KRI Sutedi Senoputra-378 (kiri) dan KRI Teuku Umar-385 (kanan) berlayar meninggalkan Faslabuh Lanal Ranai, Natuna, Kepulauan Riau. Foto: Antara/M Risyal Hidayat
KRI Sutedi Senoputra-378 (kiri) dan KRI Teuku Umar-385 (kanan) berlayar meninggalkan Faslabuh Lanal Ranai, Natuna, Kepulauan Riau. Foto: Antara/M Risyal Hidayat

KSAL: Drone Bawah Laut Bisa Digunakan Industri dan Militer

Nasional tni al pertahanan negara pertahanan keamanan keamanan laut
Yogi Bayu Aji • 04 Januari 2021 10:57
Jakarta: Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Yudo Margono menyebut unmanned underwater vehicle (UUV) atau drone tak hanya digunakan untuk keperluan militer. Teknologi ini juga dimanfaatkan dalam industri.
 
"Bisa untuk industri perikanan," kata Yudo dalam telekonferensi di Jakarta, Senin, 4 Januari 2021.
 
Menurut dia, drone itu bisa dimanfaatkan untuk melihat banyaknya plankton di suatu perairan. Bila kaya akan plankton, perairan itu dipercaya mengandung sumber daya perikanan yang tinggi. Selain itu, drone bisa dimanfaatkan untuk pengeboran minyak.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"(Untuk) pertahanan bisa gunakan melihat kedalaman yang aman bagi kapal selam agar tidak terdeteksi," kata dia.
 
Baca: Pemerintah Diminta Tak Remehkan Penemuan Drone di Sulsel
 
Perwira TNI berbintang empat itu mencontohkan teknologi argo float bisa merekam suhu lautan. Alat itu bekerja dengan melayang di dalam laut yang dikendalikan dari kapal. Alat itu bisa bertahan empat sampai tujuh tahun di perairan. Data argo float bisa diakses melalui internet.
 
"Begitu menuju permukaan, argo float mengirim data-data ke satelit," papar Yudo.
 
Sementara itu, UUV yang ditemukan di perairan Indonesia berupa underwater sea glider. Fungsi alat ini serupa dengan argo float, untuk mengumpulkan data-data di dalam laut. Underwater sea glider dapat bertahan bekerja selama dua tahun di dalam laut.
 
Namun, Yudo belum bisa memastikan siapa pemilik underwater sea glider yang ditemukan di Indonesia. Bila pemilik alat itu sudah dapat dipastikan, misi underwater sea glider masuk ke perairan Indonesia baru bisa diketahui.
 
"Saya tak bisa tentukan siapa pemiliknya karena enggak ada data tulisan di luar (alat)," kata dia.
 
TNI AL, kata dia, masih perlu memeriksa lebih jauh teknologi kemaritiman ini. Yudo bakal berkoodinasi dengan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
 
(OGI)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif