Pengamat sepak bola Kesit B Handoyo-Foto Istimewa
Pengamat sepak bola Kesit B Handoyo-Foto Istimewa

Pengamat Sepak Bola: Tak Ada Kompromi bagi Pelanggar Sportivitas, Termasuk Label Pemain Timnas

Rizki Yanuardi • 21 April 2026 07:38
Ringkasnya gini..
  • Video insiden tendangan kungfu pesepak bola muda viral di media sosial dan membuat pemain yang sempat dipanggil ke skuad Timnas U-17 ini terancam sanksi berat dari PSSI.
  • Pengamat mengatakan, insiden tidak akan terjadi jika sejauh mana tingkat kepatuhan dalam menaati law of the game sudah dilakukan. No compromise atau zero tolerance.
  • Pesepak bola wajib hukumnya menjunjung tinggi sportivitas sebagai "bahasa utama" seorang atlet. Apalagi untuk pemain dengan label timnas yang seharusnya menjadi contoh..

Jakarta: Aksi tendangan kungfu yang dilakukan pemain Bhayangkara FC U-20, Fadly Alberto, usai laga melawan Dewa United U-20 di Stadion Citarum, Semarang, Minggu (19/4), terus menuai kritik tajam. Video insiden tersebut viral di media sosial dan membuat pemain yang sempat dipanggil ke skuad Timnas U-17 ini terancam sanksi berat dari PSSI.

Meski Chief Operating Officer Bhayangkara FC, Sumardji, mengungkapkan adanya provokasi rasisme sebagai pemicu, pengamat sepak bola Kesit Budi Handoyo menegaskan bahwa tindakan kekerasan di lapangan tetap tidak bisa dibenarkan. Baca juga Tendangan Kungfu Fadly Alberto Diduga Dipicu Ejekan Fisik

Kepada Medcom.id, Selasa (21/4), pria yang akrab disapa Bung Kesit ini mengatakan bahwa terkait hukuman nanti, PSSI sudah memiliki beberapa contoh kasus yang dapat dijadikan yurisprudensi Komisi Disiplin PSSI dalam mengambil putusan. Sebelumnya, pernah terjadi insiden serupa di Liga 4 yang menurut Kesit bisa menjadi acuan, di mana sang pemain dihukum seumur hidup dari sepak bola nasional.

Soal regulasi kompetisi, menurut Kesit sudah jelas. "Semua aturan dalam pertandingan sepak bola, termasuk EPA, tidak ada bedanya dengan pelaksanaan liga-liga lainnya. Pertanyaannya, sejauh mana tingkat kepatuhan dalam menaati law of the game? No compromise atau zero tolerance itulah yang seharusnya dijalankan, baik oleh peserta maupun perangkat pertandingan," tegas Kesit.

Berdasarkan laporan dan peninjauan ulang rekaman video, masalah disinyalir berawal dari kinerja perangkat pertandingan yang dianggap kurang profesional saat terjadi aksi rasisme dari bench pemain. Sumardji, yang telah berkomunikasi langsung dengan Fadly Alberto, menyebut pemainnya tersulut emosi karena mendapatkan ucapan rasis dan ejekan fisik.

"Ada teriakan dari bench, 'Berto hitam, Berto monyet'. Di situlah ia akhirnya naik darah dan melakukan tendangan berbahaya," ujar Sumardji. Ia menekankan insiden ini menjadi bahan evaluasi serius sambil menunggu keputusan Komisi Disiplin terkait sanksi yang akan dijatuhkan.

Bung Kesit menambahkan bahwa semua pesepak bola wajib menjunjung tinggi sportivitas sebagai "bahasa utama" seorang atlet. "Apalagi untuk pemain dengan label timnas. Dia harus jadi contoh positif dan panutan. Harus bisa membawa diri, tidak arogan, dan tetap humble sekalipun penuh dengan pujian," tutupnya.


 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RIZ)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan