Emil Dardak: Saya Kesatria Berpamitan ke PDI Perjuangan

Laela Badriyah, Misbahol Munir 09 Januari 2018 00:00 WIB
pilgub jatim 2018
Emil Dardak: Saya Kesatria Berpamitan ke PDI Perjuangan
Bupati Trenggalek Emil Elestianto Dardak. Foto: MI/Adam Dwi
Jakarta: Pengalaman Emil Elestianto Dardak di dunia politik masih seumur jagung. Emil belum genap dua tahun menjadi Bupati Trenggalek. Namun, namanya sudah menjadi perbincangan di kancah politik nasional semenjak memutuskan ikut bertarung di Pemilihan Gubernur Jawa Timur 2018.

Langkah Emil melahirkan kontroversi. Dia dinilai tak tahu "utang budi" karena meninggalkan PDI Perjuangan yang telah membesarkannya, dan memilih menjadi pendamping Khofifah Indar Parawansa yang hendak menjadi orang nomor satu di Jatim.


"Bila saya dibilang punya utang budi, saya mau ngomong, apa enam partai lain yang mengusung saya (pada Pilbup Trenggalek)? Mereka mendukung tanpa syarat. Jadi, partai-partai lain komplain juga dong kalau dibilang saya tak bisa balas budi?" kata Emil kepada Medcom.id beberapa waktu silam.

Sebaliknya, pria kelahiran 1984 itu merasa sudah menunaikan semua tugas yang diamanatkan PDI Perjuangan. Buktinya, dia menang dan berhasil di Trenggalek. Tapi, Emil juga tak ingin seperti kacang lupa pada kulitnya. Dia tetap hormat dan salut kepada PDI Perjuangan.

Untuk itu, Emil pamit baik-baik kepada PDI Perjuangan. "Jadi (saya) pamit secara gentleman dan kesatria. Bukan di belakang layar, tapi datang langsung."

Di samping urusan dengan PDI Perjuangan, Emil juga berbicara panjang lebar kepada tim Medcom.id--Misbahol Munir, Laela Badriyah, Ari Bachdar, dan Isti Listiani--tentang pencapaiannya selama menjadi bupati. Juga tentang alasannya mau berdampingan dengan Khofifah. Berikut wawancara lengkap Medcom.id bersama Emil:

Masyarakat Trenggalek mendukung langkah Anda maju di Pilgub Jatim?

Ya.

Alasan Anda maju di Pilgub Jatim?

Ini bukan naik jabatan, posisi bupati dan gubernur memunyai tugas dan lingkup sendiri-sendiri. Saya merasa memiliki ruang lingkup berbeda dan saya merasa cukup optimal di Trenggalek. Ada satu potensi untuk berbuat (lebih), merujuk pada apa yang sudah saya lakukan di Trenggalek maupun sebelum masuk ke birokrasi: menjadi eksekutif di dunia keuangan di tingkat pusat.

Ini saya kira adalah call of duty. Panggilan untuk mengabdi. Semua panggilan tentunya tidak datang share on server of platter. Artinya, (ya) sudah itu saja. Tidak ada masalah, tidak ada kontroversi. Kadang Anda harus berani mengambil satu langkah yang Anda hakul yakin terbaik untuk nusa dan bangsa. Apa pun yang dikatakan orang, Anda harus bisa meyakinkan mereka bahwa ini atas niatan baik. Kalau hanya mengejar ambisi, masyarakat tentu tidak akan respect. Tapi kalau Anda punya alasan substantif untuk memenuhi call of duty, mudah-mudahan lambat laun masyarakat akan memahami.

Kedekatan Anda dengan Ibu Khofifah bagaimana?

Kalau ngomong soal kedekatan, banyak orang mengira saya intens berkomunikasi dengan Ibu Khofifah. (Padahal), sebenarnya enggak. Saya mengenal beliau sebagai Menteri Sosial yang hard worker dan berani. Berani mendobrak beberapa tatanan. Soal beras sejahtera, misalnya. Beliau mengubah sistemnya dari tunai menjadi nontunai. Beliau inging mengalihkan rezeki dari pendistribusian barang subsidi kepada usaha kelompok kecil. Menggandeng bank-bank BUMN untuk memperbaiki penyaluran supaya lebih tepat sasaran. Mendorong perbaikan data base kemiskinan bersama lembaga internasional untuk mencuri ilmunya. Artinya, yang dicuri ilmu untuk memperbaiki basis data yang reliable.

