Candra Malik Candra Malik Budayawan, Praktisi Tasawuf

Belajar itu Proses Bertumbuh Pohon Kasih Sayang

Candra Malik 02 Mei 2018 13:13 WIB
Belajar itu Proses Bertumbuh Pohon Kasih Sayang
ILUSTRASI: Drama Musikal tentang Ki Hadjar Dewantara di Teater Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu (19/11)/ANTARA/Angga Pratama
PADA mulanya, belajar adalah kewajiban. Sebagaimana dalam hadits yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Anas bin Malik, Rasulullah Muhammad SAW bersabda, "Menuntut ilmu adalah wajib bagi muslim laki-laki dan perempuan.” Pada akhirnya, mendapatkan pendidikan yang layak adalah hak setiap manusia, tidak hanya kaum Muslim. Sebab, jika ada ketetapan waktu terhadap kewajiban, kewajiban belajar ternyata tak mengenal waktu. Setiap waktu, sepanjang waktu, sejak dilahirkan hingga diwafatkan.

Namun, kewajiban dan hak belajar dan menerima pendidikan itu tidak hanya di sekolah. Melainkan di mana pun, dari siapa pun, tentang apa pun, kapan pun, dan bagaimana pun. Sebab, jika hanya dibatasi pada kegiatan belajar di sekolah, dan oleh karena itu wajib belajar hanya sembilan tahun, maka kita memberangus hak manusia mendapatkan pendidikan. Dan, bukankah kita memang mulai belajar sejak dari pelukan dan asuhan ibu yang telah melahirkan? Darinya, setiap anak belajar tentang cinta dan rindu.

Bahkan sejak sebelum lahir, manusia telah mulai belajar tentang cinta dari ibunya yang jatuh cinta kepada buah hatinya itu sejak mengetahui telah tumbuh janin di dalam kandungannya. Sejak sebelum lahir pula, manusia belajar tentang rindu dari ibunya. Setiap ibu niscaya sudah sangat mengenal anaknya sejak dari kandungan dan sembilan bulan merindukan kehadiran ananda hingga tibalah hari yang paling ditunggu-tunggu, yakni hari persalinan. Persenyawaan antara cinta dan rindu itulah yang melahirkan kasih sayang.

“Dan Allah mengeluarkanmu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui apa-apa, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan akal budi, agar engkau bersyukur.” Q.S. An Nahl (16): 78

Manusia mengawali karir kemanusiaan dari titik berangkat yang sama, yaitu tidak mengetahui apa-apa. Oleh Allah, manusia dibekali tiga perangkat utama, meliputi pendengaran, penglihatan, dan akal budi pekerti. Sejak dari dalam kandungan, janin telah mulai mendengar. Bahkan, yang lebih mendalam daripada itu, janin telah mulai mendengar, melihat, berpikir dan merasakan, dengan menggunakan perantaraan pendengaran, penglihatan, pikiran dan perasaan ibunya.

Ibu, menjadi guru pertama dan utama bagi anaknya.

Menjadi sangat penting disadari setiap ibu hamil untuk memilih dan memilah apa saja yang sebaiknya didengar, dilihat, dipikirkan dan dirasakan. Sebab, semua itu diserap oleh anak dalam kandungan dan dijadikan ilmunya yang paling awal. Tentu, menjadi sangat penting disadari setiap calon ayah untuk memilih sekolah terbaik bagi bakal anak, yaitu lingkungan dalam dan luar rumah yang kondusif bagi perkembangan kandungan calon ibu. Setiap calon ayah adalah guru pula bagi bakal anaknya, dan kepala sekolah.

Imam Malik Rahimahullah mengatakan, ”pelajarilah adab sebelum belajar ilmu.” Sejak dilahirkan, buah hati menerima pelajaran akhlak yang paling mulia dari ibu dan ayahnya, yaitu kasih sayang. Inilah akar dari ajaran akhlak mulia. Dari kasih sayang niscaya tumbuh kelembutan. Ibu memeluk, menyusui, menimang, dan berbicara, dengan lemah lembut. Ia memerlakukan anaknya dengan tenang dan menghendaki ketenangan bagi anaknya. Inilah pokok dari ajaran adab. Ya, belajar adalah proses bertumbuh.

