Tol untuk Mudik Lancar
Tol untuk Mudik Lancar

Indonesia terbilang negara pertama yang punya tol. Pada 1978 kita punya Tol Jagorawi sepanjang sekitar 47 kilometer. Sejumlah negara datang ke Indonesia untuk belajar membangun dan mengoperasikan tol. Tiongkok salah satunya.

Negara yang dulu murid Indonesia dalam urusan tol itu kini lebih pintar daripada gurunya. Sepanjang 1988-2015 Tiongkok membangun 111.950 kilometer tol.

Di Indonesia, sepanjang pemerintahan Presiden Soeharto, terbangun sekitar 490 kilometer tol. Di era Presiden Habibie yang sangat singkat, terbangun 7,2 kilometer tol. Di masa Presiden Gus Dur yang dilanjutkan Presiden Megawati Soekarnoputri, beroperasi sekitar 40 kilometer tol. Selama pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, terealisasi 212 kilometer tol.

Di era Presiden Joko Widodo, hingga akhir 2017, kita mendapat tambahan 568 kilometer tol. Itu artinya, panjang tol yang dibangun di masa pemerintahan Jokowi yang baru berumur sekitar tiga tahun jauh melampaui panjang tol yang dibangun sepanjang 32 tahun pemerintahan Presiden Soeharto ataupun dua periode pemerintahan SBY.

Mengapa Tiongkok memacu pembangunan tol? Mengapa pula Presiden Jokowi menggenjot pembangunan tol? Itu tentu disebabkan ketersediaan tol sebagai bagian dari infrastruktur akan memacu ekonomi.

Ambil contoh mudik Lebaran tahun ini. Kita tahu mudik bukan semata ritual sosial, melainkan juga ritual ekonomi. Ada aktivitas ekonomi dalam ritual mudik.

Paling tidak berlangsung tiga aktivitas ekonomi dalam ritual mudik. Pertama, terjadi perpindahan uang dalam bentuk uang tunai dan barang dari kota ke desa yang tahun ini jumlahnya diperkirakan mencapai Rp100 triliun. Dalam bahasa ekonomi, mudik menjadi salah satu instrumen redistribusi kekayaan.

Kedua, pembangunan infrastruktur. Ritual mudik mendorong pemerintah membangun infrastruktur, termasuk tol. Pembangunan infrastruktur ialah belanja modal yang kelak digunakan untuk menghasilkan pendapatan.

Ketiga, ritual mudik bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi melalui konsumsi. Kita tahu jumlah penduduk Indonesia yang besar menjadikan konsumsi sebagai faktor utama pertumbuhan ekonomi.

Terang benderang, tol bukan cuma memperlancar arus mudik, melainkan juga memperlancar ekonomi. Kelancaran mudik bisa dikatakan menentukan kelancaran ekonomi. Tol tentu tidak hanya memperlancar aktivitas ekonomi semasa mudik, tetapi juga masa-masa setelahnya.

Pada mudik tahun ini, pemudik bisa menggunakan tol dari Jakarta ke Surabaya sepanjang 525 kilometer, Tol Trans-Sumatra sepanjang hampir 90 kilometer, dan tol fungsional Bogor-Ciawi-Sukabumi sepanjang sekitar 15 kilometer.

Makin banyak dan panjangnya tol membuat mudik tahun ini relatif lancar. Pada puncaknya yang berlangsung kemarin, arus mudik relatif lancar. Pemudik sungguh merasakan kelancaran mudik tahun ini. Mereka memberi testimoni bahkan berterima kasih kepada Presiden Jokowi.

Testimoni rakyat dijamin tulus karena mereka merasakan langsung manfaat pembangunan infrastruktur. Itu bertolak belakang dengan pernyataan sebagian elite yang kebanyakan dilatarbelakangi syahwat berkuasa.