Insiden tersebut viral di media sosial hingga Fadly Alberto menuai hujatan hingga terancam sanksi berat dari PSSI.
Chief Operating Officer Bhayangkara yang juga menjabat sebagai Ketua Badan Tim Nasional (BTN), Sumardji, memaparkan bahwa kejadian itu bermula dari hal yang tidak semestinya.
"Saya sebenarnya sangat, benar-benar saya sangat kecewa ya dengan adanya kejadian itu. Kejadian itu kan diawali dari sesuatu yang semestinya tidak boleh terjadi," kata Sumardji.
Menurutnya, berdasarkan laporan yang diterima serta hasil peninjauan ulang melalui rekaman video, masalah berawal dari kinerja perangkat pertandingan yang dianggap tidak profesional.
Dipicu ejekan fisik bernada rasis
Sumardji menambahkan, dirinya sudah berkomunikasi dengan Fadly Alberto. Ia mengatakan Fadly Alberto naik pitam karena mendapatkan ucapan rasis dan ejekan fisik.
"Tetapi menurut Berto, kan saya telpon Berto. Ada dari bench itu teriakan, 'Berto hitam, Berto monyet'. Nah, disitulah Berto akhirnya naik darah marah dan dia melakukan tendangan itu," ucapnya.
Aksi tendangan tersebut menjadi puncak dari rangkaian insiden dalam pertandingan dan langsung menuai sorotan luas. Meskipun ada dugaan pemicu, Sumardji menegaskan bahwa tindakan Fadly tetap tidak dapat dibenarkan.
"Tapi apapun saya bilang, itu tidak dibenarkan dan itu tidak boleh dilakukan. Ya, itu tidak boleh dilakukan (menendang lawan)," tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa insiden ini harus menjadi bahan evaluasi bagi pemain, sembari menunggu keputusan dari Komisi Disiplin terkait sanksi yang akan dijatuhkan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News