Baca juga: Emil Dardak di Mata PDI Perjuangan

Saya (juga) melihat beliau bukan hanya sebagai teknokratik, tapi juga merakyat. Paham kearifan lokal dan punya karakter kuat. Hari ini yang dibutuhkan adalah sosok pemberani untuk mengambil keputusan-keputusan besar. Apalagi untuk provinsi sebesar Jatim yang berpenduduk hampir 40 juga orang. Dan, keberanian itu tidak hanya di mulut dan mahal harganya. Saya pun melihat beliau sebagai panutan saat bicara soal keberanian. Karena keteguhan niat dan keberanian itu paling mahal harganya untuk membangun sebuah bangsa.

Apakah Anda menerima jadi pendamping Ibu Khofifah karena diusulkan Demokrat?

Justru kalau dirunut dengan cermat, bukan Partai Demokrat yang pertama kali memunculkan nama saya untuk mendampingi Ibu Khofifah. Tapi, (memang) Demokrat yang secara formil mendorong nama saya. Namun, secara proses politik, partai lain sudah mewacanakan itu. Nah, saya sebagai subyek kadang-kadang malah tidak lebih tahu dari orang-orang di luar.

Saya sendiri tidak kepikiran bahwa apa yang dibahas orang memang benar saya (akhirnya jadi pendamping Ibu Khofifah). (Padahal), bayangan saya pasti masih banyak nama lain yang dipertimbangkan baik oleh para kiai, ibu nyai atau para pemimpin parpol. Jadi, saya enggak nyangka. Itu keputusan besar.


Bupati Trenggalek Emil Dardak (kanan) tiba untuk melakukan pertemuan tertutup dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri jelang pengumuman pasangan calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur provinsi Jawa Timur di kediaman Megawati di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta, Sabtu (14/10/2017). Foto: Antara/Aprillio Akbar.

Sebelum saya mengambil keputusan itu dan saat nama saya sudah bergulir, pertimbangan-pertimbangan tadi sudah ada di kepala saya. Banyak yang menanyakan kalau kamu jadi wakil gubernur bagaimana? Ya, saya jawab tidak ada salahnya, karena mengurus Jatim dan Trenggalek kan sesuai dengan program kewilayahan dan harus dibangun dari provinsi juga.

Obrolan-obrolan ini terjadi tanpa ditutup-tutupi. Enggak usah dibahas juga wong belum tentu kita kok. Maksudnya ini baru gosip. Tapi, pembahasan dengan keluarga, kerabat dan teman terjadi. Bahkan dengan para pegawai saya juga, "Pak mudah-mudahan jadi yah," jadi apa, ya mudah-mudahan jadi wakil gubernur. Lalu saya tanya balik, nanti gimana dengan Trenggalek? Mereka bilang kan masih di sini, di Jawa Timur. Jadi, wacana-wacana itu berkembang, tapi saya sendiri enggak meyakini bahwa semua sudah fix, saya tidak tahu.

Siapa komunikator Emil dengan parpol-parpol?

Kamu percaya enggak? Enggak ada. Partai-partai ini adalah yang mengusung saya di Trenggalek pada 2015. Ada PDI Perjuangan, Golkar, Demokrat, Gerindra, PPP, dan PAN. Yang mengindikasikan atau memproklamasikan dukungan Golkar, Demokrat, dan Hanura. Ketiga partai ada di koalisi tadi. PPP dan PAN condong ke Ibu Khofifah. Gerindra belum memutuskan. Sementara PDI Perjuangan memilih mengusung Pak Saifullah Yusuf dan Pak Azwar Anas. Saya sendiri tak sekadar memenuhi ajakan, tapi kita introspeksi apakah nanti bila terpilih kami bisa berbuat sesuai harapan masyarakat.

Baca juga: Emil Dardak-PDIP Berakhir Saling Menghormati

Seperti apa yang saya katakan, ini bukan naik jabatan. Job description dan tuntutan di provinsi berbeda dengan di kabupaten. Kalau di Kabupaten, kita front line. Tapi, seorang front liner belum tentu bagus ketika ditaruh di level strategic. Tapi itu membantu karena dia paham di level bawah. Makanya tidak bisa dilihat sepotong-sepotong.

Emil dianggap tak punya etika terhadap PDI Perjuangan?

Lantas bagaimana dengan enam parpol yang mengusung saya di Trenggalek? PDI Perjuangan menyumbang 9 dari 20 kursi koalisi. Bila saya dibilang punya utang budi, saya mau ngomong apa dengan enam partai pengusung yang lain. Mereka mendukung tanpa syarat. Jadi, partai-partai lain komplain juga dong kalau dibilang saya tak bisa balas budi. Tapi, saya konsekuen dan komitmen ke PDI Perjuangan, yaitu bisa menang dan berhasil di Trenggalek. Itu juga saya sampaikan ke partai lain. Komitmen itu tidak saya cabut meski kondisinya seperti ini. Karena apa? Karena saya akan tetap hormat dan salut kepada PDI Perjuanga.


