Presiden Joko Widodo dan tujuh staf khusus baru dari kalangan milenial. Foto: Medcom.id/Damar Iradat
Presiden Joko Widodo dan tujuh staf khusus baru dari kalangan milenial. Foto: Medcom.id/Damar Iradat

Lagi, Stafsus Jokowi Mundur

Nasional presiden jokowi
Nur Azizah • 24 April 2020 11:54
Jakarta: Setelah Staf Khusus (Stafsus) Presiden Belva Devara, kini giliran stafsus lainnya, Andi Taufan Garuda Putra, yang mengundurkan diri. Hal ini diketahui dari surat terbuka yang dibagikan Andi kepada media.
 
Dari surat terbuka tersebut, ia mengaku telah menyampaikan surat pengunduran diri kepada Presiden Joko Widodo pada Jumat, 17 April 2020. Permintaan pengunduran diri kemudian disetujui Kepala Negara.
 
"Perkenankan saya untuk menyampaikan informasi pengunduran diri saya sebagai staf khusus Presiden Republik Indonesia," kata Andi dalam surat terbukanya, Jakarta, Jumat, 24 April 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Andi mengaku mengundurkan diri lantaran ingin mengabdi secara penuh kepada pemberdayaan ekonomi masyarakat, terutama usaha mikro dan kecil. Dia mengucapkan terima kasih atas kesempatan yang diberikan Jokowi.
 
"Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Bapak Presiden atas kepercayaan, pelajaran dan nilai-nilai yang diberikan selama perjalanan saya sebagai staf khusus presiden," ujar dia.
 
Ia memuji kinerja Presiden. Jokowi, kata dia, pemimpin yang bekerja keras dengan tulus dan penuh dedikasi.
 
"Begitu banyak pelajaran berharga yang saya petik. Saya pun tidak luput dari berbagai kekurangan. Untuk itu, saya sekali lagi mohon maaf dan akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi lebih baik," tulis Andi di akhir surat.
 
Andi Taufan sempat terlibat konflik kepentingan terkait program Desa Lawan Covid-19 yang diinisiasi Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi. Andi menyurati camat di Jawa, Sulawesi, dan Sumatra, agar berkerja sama dengan PT Amartha Mikro Fintek (Amartha).
 
Lagi, Stafsus Jokowi Mundur
Staf Khusus Presiden Andi Taufan Garuda Putra. Dok: Amartha
 
Amartha ialah perusahaan yang Andi pimpin. Dalam surat berkop Sekretariat Kabinet, Andi memposisikan dirinya sebagai staf khusus presiden.
 
Surat yang ditandatangani lantas viral dan menjadi perbincangan publik. Beberapa warganet menganggap tindakan Andi tak pantas. Andi kemudian meminta maaf secara terbuka.
 
"Hal ini akan menjadi pelajaran penting bagi saya sebagai anak muda yang ingin memberikan kontribusi untuk negeri agar tetap mengikuti kaidah aturan dalam sistem birokrasi," kata Andi dalam surat permohonan maafnya di Jakarta, Selasa, 14 April 2020.
 
Namun, di bagian bawah surat tersebut Andi menjelaskan duduk perkaranya. Ia menyampaikan surat itu bersifat pemberitahuan dukungan kepada program Desa Lawan Covid-19 yang diinisiasi Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi.
 
Baca: Stafsus Milenial Dinilai Sedikit Kerja Banyak Kontroversi
 
"Maksud saya ingin berbuat baik dan bergerak cepat untuk membantu mencegah dan menanggulangi covid-19 di desa melalui dukungan secara langsung oleh tim lapangan Amartha yang berada di bawah kepemimpinan saya," ujar dia.
 
Andi menegaskan dukungan itu atas dasar kemanusiaan dari biaya Amartha dan donasi masyarakat. Ia berjanji akan mempertanggungjawabkan dana secara transparan dan akuntabel.
 
"Dukungan yang diberikan dilakukan tanpa menggunakan anggaran negara, baik APBN (anggaran pendapatan dan belanja negara) maupun APBD (anggaran pendapatan dan belanja daerah)," ucap Andi.

 

(OGI)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif