Kampanye Pemilihan Presiden hari Senin akan memasuki babak debat yang pertama. Kedua pasangan calon akan tampil untuk mengadu gagasan besar mereka tentang pembangunan demokrasi, pemerintahan yang bersih, dan kepastian hukum.
Inilah yang menarik untuk kita simak bersama. Seperti apa sebenarnya pikiran yang genuine dari kedua pasang calon presiden dan calon wakil presiden tentang ketiga isu besar tersebut.
Tentu yang namanya ilmu tidak pernah ada yang keliru dan tidak bermanfaat. Setiap gagasan pasti mempunyai arti penting yang bisa dibagi kepada orang lain. Hanya kemudian yang menarik adalah bagaimana menerjemahkan gagasan itu ke dalam tindakan.
Kita masih ingat apa yang pernah diucapkan Pemimpin Afrika Selatan Nelson Mandela. Menurut Mandela, visi yang tidak diikuti dengan aksi hanyalah mimpi. Aksi yang tidak dilengkapi dengan visi, maka tidak akan membawa kita ke mana-mana. Ketika visi diikuti dengan aksi, maka itulah yang akan bisa mengubah dunia.
Kita sering mendengar gagasan-gagasan besar yang dilontarkan. Namun gagasan itu seringkali tidak datang dari pikiran yang genuine. Akibatnya, gagasan itu hanya manis di mulut, tetapi tidak pernah bisa dikerjakan.
Lihat saja Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Nomor 11 Tahun 1998 tentang perlunya pemerintahan yang bersih dari praktik korupsi, kolusi dan nepotisme. Setelah 16 tahun reformasi kita gulirkan, praktik KKN Justru semakin menjadi-jadi dan bahkan tidak punya malu.
Pertanyaannya, sejauh mana kedua pasangan capres dan cawapres sekarang ini akan menjalankan Ketetapan MPR tadi. Paling mudah saja, bagaimana kedua pasangan calon itu akan mencegah kakak, adik, anak, atau saudara mereka terlibat dalam kegiatan proyek pemerintah.
Selama ini kita sering mendengar dalih bahwa tidak boleh kita menutup hak orang untuk berusaha. Tetapi di negara yang maju demokrasinya, nepostisme itu sangat ditabukan. Sebagai bentuk pengorbanan kepada keluarga mereka yang menjadi pemimpin negara, maka semua saudara tidak boleh terlibat dalam bisnis yang ada kaitannya dengan pemerintah.
Contoh paling nyata dilakukan Dennis Thatcher. Ketika istrinya, Margareth Thatcher terpilih menjadi Perdana Menteri Inggris, maka yang pertama ia lakukan adalah meninggalkan semua kegiatan bisnisnya. Bahkan kedua anak Margareth memilih menjadi orang biasa.
Kita sungguh mendambakan hadirnya pemimpin yang tidak hanya pandai bicara. Yang lebih penting lagi adalah pemimpin yang mau bekerja dan bisa memberikan teladan yang baik kepada seluruh rakyat ini.
Dua isu lain yang akan dibahas, penting untuk diketahui juga seperti apa gagasan dari kedua pasangan calon pemimpin yang ada. Kita sering mendengar istilah demokrasi yang sudah kebablasan. Lalu apa yang selanjutnya kita perlu kerjakan? Apakah kita perlu kembali ke era lama dengan meninggalkan sistem demokrasi ataukah kita meneruskan demokrasi yang ada dengan disertai contoh tindakan yang baik?
Bagaimana pula kedua pasangan calon itu dalam memandang soal kepastian hukum. Apakah hukum berlaku sama atau dengan pengecualian? Equality before the law atau kesamaan di depan hukum seringkali hanya menjadi jargon kosong yang tidak bisa dilaksanakan karena ada pilih-kasih.
Kepastian hukum berkaitan juga dengan persoalan bisnis. Sejauh mana pemerintah akan menghormati yang namanya kontrak? Bagaimana pula pemerintah mendatang akan mampu memotong rantai birokrasi yang membuat perizinan begitu bertele-tele?
Dalam debat nanti, kita memang tidak mencari mana yang benar dan mana yang salah. Yang kita ingin ketahui, mana pikiran yang paling feasible dan masuk akal, sehingga memungkinkan untuk bisa dilaksanakan.
Komisi Pemilihan Umum sudah menetapkan akan ada lima kali debat yang melibatkan kedua calon presiden dan kedua calon wakil presiden. Isu yang dibahas selalu berbeda-beda. Yang ingin didapat dari lima debat sekali lagi, apa pikiran genuine yang bisa dilaksanakan untuk semua isu yang penting dan menentukan bagi kemajuan bangsa dan negara ini.( Suryo Pratomo)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