Tim Medcom.id memberikan cinderamata kepada Bupati Trenggalek Emil Elestianto Dardak di Pendodo Kabupaten Trenggalek beberapa pekan lalu. Foto: Dok/Medcom.id

Kita manusia tidak 100 persen selamanya berada di koridor yang lurus. Jadi, saya sudah berusaha sebaik mungkin untuk pamit dengan gentleman, kesatria, dan menyampaikan langsung tentang pilihan ini. Bukan di belakang layar, tapi datang langsung. Mereka juga dalam interaksi langsung dengan saya, menyampaikan dengan sangat negarawan. Tentunya ada langkah-langkah politik yang diambil oleh mereka, tapi secara hubungan hablum minannas (hubungan kemanusiaan) tidak ada (utang budi) yang membuat seperti itu. Saya rasa omongan itu (utang budi) tidak keluar dari mulut mereka yang mengobrol langsung dengan saya.

Andai, misalnya, gagal di Pilgub Jatim, apa langkah Anda ke depan?

Semua possibility (kemungkinan) ada. Bahkan sampai pendaftaran 8 Januari nothing is confirmed, sampai penetapan calon tidak ada yang confirm. Makanya moment ini saya ingin fokus dulu jalankan tugas sebagai Bupati Trenggalek. Tapi respons dari akar rumput luar biasa. Ada gairah dari para pemuda untuk ada suatu warna baru di kancah kepemimpinan provinsi, gubernur seorang teknokrat, akademisi juga, sudah menempuh desertasi doktor juga dan sebagainya, mereka ingin melihat versi muda dari beliau.

Di sisi lain, Ibu Khofifah sangat melekat di akar rumput. Sampai ke pelosok-pelosok Ibu Khofifah dilihat sebagai pejuang. Ini tidak instan, tapi karena konsistensi sikap dan perbuatan beliau selama pengabdiannya. Jadi merespons akar rumput, kami harus bijak. Jangan sampai mencampuradukkan politik dengan kedinasan.

Mendagri Tjahjo Kumolo mengkritik Anda belum punya prestasi?

Masak beliau ngomong seperti itu? Tapi, soal prestasi itu bisa dibuktikan. Akhir-akhir ini memang banyak yang mencari-mencari, seperti kemarin banyak yang mengatakan tren pertumbuhan ekonomi di Trenggalek melambat di lima tahun terakhir. Lima tahun terakhir itu zaman siapa? Justru di era saya, pada 2016, (pertumbuhan ekonomi) luar biasa. Fiskal kita kena cut (potong), pertanian nonsawah dan perikanan juga kena pukul karena cuaca. Toh, kami bisa mempertahankan pertumbuhannya di angka lima. Kenyataannya kita juga meraih predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), first time in history Trenggalek. Itu bukan sesuatu yang gampang.

Kami juga mendapatkan apresiasi-apresiasi tentang rumah sakit kita. Bisa dikatakan apresiasi itu paripurna bintang lima walaupun kita terus kembangkan dari sisi keramahan pelayanan dan ketepatan waktu. Ini bukan hal-hal yang menurut saya zero achievements. Bagaimana kita memasukkan rencana Pelabuhan Prigi di dalam rencana induk pelabuhan nasional, memasukkan jalan strategis dari Prigi ke arah timur ke selatan Jawa ke priority project Islamic Development Bank (IDB). Ini yang menurut saya bukan sesuatu yang nothing. Ini ada hal-hal konkret yang sudah dilakukan di Trenggalek dan membuat saya ragu kalau beliau (Pak Tjahjo Kumolo) mengatakan hal itu.

Visi dan misi apa yang belum Anda dilakukan untuk Trenggalek?

Kalau saya melihat pada saat menyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), kita menggunakan gambar-gambar. Jadi saya tanya, visi kita adalah Trenggalek yang maju, berkeadilan, sejahtera, berkripibadian berlandaskan iman dan taqwa. Definisi maju ini kan perspektifnya beda-beda, maka saya kasih gambar-gambar, saya kasih gambar mal di Jakarta, resort mewah di Nusa Dua, Bali, kawasan industri di sekitar Cikarang, semua orang Trenggalek bilang enggak seperti itu. Enggak mungkin Trenggalek seperti itu.

Akhirnya saya kasih gambar alternatif kemajuaan seperti festival di Jember, fashion carnaval, desa-desa wisata, pertanian modern, kemudian produk kita dipajang di mal yang eksklusif, kemudian kemasan UKM ini menjadi lebih menarik produk-produknya. Kemudian kita bisa bikin festival kesenian yang berskala nasional, di liput TV dan spektaluler, kita bisa punya kawasan wisata yang benar-benar tertata dengan baik.

