Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto dan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Istimewa.
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto dan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Istimewa.

Dukungan JK Disebut Modal Airlangga untuk Mencari Cawapres

Juven Martua Sitompul • 20 September 2022 02:02
Jakarta: Dukungan Wakil Presiden RI 2014-2019 Jusuf Kalla (JK) ke Ketum Partai Golkar Airlangga Hartarto untuk maju sebagai calon presiden (capres) pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 dinilai positif. Apalagi, keduanya merupakan tokoh Golkar meski JK tak masuk kepengurusan Golkar.
 
"Hal yang bagus-bagus saja jika Pak JK mendukung Pak Airlangga, kenapa? Karena keduanya juga tokoh Golkar, walaupun saat ini tidak masuk kepengurusan. Artinya, keduanya memang dekat. Keduanya memang tokoh Golkar. Oleh karena itu saya melihat hal yang positif jika Pak JK itu mendukung Pak Airlangga," kata Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) Ujang Komarudin kepada wartawan, Jakarta, Senin, 19 September 2022.
 
Ujang mengungkapkan proyeksi nama pendamping sebagai calon wakil presiden (cawapres) ketika Airlangga maju ke Pilpres 2024. Cawapres bisa diambil dari internal Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) atau dari eksternal.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Bisa di internal KIB. Di situ ada Zulhas (Ketum PAN Zulkifli Hasan), kalau Mardiono (Ketum PPP) sulit ya, karena tidak dikenal. Atau dari pihak eksternal KIB," ujarnya.
 
Ujang memandang akan lebih baik jika cawapres yang akan mendampingi Airlangga diambil dari eksternal KIB. Sosok dari eksternal bahkan dianggap lebih mendongkrak elektabilitas.
 
"Jadi kalau skemanya JK mendukung Airlangga dan Airlangga (menjadi) capres di KIB maka cawapres diambil dari eksternal. Bagus-bagus saja cawapres bukan diambil dari internal karena Zulhas tidak mendongkrak elektabilitas Airlangga maka yang mendongkrak adalah dari eksternal," kata dia.
 

Baca: Anies Siap Nyapres, Ini Respons NasDem


Dia berpesan agar cawapres dari eksternal merupakan sosok yang diharapkan bisa mendongrak elektabilitas Airlangga. Menurut dia, ada beberapa nama yang bisa dipertimbangkan seperti Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, dan Menko Polhukam Mahfud MD.
 
"Itu yang bisa mendongkrak KIB atau Airlangga, Ganjar, Khofifah, Mahfud MD. Itu hal positif menurut saya seandainya skema itu terjadi. Karena ini semua masih panjang, masih dinamis, masih terus berjalan sesuai dengan perkembangan dinamika politik yang terjadi ke depan," tegas dia.

Anies Baswedan

Sementara itu, pengamat politik Adi Prayitno mengungkapkan manuver JK yang memberikan dukungan kepada Airlangga sebagai upaya untuk mencari 'teman' bagi Anies Baswedan.
 
"Pak JK selalu dikaitkan, endorse Anies, kenapa enggak berat ke AH (Airlangga Hartarto). Kalau kemudian Pak JK dikaitkan dengan endorse AH itu tidak lepas dari upaya mencarikan mesin politik dan teman bagi Anies Baswedan untuk maju di 2024," kata Adi dihubungi terpisah.
 
Dia menyebut JK sudah lama mengenal Anies bahkan sering disebut sebagai mentornya. Dalam kapasitasnya sebagai sesepuh partai dan king maker, kata dia, JK berharap Anies di-endorse oleh Partai NasDem yang belum tentu bakal berkoalisi dengan PKS maupun Partai Demokrat.
 
"Pak JK sebagai salah satu tokoh senior, king maker, sedang mencari partai dan partner koalisi yang paling mungkin diajak kerja sama," kata pria yang juga menjabat sebagai Direktur Parameter Politik Indonesia (PPI) ini.
 
JK sebelumnya mengaku sering mendapat pertanyaan dari orang-orang terkait dukungannya terhadap bakal capres 2024. Dia memastikan mendukung Airlangga.
 
Adi mengatakan jika akhirnya dua 'favorit' JK itu bersatu maka posisi yang pas adalah Anies-Airlangga. Namun, dia ragu posisi itu terwujud.
 
"Kalau melihat parameter, cocoknya Anies-Airlangga, cuma ya pada level praktis enggak mau Airlangga, bagi Airlangga capres harga mati," tegas Adi.
 
(JMS)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif