Mencegah Kampus Jadi Center of Terror

04 Juni 2018 09:01 WIB
Mencegah Kampus Jadi <i>Center of Terror</i>
Mencegah Kampus Jadi Center of Terror

Salah satu peran kampus perguruan tinggi dalam masyarakat ialah menjadi center of excellence.

Dengan status itu, kampus berkewajiban untuk mengembangkan berbagai kualitas dan keunggulan.

Keunggulan itu mencakup bidang ilmu pengetahuan dan akademik ataupun keunggulan di bidang non-akademik, termasuk di dalamnya pembangunan karakter, integritas, budi pekerti, moralitas, dan nilai-nilai luhur.

Sungguh sangat mengejutkan jika di dalam kampus berkembang nilai-nilai yang berkebalikan dengan peran kampus sebagai center of excellence.

Penangkapan tiga terduga teroris di Kampus Universitas Riau (Unri) kita khawatirkan mengganggu citra baik kampus sebagai center of excellence tersebut.

Densus 88 Antiteror bersama Polda Riau menggerebek kampus Unri pada Sabtu (2/6) siang.

Penggerebekan yang melibatkan personel Brimob bersenjata lengkap dan Gegana serta tim Inafis itu menangkap tiga terduga teroris.

Dari tangan ketiganya, polisi menyita empat bom rakitan dan menyita sejumlah serbuk bahan pembuat bom dari gedung yang sejatinya merupakan sekretariat bersama kelembagaan mahasiswa tersebut.

Penangkapan terduga teroris itu menjadi bukti betapa isu bahwa kampus telah tersusupi radikalisme bukan semata isapan jempol.

Kita sebagai anak bangsa tentu prihatin dengan berkembangnya gejala yang mencemaskan tersebut.

Benar bahwa sebelum insiden ini, beberapa waktu lalu, sempat beredar informasi bahwa tujuh kampus negeri di Jawa terpapar radikalisme.

Ketujuh kampus yang disebut itu ialah Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Diponegoro, Institut Teknologi Surabaya, Universitas Airlangga, dan Universitas Brawijaya.

Bahkan, menurut Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), radikalisme telah menyusup ke semua universitas negeri di seantero Pulau Jawa, juga sejumlah universitas di luar Jawa. Sejumlah penelitan juga mengungkap hal serupa.

Akan tetapi, kita tidak menduga betapa gerakan radikalisme yang menyusup di kampus-kampus ternyata telah berjalan demikian jauh, telah berbentuk terorisme.

Tertangkapnya tiga terduga teroris di Unri menjadi indikasi betapa virus radikalisme telah menjadikan kampus sebagai salah satu pusat gerakan terorisme.

Gejala ini tentu sangat mencemaskan. Bagaimana mungkin kampus sebagai center of excellence, yang semestinya mengembangkan nilai-nilai unggul dan luhur, ternyata sudah disusupi gerakan ektremisme yang menghalalkan penggunaan kekerasan?

Salah satu penyebabnya ialah kalangan perguruan tinggi sudah kehilangan daya kritis.

Berkembangnya media sosial membuat nalar kritis mereka tumpul.

Mereka menyerap secara instan segala informasi dari medsos.

Di medsos yang berlaku ialah konfirmasi dan legitimasi, bukan konversasi dan diskusi.

Kita tentu mengapresiasi kinerja aparat keamanan yang berhasil mengungkap jaringan terorisme yang sudah masuk ke kampus-kampus.

Dengan kesigapan aparat, aksi terduga teroris untuk melakukan pengeboman yang memakan korban jiwa dapat dicegah.

Kita patut meningkatkan kewaspadaan terkait dengan insiden tersebut.

Insiden di Universitas Riau hendaknya menjadi pelajaran bagi para pengelola perguruan tinggi di mana pun untuk lebih waspada terhadap bahaya terorisme.

Harus ada extra effort untuk membentengi kampus dari nilai-nilai yang merusak peradaban kehidupan akademik.

Pengelola kampus harus bekerja sama dengan instansi terkait seperti BNPT ataupun Polri untuk mengikis habis benih-benih radikalisme.

Semangat kampus untuk menjadi center of excellence harus ditegakkan kembali. Kampus tidak boleh menjadi center of terrorism.