Saya boleh katakan, alhamdulillah, hari ini saya bisa kasih foto tujuh-tujuhnya. Tercapai. Makanya saya harus bersyukur karena ini bukan pribadi, tapi juga ada wakil bupati yang sangat muda, progresif, kreatif, Mas Nur Arifin. Wabup termuda di Indonesia. Dia adalah patner saya dalam membangun Trenggalek, ada seluruh jajaran birokrasi, ada komunitas pemuda. Komunitas pemuda yang kita kumpulkan kemarin mereka sudah masuk ke online, ada batik yang dibuat dari kain perca yang 80 persen sale-nya itu online. Ada yang bisa membuat miniatur bus dan yang penjualannya sudah sampai Singapura, ada yang penjualannya sampai ke Amerika menjual batu akik tapi dengan kualitas bagus dan khas lumut Trenggalek.

Ini adalah perkembangan konkret yang dilakukan generasi muda. Jadi mereka semua, masyarakatnya juga luar biasa, birokrasinya mau berubah walaupun tentunya masih ada cluster-cluster yang perlu diperbaiki dan saya punya patner yang baik dan keluarga yang mendukung. Dan tentunya juga restu dan ridho Allah SWT yang memberikan langkah dan kelancaran. Tentunya semua ingin sampai habis, sampai kelihatan sampai tuntas, tapi ada strategi yang ingin kita capai, ada sebuah image, kita baru selesai mengadakan festival kesenian di kawasan selatan yang diakui terspektakuler yang pernah ada dalam 13 tahun itu dalam sejarah festival itu diadakan.

Ada yang dibuat film khusus di TV nasional swasta yang ratingnya tinggi untuk mengangkat mengenai itu. Mengangkat maha karya Guruh Sukarnoputra yang membuat tarian dari mulai Pacitan, Trenggalek terus sampai Banyuwangi selatan. Kita punya panggung yang benar-benar menunjukkan keindahan alam selatan Indonesia, panggung ini sekarang setiap minggu selalu ramai dikunjungi kelompok-kelompok wisatawan yang datangnya bisa ratusan bahkan ribuan. Jadi, kita sudah menata kawasan Pantai Prigi yang tadinya tidak menarik, 30 meter dari bibir pantai isinya semua kios-kios enggak beraturan.

Sekarang sudah mundur 100 meter sudah terbuka satu plaza yang bisa menjadi pusat event-event besar. Jambore pemuda diadakan, ada acara live TV nasional diselenggarakan di kawasan selatan, sehingga saking bagusnya alamnya kita dijadikan lokasi syuting untuk film juga. Ini mungkin orang bilang cuma bisanya bawa artis. Bukan! Ini bagaimana meningkatkan positioning Trenggalek di dalam pikiran masyarakat nasional kita. Bahwa Trenggalek adalah daerah eksotis, indah, layak dijadikan ikon sebuah kreatif di Indonesia. Wong Presiden Jokowi saja mendorong ekonomi kreatif, maka perfilmannya harus menggunakan cara sekarang jangan menggunakan cara-cara kemarin tolak ukurnya.

Jadi tolak ukurnya untuk masuk ke ekonomi kreatif pariwisata Anda harus eksis di dunia itu. Dan itu bukan sesuatu yang gampang kalau saya tak menata kawasannya, enggak bisa. Pada 2016 mereka enggak mau ke sana, setelah melihat penataan kawasan di sana sudah 4G jaringan internetnya, sudah fiber optik, benar-benar bagus baru mereka mau bikin. Jadi, bukan sesuatu yang gampang untuk bisa membuat kawasan itu layak tampil di sebuah layar kaca nasional.

Pesan dan warisan apa yang akan Anda berikan untuk Wabup Trenggalek Nur Arifin?

Ya, kita tidak bisa mendahului mahakuasa, artinya hasil pilgub ini nantinya tergantung Tuhan, seoptimis apa pun kita, seyakin apa pun kita. Tapi saya yakin, kita berangkat menulis visi misi kita bersama, punya cita-cita sama bahwa kita ingin suatu dobrakan yang besar di Trenggalek. Saya meyakini beliau akan melanjutkan hal-hal yang sudah kita rintis bersama. Ini bukan visi misi saya, tapi visi saya dan wakil bupati. Jadi, apa pun yang dilakukan ke depan dia tak harus mengubah visi misi. Karena dia punya saham dalam visi misi itu. Insyaallah kesinambungan pembangunan ini akan baik kalau di tangan beliau.


 



(SBH)