Bali Lautan Sampah
Bali Lautan Sampah
SEORANG penyelam asing mem-posting video lautan sampah di Nusa Penida, Bali. Posting-an itu langsung menjadi viral. Sampah di Bali pun jadi sorotan media internasional pada hari-hari terakhir ini. Sampah di Bali menjadi sorotan dunia karena daerah itu menjadi tujuan wisata turis mancanegara.

Pulau Dewata bahkan terus bertengger di urutan atas daftar destinasi wisata dunia. Sampah secara estetis pasti mengganggu wisatawan, tapi sampah plastik di Bali ialah masalah yang jauh lebih serius saban tahun.


Jujur dikatakan bahwa sampah plastik di Bali sebenarnya hasil kealpaan luar biasa terhadap lingkungan. Ini merupakan dosa ekologi karena selama bertahun-tahun sampah plastik di laut seperti dibiarkan dengan kesadaran penuh.

Indonesia masih berada di urutan kedua setelah Tiongkok sebagai penyumbang terbesar puing-puing laut di dunia. Sekitar 1,29 juta metrik ton sampah dihasilkan Indonesia setiap tahunnya. Harus ada kemauan kuat, sangat kuat, disertai tindakan nyata untuk membebaskan laut dari sampah.

Tanpa itu, komitmen untuk mengurangi sampah plastik pantai hingga 70% pada 2025 hanyalah isapan jempol. Pemerintah sudah menunjukkan komitmen untuk mengelola sampah dengan baik.

Komitmen itu bisa dilihat dari terbitnya sejumlah regulasi, misalnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Menurut undang-undang itu, pemerintah dan pemerintahan daerah bertugas menjamin terselenggaranya pengelolaan sampah yang baik dan berwawasan lingkungan. Akan tetapi, meski undang-undang itu sudah berusia satu dekade, toh masalah sampah tak kunjung tuntas.

Persoalan sampah masih ditangani secara sektoral, belum menjadi perhatian apalagi menjadi gerakan sosial kemasyarakatan. Kebijakan pemerintah untuk mengurangi penggunaan plastik juga belum sepenuhnya berhasil. Pola plastik berbayar di supermarket belum efektif.

Jauh lebih efektif jika pemerintah membatasi keberadaan industri plastik atau mulai diperkenalkan plastik yang bisa didaur ulang. Terus terang dikatakan bahwa sampah plastik di pantai, termasuk sampah di Bali, sesungguhnya menjadi masalah bersama umat manusia. Itu masalah bersama karena sampah di Bali makin memburuk pada saat musim hujan tiba.

Angin kencang mendorong sampah ke pantai. Jika diperhatikan dengan saksama, sebagian sampah di Bali itu berasal dari mancanegara. Sangatlah tidak adil jika persoalan sampah plastik di Bali itu hanya menjadi beban masyarakat atau pemerintah daerah setempat.

Tegas dikatakan bahwa harus ada solidaritas internasional untuk mengatasi sampah plastik. Solidaritas itu sangat penting karena dampak kerusakan akibat sampah plastik sangatlah serius bagi ekosistem kelautan. Selain mengotori lautan, sampah plastik termakan dan meracuni hewan-hewan laut yang pada gilirannya berpengaruh pada manusia.

Persoalan sampah plastik di pantai sesungguhnya tidak lagi mengenal batas negara. Karena itu, darurat sampah di Bali pada hakikatnya persoalan umat manusia.