Luqman Wibowo Luqman Wibowo Peminat kajian demokrasi

Demokrasi ala Generasi Z

Luqman Wibowo 04 Juli 2018 14:06 WIB
internet
Demokrasi ala Generasi Z
ILUSTRASI: Antara Foto/M AGUNG RAJASA
LUPAKAN sejenak generasi milenial yang mulai beranjak dewasa dan menua. Sebagian besar dari mereka  sudah berkeluarga dan sibuk mengurusi kebutuhan rumah tangga. Generasi milenial yang kadang disebut sebagai generasi Y, sudah tidak lagi menjadi kalangan yang paling muda di Indonesia. 

Milenial memang begitu memesona beberapa tahun ini, sebagian besar dari kita masih sibuk memperbincangkannya, menelitinya, dan membaca perilaku politiknya, hingga lupa bahwa telah hadir generasi yang lebih muda, segar dan siap untuk berdemokrasi, yakni generasi Z.


Menurut beberapa pakar dan berbagai kajian, generasi Z adalah anak yang lahir di kurun waktu 1996-2000-an. Generasi ini biasa disebut sebagai generasi Post-Milenial atau Information Generation (iGeneration) dikarenakan sejak mereka lahir, generasi ini sudah akrab dengan manfaat teknologi informasi dan mudahnya menyampaikan aspirasi di media sosial.

Pada generasi Z, gawai telah menjadi perpustakaan, sekolahan, gerakan bahkan ruang publik untuk berbagi dan berkolaborasi dengan sesama selama terkoneksi dengan internet. 

Bagi Van Dijk (2006) penulis The Network Soecity : Social Aspect of New Media, saat ini masyarakat hidup pada era “dunia yang terhubung” (connected world) atau masyarakat internet (a web society). Merujuk pada gagasannya, masyarakat kini semakin terframentasi, personalisasi menguat, kemandirian hadir, dan kebebasan semakin bebas. Dan, generasi Z tumbuh berkembang dan dibentuk dalam sebuah ekosistem semacam itu.  

Hidup dalam ekosistem internet mendorong generasi Z semakin berani menyampaikan aspirasi dan kritik terhadap proses demokrasi walaupun dengan cara nyeleneh. Nyatanya, cara-cara mereka ini terbukti ampuh, menghibur dan menyadarkan masyakarakat .  


Mereka adalah generasi yang baru melek politik dan dibanjiri sekaligus diserang oleh banyaknya berita politik di layar ponsel mereka. 

Reaksi generasi Z merespon peristiwa politik kadang di luar kendali dan dugaan stakeholder.  Layaknya komedi, generasi Z selalu berhasil memberikan kejutan pada para politisi, dengan menyulap kritik menjadi lelucon, mengubah aspirasi menjadi parodi. Dan semua itu terjadi begitu saja, viral di media sosial.

Perilaku generasi Z bisa dikatakan paradoks dalam situasi politik di Indonesia. Di tengah autusiasme perbincangan politik di kalangan generasi ini, mereka mengekspresikannya dengan sikap apatisme dan anti partai politik, namun  menariknya mereka mau bekerja secara profesional di bidang politik entah sebagai tim penyelenggara kegiatan, pasukan media sosial maupun endorser.

Berbeda dengan semangat politik generasi milenial, yang mau suka rela terjun secara aktif di lapangan untuk berkampanye. Generasi Z, lebih cenderung pasif dan memilih untuk menyembunyikan asosiasi politiknya. Namun, jika hal tersebut menyangkut kepentingan pribadinya, mereka sangat lantang memperjuangkan hak-haknya.

Dapat dikatakan, generasi Z membuat politik menjadi sangat individual dan kultural ketimbang ahli-ahli menjadikannya kolektif dan struktural.  Maka tidak heran, jika hari ini isu politik yang dapat menjatuhkan politisi dari kursi kekuasaannya adalah berita bergaya infotaiment ketimbang berita skandal politik. 


Di Balik Otak Digital Generasi Z/Grafis: Media Indonesia 

Sekarang seluruh stakeholder demokrasi sedang diuji untuk merangkul energi besar generasi Z. Sebagaimana yang diketahui, generasi Z  adalah generasi yang paling berisik soal politik namun paling menjaga jarak dengan partai maupun institusi politik. 

Bagi generasi Z, institusi dan partai  politik masih berkonotasi negatif. Partai politik dianggap sebagai sarang korupsi, intitusi politik dianggap penuh konspirasi, dan metode lembaga politik mendekati pemilih masih sangat kuno sekaligus membosankan. 

Walaupun, saat ini beberapa tokoh nasional mencitrakan diri sebagai bagian dari semangat muda namun tetap saja masih ada jarak yang dianggap tidak selaras dengan keinginan anak muda. Tapi setidaknya, usaha dari elite politik perlu diapresiasi dan mencari cara yang tepat untuk merangkul generasi Z masih menjadi pekerjaan rumah bersama.  

Pada pemilu 2019, merupakan pesta demokrasi terbesar yang akan menjadi pengalaman baru bagi generasi Z di Indonesia, saat ini usia tertua dari generasi ini adalah 22 tahun.  Secara demografis mereka akan segera masuk dunia kerja dan secara bertahap segera mengalahkan jumlah generasi milenial. 

Dengan demikian, tahun depan merupakan momentum yang tepat bagi setiap lembaga demokrasi untuk beradaptasi dengan kehadiran generasi Z yang akan merubah wajah demokrasi kita di masa depan. Wajah baru demokrasi ala generasi Z yang lebih mengarusutamakan kepentingan pribadi daripada ideologi.[]

*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID



(SBH)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id