Ahmad Kaelani Ahmad Kaelani Wakil Sekretaris Jenderal DPP Garda Pemuda NasDem

Generasi Muda dan Pekerjaan Rumah Islam Wasathiyah

Ahmad Kaelani 04 Mei 2018 14:03 WIB
konferensi ulamatoleransi beragama
Generasi Muda dan Pekerjaan Rumah Islam Wasathiyah
ILUSTRASI: Parade Kolosal kebangsaan di SMK Negeri 1 Bawen, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Rabu (20/9)/ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
INDONESIA patut berbangga setelah dipercaya menjadi tuan rumah penyelenggaraan Konsultasi Tingkat Tinggi (KTT) Ulama dan Cendikiawan Muslim se-Dunia yang secara khusus membahas gagasan Islam Wasathiyah selama tiga hari kemarin. Kepercayaan semacam itu, sudah barang tentu tak diberikan sembarang. Masyarakat Indonesia yang mampu hidup rukun dalam keberagaman sudah cukup lama menjadi sorotan.

Beberapa tahun sebelum KTT dihelat, tak sedikit ulama asal Timur Tengah  dan belahan dunia lainnya menyempatkan waktu untuk datang dan mempelajari tentang kehidupan masyarakat Islam di Indonesia. Di antara mereka, biasanya berangkat dari negeri yang tengah dilanda konflik perang saudara. Sebut saja, Afganistan, juga Suriah. 


Mereka yang telah berkunjung dan menyerap kajian lantas menyimpulkan, kata kunci kerukunan intra dan antarumat beragama di Indonesia terletak pada apa yang disebut Pancasila. Sebuah kesepakatan yang relatif tak dipunyai negara-negara di luar Indonesia.

Pancasila, menjadi pemersatu. Egoisme kelompok niscaya luluh di bawah lima sila yang berhasil dirumuskan sejak periode awal berdirinya Indonesia sebagai negara-bangsa.

Meski begitu, masyarakat Indonesia, terlebih generasi muda tak boleh gampang terbuai dan nihil waspada. Jika lengah sedikit saja, keragaman identitas itu malah menjadi kendaraan strategis bagi kelompok-kelompok yang memang naksir dengan kekayaan sumberdaya alam Indonesia, atau manfaat lain yang ada di dalamnya. 

Kerukunan tidak tumbuh begitu saja. Perlu terus disemai. Butuh kelonggaran hati dan sikap ramah yang terus dirawat sebagai ciri khas masyarakat Indonesia.

Prinsip moderasi

Dalam pidato kenegaraannya, Presiden Joko Widodo kerap kali menyampaikan betapa kaya dan beragamnya bangsa Indonesia. Termasuk, dalam pembukaan KTT kemarin. 

Presiden menyebut, saat ini warga negara pemeluk agama Islam kurang lebih berjumlah 210 juta dari total 250 juta jiwa penduduk Indonesia. Angka yang tidak terlalu jauh jika berkaca pada data riil hasil sensus 2010 lalu. Yakni, sekitar 87,18% atau 207 juta dari total 238 juta jiwa.

Mereka, hidup berdampingan bersama 5 agama resmi lain, 187 kelompok kepercayaan, serta 714 etnis dengan lebih dari 1.100 bahasa lokal dan tersebar di 17.000 pulau di seluruh Indonesia.

Boleh saja dibandingkan dengan komposisi penduduk Afganistan. Meski nyaris 100% persen beragama Islam dan cuma terdiri dari belasan suku besar, mereka mengaku kewalahan dalam mengkampanyekan perdamaian.

Merujuk fakta inilah, akhirnya sekira seratusan ulama merasa perlu berkumpul dan berdiskusi di Bogor, Jawa Barat kemarin. Mereka sepakat kembali menggenjot kampanye Islam wasathiyah. Sebuah konsep yang dalam bahasa modern kerap disetarakan dengan sebutan Islam moderat.

Islam moderat adalah prinsip keberagamaan jalan tengah. Dia tidak terlalu ekstrem, tak pula condong kepada hal-hal lain yang dianggap berlebihan. Islam moderat memposisikan sikap toleransi tepat di garis depan. Dengan toleransi, kekayaan identitas yang dimiliki tak jadi penghalang. Tapi, malah mewujud sebagai rahmat dan peluang.

Wasathiyah, moderat, ramah, dan toleran menjadi bahasa yang akrab dalam kehidupan beragama di Indonesia. Dimulai dari sejarah penyebaran Islam yang banyak disebut lebih mengandalkan jalur budaya dan perdagangan, hingga banyaknya sumbangsih dari gerakan sipil keagamaan yang lebih mengutamakan cita-cita persatuan.

Nahdlatul Ulama (NU) merawat semangat serupa melalui jargon 'Islam Nusantara', Perserikatan Muhammadiyah dengan gagasan 'Islam Berkemajuan', begitu juga banyak kelompok lain yang tetap komitmen menampilkan wajah Islam rahmatan lil alamin.

Itulah wajah moderasi Islam Indonesia. Watak asli kehidupan beragama di Nusantara.

Wasathiyah dan tantangannya

Seiring arus informasi yang tak lagi memiliki sekat, di situ pula tantangan untuk berbagai macam bidang turut menyasar. Termasuk, bagi kerukunan masyarakat Indonesia yang sudah sejak mula selalu dibanggakan.

Tahun lalu, misalnya, sebuah jajak pendapat yang dipublikasikan lembaga penelitian Singapura ISEAS-Yusof Ishak menyebut konservatisme Islam semakin menggeliati Indonesia. Dalam survei yang melibatkan 1.620 responden di 34 provinsi tersebut, ISEAS-Yusof Ishak merilis sebanyak 67% di antaranya menganggap penerapan syariat Islam menjadi sebuah kebutuhan mendesak. Mereka, seakan tak lagi menimbang apa yang telah Pancasila amanatkan demi menjaga persatuan dalam kebinekaan.

Survei yang juga dianggap menggugat wajah moderasi Islam Indonesia adalah sebagaimana yang dipaparkan Alvara Research Center dan Yayasan Mata Air. Hasil riset kuantitatif yang dilakukan di Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, dan Makassar itu menyatakan sebanyak 15,5% profesional Muslim menilai ideologi Islam lebih tepat diterapkan di Indonesia dibanding Pancasila.

Yang mencengangkan, di antara responden yang menjadi sampel dalam kedua penelitian itu ialah generasi muda. Meski angkanya tidak besar, wajar saja jika dianggap sebagai sebuah tantangan, bahkan kekhawatiran akan terancamnya rasa persatuan.

Faktornya, banyak. Selain gelombang informasi yang kian deras, sisi buruk dari proses politik yang tak mengedapankan rasa tanggung jawab juga ikut memberikan sumbangan.

Mengacu pada hasil riset ISEAS- Yusof Ishak tadi, di sana dikatakan bahwa praktik politik mulai disisipi isu-isu sensitif keagamaan dan etnis atau SARA, hanya demi mendulang simpati dan suara. 

Praktiknya, bahkan melalui aneka ragam produksi konten hoaks, fakenews, hingga ujaran kebencian. Mereka yang melakukan, seakan tak peduli lagi dengan imbas yang sangat merugikan.

Di sinilah pada akhirnya generasi muda harus ambil peran. Ancaman yang bisa merusak tenunan kebinekaan harus terus dilawan. Tetap berwawasan kebangsaan. Berpolitik pun, mesti tetap secara berkeadaban.[]

*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID






(SBH)