Hentikan Narasi Anti-Islam
Hentikan Narasi Anti-Islam
NARASI Presiden Joko Widodo tidak memperhatikan umat Islam masih terus berembus. Embusannya jauh lebih kencang lagi di tahun politik ini. Tatkala tidak menemukan celah kelemahan dalam kinerja yang apik selama ini, lawan politik pun memainkan isu sensitif, yaitu Jokowo anti-Islam.

Isu Jokowi anti-Islam tentu saja tidak berbasiskan fakta. Ironisnya, masih saja ada pihak-pihak yang menelan mentah-mentah hoaks tersebut. Lebih ironis lagi, hoaks itu malah diproduksi dan terus beranak pinak di dunia maya.


Karena itulah, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif meminta narasi bahwa Presiden Joko Widodo tidak memperhatikan umat Islam dihentikan. Dihentikan, karena fakta yang terjadi ialah sebaliknya, kebijakan Jokowi justru banyak berpihak kepada umat Islam, khususnya Muhammadiyah.

Permintaan Syafii Maarif itu tepat momentum karena diungkapkan ketika Jokowi menghadiri Milad Satu Abad Madrasah Mu'allimin Mu'allimaat Yogyakarta, Kamis (6/12). Kehadiran Jokowi dianggap spesial karena dialah presiden pertama yang mengunjungi sekolah tersebut.

Jokowi yang masuk deretan 500 tokoh Islam paling berpengaruh di dunia pada 2017 itu memberikan perhatian yang begitu besar kepada umat Islam. Jokowi menetapkan Hari Santri Nasional, juga para polisi wanita dan tentara perempuan diizinkan menggunakan jilbab atau penutup kepala.

Dalam bidang ekonomi, Jokowi meneken Peraturan Presiden Nomor 91 Tahun 2016 tentang Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS). Jokowi juga meneken Peraturan Presiden Nomor 57 Tahun 2016 tentang Pendirian Universitas Islam Internasional Indonesia. Pendirian universitas itu untuk merealisasikan keinginan Jokowi agar Indonesia menjadi rujukan studi Islam dunia.

Harus jujur diakui bahwa Jokowi memberi perhatian serius dalam perberdayaan organisasi keagamaan. Tidak hanya Nahdlatul Ulama, Jokowi juga membuktikan kontribusinya terhadap pemberdayaan Muhammadiyah. Presiden menyerahkan enam surat keputusan pendirian sekolah tinggi Muhammadiyah di Lamongan. Keberpihakan Presiden juga ditunjukkan dengan membantu perluasan Madrasah Mu'allimin Mu'allimaat Yogyakarta.

Dalam berbagai kesempatan Jokowi selalu memberi apresiasi kepada Muhammadiyah yang ikut berperan serta membangun bangsa dan negara. Organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan itu telah mengabdi kepada negara, baik di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, maupun pemberdayaan masyarakat.

Sudah banyak sekolah yang didirikan Muhammadiyah untuk mencerdaskan umat dan anak bangsa sehingga tidak ada salahnya jika negara membantu Muhammadiyah. Membantu Muhammadiyah berarti negara membantu dirinya sendiri dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Sama seperti NU, bagi Jokowi, Muhammadiyah merupakan aset terbesar bangsa ini yang harus diperhatikan oleh negara. Bersama NU, Muhammadiyah merupakan benteng penjaga persatuan dan kerukunan antarwarga, ukhuwah di antara anak bangsa.



Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id