Jika kasih sayang adalah akar dari akhlak mulia, kelembutan menjadi batang pokok, ilmu adalah cabang-cabangnya. Dahan dan ranting itulah yang mengantarkan daun-daun, yaitu amal atas ilmu-ilmu itu, ke arah cahaya. Dengan perumpamaan ini, semoga kita menjadi lebih mudah memahami petuah al ilmu nurun, ilmu adalah cahaya. Ya, ilmu memang cahaya, tapi kita sendiri yang harus membawanya sampai ketataran itu. Jika daun-daun itu rimbun, maka ia meneduhkan meski telah menyerap banyak sinar matahari.

Belajar sesungguhnya berproses menjadi manusia. Dimulai dari sejak benih yang telah ditanamkan kedua orang tua hingga sampai pada puncaknya, yakni berbuah. Dan apa buah dari buah hati jika bukan nurani itu sendiri? Belajar bukan sekadar mengasah akal hingga tajam, melainkan juga menjaganya dengan hati agar tidak melukai siapa pun. Jika dimulai dari adab, niscaya pesan Rasulullah ini tercapai, yaitu, ”Tuntutlah ilmu dan belajarlah ketenangan dan kehormatan diri, dan bersikaplah rendah hati kepada orang yang mengajarimu, HR. Al-Thabrani.”

Ki Hadjar Dewantara tidak memisahkan antara pendidikan dan kebudayaan. Ia mengatakan, ”Pendidikan, yang dalam hidup segala makhluk terdapat sebagai laku-kodrat (instinct), dalam hidup manusia yang beradab bersifat usaha kebudayaan.” Menurutnya, manusia perlu mengenal sifat kodrati bawaan dari lahir dan sifat kebudayaan yang merupakan hasil perjuangan dari dua pengaruh besar, yakni alam dan zaman. Keluhuran dan kehalusan budi pekerti manusia, bagi Ki Hadjar, menjadi ukuran tinggi rendah kebudayaan suatu bangsa.

Surat Keputusan Presiden No 316 tanggal 16 Desember 1959 menetapkan hari lahir Ki Hadjar Dewantara pada 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional. Namun, tentu hari yang istimewa ini bukan hanya ajang seremoni. Kita bisa mengingat kembali pidato Sarmidi Mangunsarkoro dalam Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928 tentang Pendidikan Nasional. Ia berkata, ”pendidikan selalu merupakan pengaruh si pendidik terhadap anak didiknya. Sudah barang tentu pengaruh itu ditujukan kepada suatu maksud.” 

Tajam dan jujur sekali pemaparan tokoh Majelis Luhur Taman Siswa ini. Sarmidi Mangunsarkoro memaparkan sejumlah maksud orang tua mendidik anaknya atau mengirim anak-anaknya ke lembaga pendidikan. Ada yang ingin anaknya berpangkat tinggi, ada pula yang punya harapan anaknya menjadi saudagar kaya raya. Namun, tak sedikit orang tua yang bercita-cita anaknya menjadi orang yang baik budi pekertinya, bahkan menjadi pahlawan bagi kemasyarakatan dan kemanusiaan. Anda yang mana?

Masih mengutip dari buku Peringatan 30 Tahun Taman Siswa, Mangunsarkoro juga menyatakan,  ".. tiap-tiap pendidikan itu selalu berhubungan rapat dengan sikap hati orang terhadap dunia. Bagi manusia yang sadar, sikap hati itu merupakan suatu keyakinan.. Dalam umumnya, pendidikan itu berarti pimpinan ke arah kemajuan, baik kemajuan rohani maupun jasmani.. berkembangnya pribadi dan berwujudnya cita-cita. Kemajuan yang demikian itulah yang dapat memberi kepuasan batin, rasa bahagia, yang dikehendaki tiap-tiap manusia, baik di barat maupun di timur.”

Selamat Hari Pendidikan Nasional. Sesungguhnya, tak perlu dalil apa pun untuk mulai belajar, juga tak usah berdalih apa pun untuk berhenti belajar. Dunia adalah sekolah yang kelulusannya kelak kita nikmati dalam perjalanan hidup di babak berikutnya. Jika pun ternyata terdapat begitu banyak dalil dan petuah mengenai pendidikan, itu menguatkan keteguhan belajar dan meyakinkan kita betapa tiada waktu berlalu tanpa ilmu. Dari segala yang inderawi dan rohani, kita mengolah akal dan budi untuk menjadi manusia paripurna. []

*Segala gagasan dan opini yang ada dalam kanal ini adalah tanggung jawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Medcom.ID




(SBH)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id