Mudik, Refleksi Tanggap Bencana Transportasi

Prihadi 26 Juni 2018 15:45 WIB
kapal tenggelam
Mudik, Refleksi Tanggap Bencana Transportasi
Sejumlah pemudik dengan sepeda motor melintasi Jalan Raya Semarang-Solo di Tuntang, Kbaupaten Semarang, Jawa Tengah, Kamis, 14 Juni 2018). (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)
MUDIK pada saat Idul Fitri menjadi sebuah kombinasi budaya dan agama yang telah berlangsung lama. Inilah yang menjadi salah satu keunikan yang ada di Indonesia. Mudik bagi masyarakat Indonesia menjadi hal yang paling ditunggu. Dan, pulang kampung yang dilakukan jelang lebaran atau Idul Fitri memang hanya terjadi di Indonesia.

Hal ini disebabkan karena Indonesia merupakan negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia. Kata “mudik” itu sendiri berasal dari penggabungan kata “mulih” (pulang) dan “udik” (kampung) inilah yang kemudian disingkat menjadi mudik atau mulih udik (pulang kampung).      


Mudik pada saat berlebaran bukanlah sebuah aktivitas perjalanan yang mudah. Tantangan yang harus dihadapi pemudik cukup berat. Sebab, dalam waktu yang hampir bersamaan jutaan orang melakukan perjalanan mudik. Ruang jalan raya senantiasa tidak pernah merasa tercukupi untuk mengakomodir jumlah kendaraan yang meningkat, sehingga berimbas pada waktu tempuh yang berkali lipat.

Faktor dari tarikan keagamaan yang telah menjadi budayalah yang tidak pernah menyurutkan niat dan kemauan masyarakat untuk mudik ke kampung halaman. Selain itu, mudik pun menjadi momen untuk bisa bersilaturahmi dengan sanak saudara.

Namun, di balik semangat bersuka cita bersilaturahmi dengan sanak saudara terdapat permasalahan yang tidak mudah dipecahkan. Besarnya jumlah pemudik berimbas pada potensi kecelakaan lalu lintas. Memang angka kecelakan lalu lintas pada saat mudik menunjukan angka penurunan, tapi bukan tidak mungkin jika angka tersebut bisa terus turun.

Di tahun 2017, jumlah kecelakaan sebanyak 1.299 kejadian atau turun 216 kejadian. Sementara di tahun 2016, terjadi 1.515 kecelakaan lalu lintas. Dan di tahun 2018, terjadi 1.154 kecelakaan lalu lintas pada saat mudik.

Sementara pada tiap tahunnya, di Indonesia, jumlah korban kecelakaan lalu lintas di Indonesia cukup besar yakni mencapai 28.000-30.000 jiwa per tahun. Kecelakaan lalu lintas di Indonesia termasuk tinggi, rangking 2 sampai 3 di bawah, dalam lingkup ASEAN. Angka kecelakaan ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan jumlah korban kasus terorisme, bencana tsunami, bencana banjir. Data tersebut disampaikan Kakorlantas Polri Inspektur Jenderal Polisi Royke Lumowa dalam kesempatan Forum Polantas ASEAN 2017 di Jakarta.

Meski angka kecelakaan lalu lintas lebih tinggi, namun tidak mampu membuat paradigma masyarakat memahami hal ini sebagai sebuah bencana. Karena, umumnya masyarakat hanya mengenal bencana yang disebabkan oleh alam. Padahal dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007, bencana juga disebabkan oleh faktor nonalam. Termasuk di dalamnya bencana akibat kegagalan transportasi.
 

Suka ataupun tidak suka, kecelakaan lalu lintas adalah mesin pembunuh dan bisa membunuh kapan saja.


Kecelakaan lalu lintas adalah momok yang mengerikan yang terjadi di banyak negara. Data yang dikeluarkan World Health Organization (WHO) per Februari 2018 adalah pada tiap tahunnya 1,25 juta jiwa hilang akibat kecelakaan lalu lintas. Sementara 20 hingga 50 juta masyarakat menderita akibat cidera dengan beberapa di antaranya cacat.

Tentu saja perlu adanya upaya pencegahan yang sistematis dari hulu ke hilir. Baik dilakukan oleh Pemerintah, Swasta, maupun dari masyarakat itu sendiri. Tujuannya tidak lain untuk terus menekan angka kecelakaan lalu lintas pada saat mudik lebaran.

