Candra Malik Candra Malik Budayawan, Praktisi Tasawuf

Tibalah Waktu Persembahan Kita Hanya Untuk Allah

Candra Malik 17 Mei 2018 16:10 WIB
Ramadan 2018
Tibalah Waktu Persembahan Kita Hanya Untuk Allah
ilustrasi Medcom.id
ALHAMDULILLAH, segala puji bagi Allah, yang telah mengizinkan usia kita bertemu dengan waktu yang teramat mulia, yakni bulan Ramadan. Semoga, bukan jasmani saja yang turut dalam perjalanan usia menempuh waktu, tapi juga ruhani kita. Semoga, kita tak hanya mendapatkan lapar dan dahaga dari ibadah puasa, namun juga memeroleh ketakwaan. Dengan demikian, kita tidak termasuk orang yang menyia-nyiakan umur, tak pula merugi di dalam masa. 

Demi masa. Sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan saling berwasiat dalam kebenaran dan saling berwasiat dalam kesabaran. (Q.S. Al Ashr [103]: 1-3).


Keberadaan hidup kita di dalam bulan Ramadan sungguh-sungguh anugerah Allah yang tiada terkira. Memang, Allah saja yang Maha Tahu mengapa kita masih diizinkan hidup hingga hari ini. Bisa jadi karena kita memang berhak menjalani puasa dan ibadah lainnya, serta menikmati keberkahan Ramadan. Namun, barangkali juga karena kita masih diberi waktu untuk mengakui kesalahan dan menginsyafi berbagai keburukan kita, serta bertobat.

Umur kita sampai pada bulan rahmat ini bukan karena tubuh kita sehat. Sebab, sakit bukan penyebab kematian. Kita kuat bertahan hidup sampai pada bulan ampunan ini bukan karena masih muda. Sebab, ajal tidak berurutkan usia. Dan kita masih hidup di bulan perlindungan dari neraka ini bukan karena bersih dari dosa. Sebab, maut tidak ditentukan oleh pahala. Kita jumpa lagi dengan Ramadan semata-mata karena Allah berkehendak. Jangan dustai nikmat ini.

Wajib bagi kita untuk bersyukur dan menyambut Ramadan tahun ini dengan kebahagiaan yang berlimpah-ruah. Saudara, sanak-kerabat, teman dekat, tetangga, kolega, dan orang-orang yang kita kenal, telah lebih dulu wafat sebelum Ramadan tiba. Ya, semoga mereka husnul khatimah. Dan, semoga pula kita yang masih diberi umur ini tidak melewatkan Ramadan dengan kelengahan, kemalasan, kebodohan, dan kesalahan yang menodai ibadah.

Allah telah mewujudkan doa kita:

“Allahumma baariklanaa fii Rajaba wa Sya’baana wa balighnaa Ramadhaan.. Ya Allah, berkahilah kami dalam Bulan Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah (usia) kami pada Bulan Ramadan.”

Kini, kitalah yang selayaknya mengatur dan mengelola waktu sebaik-baiknya untuk memanfaatkan Ramadan tahun ini sebaik-baiknya. Siapa tahu inilah Ramadan kita yang terakhir. Tidak ada jaminan bahkan kita bisa sampai pada Hari Kemenangan, Idul Fitri pada 1 Syawal, apalagi masih hidup sampai Ramadan pada tahun berikutnya. Tak ada alasan untuk bermalas-malasan beribadah, apalagi menjadikan dalih lapar dahaga untuk tidur seharian.

Terdapat banyak ragam ibadah dan amal saleh yang bisa kita lakukan pada sebulan penuh ini. Ibadah-ibadah itu, antara lain Salat Tarawih di malam hari, dilanjutkan dengan tadarus Alquran, thalabul ‘ilmi atau mencari ilmu dengan menghadiri pengajian, kajian, diskusi, dan aneka ceramah; i’tikaf di masjid seraya berzikir, bangun di sepertiga malam bersalat Tahajud, dan membuka hari baru dengan Salat Fajar, sahur, berpuasa, dan pada akhirnya berbuka. 

Banyak pula amal saleh yang dapat kita lakukan sepanjang bulan ini, seperti pada bulan-bulan lain. Yang berbeda adalah kali ini kita mengerjakannya di bulan Ramadan. Memberi makanan dan minuman untuk berbuka puasa, misalnya, merupakan kebaikan luar biasa yang bahkan senilai dengan berpuasa itu sendiri. Lebih dari itu, masih banyak pula ragam sedekah jariyah lainnya. Ya, yang menjadikannya berbeda adalah waktu ibadah dan amal saleh ini yaitu sebulan penuh Ramadan.

Selain bahwa Allah menganugerahkan rahmat, ampunan, dan perlindungan dari siksa neraka pada Bulan Ramadan, serta Dia menurunkan Al Qur’an, dan bahkan menghadiahkan Lailatul Qadar yang keberkahannya melampaui seribu bulan; Allah menunjukkan Rahman-Nya pada kita dan mengizinkan kita tetap hidup di bulan Ramadan. Dia juga menyatakan Rahiim-Nya sehingga kita disanggupkan berpuasa. Tanpa izin dan pertolongan dariNya, kita tak berdaya.

Orang-orang yang masih hidup di Bulan Ramadan dan berpuasa niscaya Allah mengistimewakannya. Sampai-sampai, dari sekian banyak ibadah dan amal saleh manusia, Allah memfirmankan dalam Hadits Qudsi bahwa puasalah satu-satunya persembahan untukNya. Selain itu, segala ibadah dan amal saleh untuk manusia sendiri. Hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abu Hurairah RA inilah mengkonfirmasi keistimewaan puasa.

“Setiap amalan manusia adalah untuk dirinya sendiri, kecuali puasa. Sebab, puasa itu hanya untukKu dan Akulah yang akan memberi ganjaran padanya secara langsung. “ (Hadits Qudsi)

Alangkah bahagianya kita diberiNya izin dan hak untuk mempersembahkan amal ibadah kita hanya kepada Allah, yakni puasa kita. Setelah selama sebelas bulan lainnya kita memikirkan diri kita sendiri, bahkan dalam beribadah dan beramal saleh, sembari terus berlatih sedikitnya lima waktu dalam sehari, dengan mengikrarkan,” Sesungguhnya, salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, hanya untuk Allah,” sekaranglah saat untuk benar-benar berserah padaNya.


Marhaban ya Ramadhan. Selamat datang, duhai Ramadan. Semoga, kita mendengar panggilan Allah untuk memenuhi kewajiban berpuasa.


Jika Allah tidak menghendaki kita untuk mencapai ketakwaan, niscaya tulilah hati kita dari mendengar panggilan khusus bagi orang-orang beriman itu. Ramadan adalah bulan kebenaran, bulan ketika ayat-ayat suci Al Qur’an mulai difirmankan kepada Muhammad SAW. Ramadan juga bulan kesabaran, bulan ketika orang-orang beriman diperintahkan untuk menahan diri. 

Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang merugi, yang melewatkan begitu saja Bulan Ramadan dalam kesia-siaan. Semoga Allah meridai umur kita dengan mengampuni dosa-dosa kita, menerima ibadah dan amal saleh kita, memberi petunjukNya untuk menjadikan kita manusia yang lebih baik dari sebelumnya, menolong dan melindungi kita dari kesesatan dan siksa neraka, serta mengasihi kita dengan persembahan puasa ini. Amin. []

*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID



(SBH)