Anggota DPR Fraksi Partai Gerindra Fadli Zon (Foto: Medcom.id)
Anggota DPR Fraksi Partai Gerindra Fadli Zon (Foto: Medcom.id)

Wacana Presiden Tiga Periode Mematikan Demokrasi

Nasional Amendemen UUD 45
Whisnu Mardiansyah • 02 Desember 2019 18:21
Jakarta: Penambahan masa jabatan presiden hingga tiga periode dinilai sangat berbahaya. Wacana ini menjadi alarm kemunduran sistem demokrasi yang mengarah ke otoritarianisme.
 
"Ada wacana lagi mau menambah menjadi tiga periode. Saya kira ini bukan hanya memundurkan demokrasi, tetapi mematikan demokrasi kita," kata anggota DPR Fraksi Partai Gerindra Fadli Zon di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Senin, 2 Desember 2019.
 
Menurut Fadli, memperpanjang masa jabatan presiden sebagai upaya mempertahankan kekuasaan dengan cara mengubah konstitusi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ada yang sampai berusaha menunda pemilu dan seterusnya, termasuk menempatkan seorang boneka dan sebagainya. Itu terjadi dalam kasus Putin-PM Medvedev (Rusia)," kata Wakil Ketua Umum Gerindra itu.
 
Masa jabatan dua periode sudah menjadi konvensi internasional negara dengan demokrasi terbuka. Semua pihak diminta tetap pada komitmen menjaga iklim demokrasi di Indonesia.
 
"Menurut saya selesaikan saja itu di situ dan disetop jangan sampai diperpanjang akan membuka kotak pandora, dan membahayakan demokrasi kita," ujarnya.
 
Presiden Joko Widodo meminta wacana amendemen UUD 1945 dihentikan. Dia menilai pembahasan amendemen melebar dari tujuan utama yakni Garis Besar Haluan Negara (GBHN).
 
"Lebih baik tidak usah amendemen," kata Jokowi saat berbincang dengan wartawan di Istana Merdeka, Jakarta.
 
Jokowi mengaku ragu amendemen cuma fokus pada pembahasan GBHN. Ia menyadari pembahasan amendemen UUD 1945 akan melebar ke isu lain.
 
Dugaan itu menjadi kenyataan. Pembahasan amendemen UUD 1945 turut menyerempet isu masa jabatan presiden dan pemilihan presiden oleh MPR.
 
"Apakah bisa yang namanya amendemen berikutnya dibatasi? Untuk urusan haluan negara, apakah tidak melebar ke mana-mana. Sekarang kenyataannya seperti itu kan," kata Jokowi.
 

(AZF)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif