etnomusikolog- musikus R. Franki S. Notosudirdjo atau Franki Raden memaparkan bagaimana dua tokoh kunci pendiri dan pelaksana Taman Siswa adalah juga seorang musikus seni yang ulung (Modernisme Musik Dalam Abad Kedua Puluh, dalam Bart Barendregt dan Els Bogaerts. 2016: 145 – 157), yang mana kedua tokoh ini tidak lain dan tidak bukan adalah Soewardi Soerjaningrat atau Ki Hadjar Dewantara dan pamannya. R.M. Soerjo Poetro.

Ki Hadjar Dewantara meninggalkan jejak langkah musik dan ideologi modernitasnya dalam gubahan Kinanthie Sandoong. Apabila modernitas dimaknai sebagai keadaan di mana lebih dari satu budaya hidup, berdialog, dan berkelindan maka Kinanthie Sandoong telah jauh melewati jamannya menyampaikan pesan modernitas, terutama mengingat bagaimana Ki Hadjar hidup dalam tradisi dan budaya musik gamelan yang kental. 

Ada dua alasan untuk klaim di atas, musikal dan sosio-kultural. Alasan musikal, karya ini ditulis untuk jenis suara sopran dan alat pengiring piano dengan penggunaan konsep harmoni Triad dan sekuen nada bas yang mana merupakan warisan musik seni Barat, namun sang sopran harus bernyanyi dengan teknik cengkok wilet dan transkripsi piano berdasar kepada instrumen gender dalam gamelan yang keduanya merupakan warisan musik seni Jawa (Franki S. Notosudirdjo, 2016: 146). 

Sementara itu secara sosio-kultural, Kinanthie Sandoong digubah selama pembuangan Ki Hadjar di Belanda oleh karena aktifitas politiknya. Mengakomodir keterbatasan gerak politiknya Ki Hadjar beralih menggunakan wahana budaya. Tidak tanggung-tanggung Kinanthie Sandoong digubah untuk mendapat debut pementasan dalam Kongres Pertama Pendidikan Kolonial (Eerste Koloniaal Onderwijscongres) dengan penampil langsung dari mahasiswa Konservatorium Kerajaan Den Haag (Koninklijk Conservatorium Den Haag).  Melalui gubahan musiknya, Ki Hadjar menyorongkan pandangan politisnya tentang kesetaraan antara suku bangsa (Franki S. Notosudirdjo, 2016: 151)

Kelenturan komunikasi politik Ki Hadjar lewat karya musiknya dapat dipahami dengan melihat bagaimana pamannya R.M. Soerjo Poetro telah lebih dahulu mengambil studi musik di Belanda dan akibatnya sangat produktif dalam menelurkan karya-karya musik seni, baik dalam bentuk gubahan atau esai-esai yang dimuat dalam terbitan Belanda semacam Wederopbouw, Mudato, Nederlandsch Indie Oud & Nieuw (NION), Weekblad voor Indie, dan Hindia Poetra (Franki S. Notosudirdjo, 2016: 153). Sementara itu bingkai pendidikan nasional di antara kedua tokoh ini terasa kuat karena apabila KHD mendirikan taman siswa maka Soerjo Poetro seusai studi musiknya di Belanda kembali ke Yogyakarta untuk mengemban dua jabatan sekaligus, yaitu pamong musik untuk sekolah keponakannya Taman Siswa, baik untuk mata pelajaran gamelan dan juga musik Barat, dan juga direktur MULO-Kweekschool yang merupakan sekolah bagi guru-guru SMP di masa tersebut (Franki S. Notosudirdjo, 2016: 152)  
 
Implikasi lebih Jauh
Sangat banyak kaca benggala akan bagaimana musik memainkan peran krusial di dalam dunia pendidikan. Dari perspektif psikologi perkembangan, musik menuntut kepekaan indera dan mengasah keluasan intuisi sehingga berguna membentuk kepribadian pendidik yang lebih luwes dan kreatif menghadapi murid. 

Dari perspektif pendekatan belajar musik menawarkan wahana belajar yang akomodatif dan ramah psikis bagi peserta didik. Ironisnya pertanyaan berakhir selalu sama, di mana musik dalam perencanaan pendidikan nasional? Mengapa musik sebagai soko guru masih selalu luput dari perbincangan pendidikan nasional? Mengapa dapat dihitung dengan jari kabar mengenai pendidik yang tanggap musik dalam mengelola kelasnya? 

Memang kursus-kursus privat musik telah menjamur di perkotaan, di sekolah-sekolah swasta kegiatan ansambel musik orkestra, gamelan, dan paduan suara mulai ada, pertunjukan musikal tahunan macam resital dan produksi musikal dijalankan oleh sekolah yang mampu. Namun meminjam bingkai Ken Robinson, semua pencapaian di atas baru pada ranah ko- dan ekstrakurikula. 

Di dalam ranah intrakurikula, musik dan kesangkilmangkusannya, masih dinafikan. Pendidikan masih terlalu mendikotomikan yang-musik dan yang-bukan-musik, tanpa mengakomodasi titik tengahnya, pendidikan yang musikal. Berbicara pendidikan berarti kita berbicara mengenai proses refleksi pengalaman, karena melalui refleksi pengalaman seseorang dikatakan belajar (John Dewey). 

Sekarang, apakah kelas-kelas sekolah Indonesia menawarkan refleksi dari praktik drama musikal yang mengelindankan mata pelajaran bahasa dan kemampuan ekspresi dinamika musik; refleksi dari kegiatan jelajah instrumentasi musik yang menyilangkan ilmu alam, matematika, dan pengetahuan titi nada; refleksi dari aksi menggubah musik yang dijiwai dengan penghayatan sosio-humaniora komunitas lokal? 

Sebagaimana dikatakan di permulaan, musik dan aspeknya adalah sesuatu yang hakiki dan dapat ditemukan dengan mudah dalam aspek biologis hidup tiap manusia. Lebih lanjut bahkan musik, melalui ragam manipulasi audio visual, dapat menjadi wahana belajar yang masif dan sangkil-mangkus. 

Jika Bapak Pendidikan Nasional saja sudah menempatkan pendekatan musikal sebagai falsafah atau soko guru pendekatan belajarnya, lantas kenapa jejak dan warisan pendekatan musikal tersebut menguap begitu saja di abad 21 ini? Adalah kerinduan terbesar untuk mendengar bahwa institusi pendidikan nasional mampu membuat terobosan multidimensional dan multiranah dengan musik sebagai senjatanya. 

Sudah terlalu lama dan terlalu banyak kesuksesan musik nasional diraih melalui jalan sunyi para praktisinya, sementara institusi pendidikan semakin terperosok ke dalam jurang kegagalan literasi dan moral, tercermin dalam ragam kasus ranking literasi, maraknya plagiasi, ijazah palsu, hingga kekerasan seksual. Sampai kapan musik akan dilupakan dan dipinggirkan, para pengambil kebijakan pendidikan?[]

*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID. Redaksi menerima kiriman opini dari Anda melalui kolom@medcom.id
 



(SBH)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id