Dengan jumlah korban jiwa maupun korban luka yang terjadi, maka perlu penanganan yang tidak kalah serius saat Indonesia dilanda bencana banjir, kebakaran, gunung meletus, dan tsunami. Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang penanggulangan bencana mendefinisikan mitigasi sebagai serangkaian upaya untuk mengurangi resiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

Dalam konteks arus mudik dan balik lebaran atau IdulFitri, berbagai program untuk meminimalisir korban tewas akibat kecelakaan lalu lintas saat arus mudik dan balik lebaran sudah dilakukan pemerintah. Sebut saja sidak angkutan barang dan angkutan penumpang. Dalam sidak, dilakukan pemeriksaan mulai dari surat kelengkapan dari pengemudi, surat kelayakan jalan kendaraan.

Mitigasi bencana transportasi sebelum peristiwa melalui perbaikan sarana prasarana transportasi setidaknya akan mengurangi angka korban. Di sejumlah kawasan jalan yang rawan kecelakaan, penambahan marka dan papan peringatan pun di tambah. Sementara untuk jalur yang kurang penerangan, maka untuk meminimalisir kecelakaan, ditambah lampu penerangan jalan. Begitu pun kelaikan bus untuk angkut penumpang mudik. Selain itu, perbaikan infrastruktur jalan, baik penebalan aspal jalan atau menutup jalan-jalan yang berlubang.

Bahkan saat ditemukan fakta, jika dua tahun berturut-turut rekor kecelakaan mudik sebesar 75 % dikarenakan motor, maka baik pemerintah maupun swasta pun menggelar angkutan motor mudik gratis – dengan kereta. Sasarannya adalah tentu saja masyarakat yang mudik dengan motor. Angkutan motor gratis ini adalah bagian program dari kementerian perhubungan sebagai upaya untuk mengatasi kemacetan dan kecelakaan. Program angkutan motor gratis ini berlaku mulai tanggal 19 hingga 25 Juni 2018.

Dalam Siklus kebencanaan, apa yang telah dilakukan merupakan bagian dari Masa Pra Bencana, yang di dalamnya adalah unsur Pencegahan, Mitigasi, dan Kesiapsagaan Bencana. Sementara pertanyaannya adalah, apa yang telah dilakukan saat sudah berada pada masa Saat Bencana dan juga Pasca Bencana? Baik dalam masa Tanggap Darurat, maupun pada masa Pemulihan.

Cidera akibat kecelakaan lalu lintas diyakini menjadi penyebab hilangnya mata pencaharian bagi individu, keluarga dan juga negara. Karena akan berimbas lanjutan dengan biaya pengobatan yang tidak sedikit, hilangnya produktivitas bagi mereka yang tewas dan juga cacat. Serta peran serta keluarga yang harus menghabiskan waktu untuk merawat mereka yang anggota keluarganya terluka ataupun cidera. Masa arus mudik dan balik lebaran telah usai.

Presiden RI Joko Widodo memberikan apresiasi kepada Polri yang telah melaksanakan pengaturan arus mudik dan balik Lebaran 2018. Presiden menilai arus mudik dan balik Lebaran 2018 berjalan dengan baik dan lancar berkat manajemen yang diterapkan oleh Polri berhasil membuat pemudik terhindar dari kemacetan panjang. Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI juga menyampaikan ungkapan terima kasih dan rasa syukur setelah tingkat kecelakaan lalu lintas serta korban meninggal dunia saat arus mudik dan balik Lebaran 2018 menurun drastis dibanding tahun sebelumnya.

Arus mudik dan balik Lebaran kembali akan terjadi tahun depan. Menjawab tantangan selanjutnya adalah bagaimana sebaiknya mengkaji kembali mitigasi bencana transportasi di Indonesia? Karena masa pemulihan para korban, pun para keluarga korban pada masa Pasca bencana juga tidak kalah pentingnya. Evaluasi dan terus mengedukasi masyarakat perlu dilakukan terus menerus. Masa pemulihan pun sejatinya menjadikan para korban dan keluarga sebagai bagian dari siklus bencana. Namun, juga melibatkan regulasi pengambil kebijakan dan juga masyarakat bergabung dalam mitigasi bencana transportasi tak kalah pentingnya.

Meraih pelajaran dari fenomena mudik agar nyawa tidak melayang sia-sia. Karena tantangan lainnya adalah memitigasi bencana transportasi pada moda transportasi lainnya.


*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID
 



(SBH)